Lelaki Harimau sudah gue nobatkan sebagai buku paling berkesan tahun ini. Pasalnya setelah membaca buku itu, gue mengalami lagi apa yang dinamakan book hang over. Butuh jeda lebih dari dua bulan hingga akhirnya gue bersedia membaca buku lain. Yha, di samping lagi memang ribet ama kuliah juga sih. Namun sesungguhnya Lelaki Harimau bukan satu-satunya buku yang berkesan tahun ini. Ada buku lain yang juga menimbulkan efek samping setelah gue baca: Sputnik Sweetheart.

image

Sekilas Sinopsis
Buku ini gue baca atas rekomendasi Nobi saat kami tamasya ke Penang setahun lalu. Sebelumnya gue pernah baca karya Murakami yang Norwegian Wood. Tapi ya udah, begitu aja. Mungkin karena saat itu baca yang versi terjemahan ke bahasa Indonesia dan gue masih terlalu muda untuk memahami konflik dewasa. Semenjak itu gue belum baca bukunya Murakami lagi hingga dua bulan lalu.

Gue tertarik baca Sputnik Sweetheart karena… judulnya! Haha. Segala hal yang berbau Russia selalu membuat gue tergugah untuk cari tahu lebih lanjut. Termasuk bahasanya yang ekskusif menggunakan jenis aksara berbeda. Kalau cari di Google kata “sputnik”, maka akan keluar  penjelasan mengenai wahana antariksa milik Russia. Tapi kan tidak ada nama yang tidak bermakna ya. Sama seperti halnya kata “sputnik”. Dalam bahasa Russia, “sputnik” memiliki arti teman perjalanan. Travel companion. Gemas ya.

Sputnik Sweetheart ini bercerita tentang persahabatan lelaki berinisial K dan perempuan bernama Sumire. Buku ini diceritakan dari sudut pandang K yang tidak pernah tersebut hingga di bagian akhir siapa nama sebenarnya.

K dan Sumire merupakan dua manusia introvert yang enggan berkawan. Lantas bagaimana mereka berdua bisa akrab? Keduanya diakrabkan karena sama-sama kutu buku. Berkat kesamaan inilah mereka bisa memperbincangkan segala hal. Bahkan bisa dibilang perbincangan keduanya lebih intim daripada orang yang berpacaran. Obrolan mereka bisa seasik itu walaupun waktu sudah menunjukkan dini hari. Tidak jarang pula Sumire random menelpon K di pagi-pagi buta untuk mengajak diskusi meskipun K masih tertidur. Pertanyaan yang dilempar jadi bahan diskusi pun random banget. Semacam, apa sih hasrat seksual itu?

Sumire menyimpan mimpi besar untuk bisa jadi penulis. She is trying so hard to be it. Sampai-sampai ia rela meninggalkan bangku kuliah untuk fokus menjadi penulis. K di sini berperan sebagai pendengar, penasehat, dan penyemangat bagi Sumire yang mati-matian berusaha jadi penulis. Meskipun doyan baca buku juga, kegiatan menulis K hanya sebatas jurnal (yang kebanyakan bercerita tentang Sumire).

Konflik muncul ketika K diam-diam jatuh cinta kepada Sumire. And he has a strong sexual desire for her. K bersusah payah untuk bisa tampil biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Namun apa yang dirasakan K tidak bersambut indah karena Sumire hidup tanpa hasrat seksual.

Hasrat seksual Sumire malah muncul ketika ia berkenalan dengan Miu. Perempuan Korea yang tujuh belas tahun lebih tua darinya dan hidup dalam gelimang harta. Sejak bertemu dengan perempuan inilah Sumire banyak berkontemplasi. Tentang jati dirinya. Tentang hasrat seksualnya. Miu dan Sumire menjadi sangat dekat hingga akhirnya mereka berlibur bersama ke Yunani. Di sanalah Sumire hilang hingga tidak pernah muncul lagi.

Sebagaimana lazimnya novel Murakami, dalam Sputnik Sweetheart banyak sekali metafora digunakan untuk menggambarkan emosi tokoh. Memang butuh penelahahan dan peresapan lebih lanjut kalau mau merasakan bagusnya buku ini. Kadang ada peristiwa yang enggak masuk logika. Tapi justru di situlah Murakami ingin menyampaikan pesan terselubung. Buat gue pribadi, buku ini lebih bisa diterima ketimbang Norwegian Wood. Ehm, mungkin karena faktor usia dan bahasa juga ya jadi udah bisa memahami maksudnya si penulis.

Kalau mau dilanjutkan, gue bisa aja book hang over sehabis baca Sputnik Sweetheart sebagaimana halnya setelah gue baca Lelaki Harimau. Namun saat itu ujian akhir fisika tata surya sudah menanti depan mata. Jadi, suka atau enggak harus kembali ke realita.

Aruanda
Ada satu kebiasaan unik Sumire. Saat ia menyukai satu lagu, Sumire akan mengulang lagu itu terus menerus sampai K pun jadi hafal. Aruanda, yang dipopulerkan oleh penyanyi asal Brazil bernama Astrud Gilberto, menjadi lagu favorit Sumire yang sering dibahas dalam buku ini.

Bagi penikmat Brazilian jazz, nama Astrud Gilberto tentu bukan hal yang asing. Dia adalah legenda jazz tahun 60an yang sejajar dengan Antonio Carlos Jobim dan Joao Gilberto. Gue sendiri berkenalan dengan suara Astrud Gilberto lewat lagu Cricket Sing For Ana Maria. Ia banyak menyanyikan lagu jazz populer namun hanya sedikit yang bisa gue nikmati. Entah, terkadang suaranya terdengar creepy. Febry bilang suaranya kayak kuntilanak. Yoga bilang kalau Astrud Gilberto itu buta nada. Kayak gue kalau nyanyi. Bebas, sob.

Namun ada satu lagunya yang gue suka, jauh sebelum gue baca Sputnik Sweetheart: Aruanda. Yep, samaan kayak Mbak Sumire. Ada masa di mana lagu Aruanda gue dengarkan terus sampai dia masuk ke daftar Top 25 Most Played di iPod. Masa book hang over dari Sputnik Sweetheart cuma bisa gue lampiaskan dengan mendengarkan ulang lagi Aruanda.

Leave my sadness behind me
Let sweet paradise find me
Heaven waits over yonder
Take me to Aruanda
Take me to Aruanda…

Dulu gue suka lagu ini karena cara Astrud melafalkan penggalan lirik di atas terasa menghanyutkan. Saat itu rasanya jadi pengen ikutan ke Aruanda. Meskipun gue clueless Aruanda itu ada di belahan bumi mana. Mungkin di Brazil juga, pikir gue saat itu.

Saat mengalami masa book hang over akibat Sputnik Sweetheart gue jadi menelaah baik-baik lirik lagu tersebut. Dalam liriknya, Aruanda digambarkan sebagai sebuah negeri yang damai. Kesedihan tidak diijinkan untuk hadir di sana. Segala kebutuhan tercukupi. Ada banyak waktu untuk bersantai ria. Negerinya pun kaya. Ibaratnya, Aruanda ini bagai surga dunia. Sampai-sampai sang penyanyi pun ingin dibawa ke Aruanda.

Lantas gue penasaran. Ada di belahan bumi mana sih Aruanda ini?
Menariknya, Aruanda dengan gambarannya seperti lirik di atas hanya ada di dunia imajiner. Ya, dia hanyalah dunia imajiner seperti halnya Shangri La. Hanya saja Shangri La lebih kompleks karena erat kaitannya dengan Shambala yang kental dengan ajaran Buddha dan Hindu. Karena ada ajaran kedua agama tersebut pula banyak orang berbondong-bondong memburu Shangri La di muka bumi.

Setidaknya hingga saat ini ada tiga tempat yang diyakini sebagai Shangri La di muka bumi. Sebuah daerah di Tibet, Pegunungan Kunlun di Cina, dan Puncak Anapurna di Nepal. Tiap bangsa seolah memiliki Shangri La nya masing-masing. Termasuk bangsa barat yang menciptakan Shangri La dalam bentuk hotel.

Bagaimana dengan Aruanda? Adakah sekelompok orang yang berburu Aruanda?
Jawabannya, ada. Mereka adalah sekelompok bangsa Afrika yang terdampar di sisi Brazil.

Apabila mundur kembali ke tahun 1550, ada satu kota di Angola bernama Luanda. Kota tersebut ditemukan oleh seorang penjelajah Portugis bernama Paulo Dias de Novais pada tahun 1557. Penemuan Luanda membuat kota ini menjadi pelabuhan utama dalam pemasokan budak ke Amerika Selatan selama 300 tahun. Di sana orang Afro dikumpulkan dan ditransfer ke berbagai wilayah kolonial Portugis terutama Brazil.

Gambaran sempurna tentang tanah Luanda hanya dimiliki oleh budak generasi pertama. Mereka membayangkan Luanda sebagai sebuah rumah, kebebasan, dan kedamaian. Budak-budak tersebut tentu tidak pernah bisa kembali lagi ke Luanda. Dengan demikian mereka hanya bisa mereka ulang gambaran Luanda untuk diceritakan ke generasi selanjutnya.

Seiring berjalannya waktu, terjadi pegeseran lafal dari Luanda menjadi Aruanda. Bayangan kota Luanda pun juga bergeser menjadi sebuah negeri sempurna bak surga di atas bumi yang mengijinkan penduduknya menkonsumsi kata “kebebasan”.

Tidak banyak literatur yang bercerita tentang Aruanda. Kalaupun ada, kemungkinan besar literatur itu dalam bahasa Portugis. Mungkin juga karena jumlah manusia yang mendambakan Aruanda tidak sebanyak mereka yang berburu Shangri La.

Satu hal yang menarik buat gue adalah kemampuan manusia dalam menciptakan dunia imajiner yang serba sempurna. Negeri itulah yang kelak menjadi tujuan hidup atau bahan buaian belaka. Bukan surga. Namun surga di muka bumi. Mungkin setidaknya dengan demikian surga tersebut terasa lebih realistis. Atau mungkin manusia merasa tidak pantas untuk sebuah surga.

Uniknya, sebuah negeri semacam Aruanda tercipta ketika manusia hidup dalam keadaan serba terhimpit. Seolah tidak ada lagi upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi himpitan tersebut. Maka dari itu negeri khayalan tersebut muncul dalam ketidakberdayaan.

Lantas tersentil lagi di kepala gue. Apakah Indonesia pernah memunculkan negeri khayalan semacam Aruanda atau Shangri La? Ah, tapi kalau menelisik sejarahnya, Indonesia (yang dulu masih Nusantara) kemungkinan besar lebih makmur dan berjaya daripada sekarang. Tapi bisa saja negeri khayalan itu muncul di masa mendatang. Jika daya manusianya sudah benar-benar nihil untuk berbuat sesuatu sehingga yang bisa dilakukan hanyalah berkhayal.

Eh, kok jadi ngelantur sok berat gini omongan gue. Hahaha. Gue cuma takjub dengan adanya negeri-negeri khayalan yang menjadi jembatan antara dunia nyata dan surga. Shangri La dan Aruanda hanya dua negeri khayalan yang gue tahu. Masih ada banyak negeri khayalan lain yang belum sempat sampai ke telinga gue.

Ya, itu yang muncul di benak gue ketika mendengarkan Aruanda. Apa yang ada di benak Sumire ketika mendengarkan ini ya? Hmmm.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s