Bincang Podcast Perdana

Gue enggak pernah percaya diri untuk tampil selain melalui tulisan. Banyak teman yang murka setiap mendengar suara gue di ruang karaoke. Pernah pula gue dirundung saat sekolah karena suara gue yang aneh. Maka menjadi penyanyi, penyiar radio, atau membuat kanal podcast adalah hal yang enggak pernah masuk ke dalam rencana hidup.

Beberapa minggu lalu gue dihubungi teman lama yang sama-sama gemar melancong, Widi, untuk menjadi bintang tamu di kanal podcast-nya.

Hiya hiya hiya.

Rasa takut dan keinginan untuk menolak sempat menguasai. Namun pada akhirnya gue mengiyakan karena ingin tahu bagaimana rasanya melakukan hal yang paling gue takuti dan hindari selama ini: rekaman suara. Kebetulan topik yang diperbincangkan juga menyenangkan jadi pikir gue, siapa tahu gue bisa lebih rileks.

Berhubung Widi adalah pelancong juga, topik perbincangannya juga seputar jalan-jalan. Kali ini gue diminta untuk berbagi cerita tentang perjalanan gue di perbatasan Korea tahun 2016 lalu. Bisa dibilang perjalanan ke Korea Selatan adalah perjalanan gue yang paling berkesan karena untuk pertama kalinya gue melancong sendirian. Sebelum-sebelumnya gue selalu melancong dengan banyak teman dan selalu saja ada drama dalam setiap perjalanan. Begitu akhirnya gue melancong sendirian, wah, saat itu rasanya santai sekali karena tidak perlu berkompromi dengan orang lain. Gue bisa menghabiskan waktu lebih lama di manapun yang gue mau walau hanya sekadar bengong dan menghadap ke laut tanpa gusar karena ada yang teman yang pundung.

Namun pada akhirnya gue menyadari bahwa bagaimanapun juga melancong akan lebih nikmat ketika dilalui bersama orang yang kita cintai. Persis seperti apa yang dibagikan dalam film Into The Wild, happiness is only real when shared.

Selengkapnya tentang cerita perjalanan gue di perbatasan Korea dalam link berikut. Selamat menikmati!

Sponsored Post Learn from the experts: Create a successful blog with our brand new courseThe WordPress.com Blog

WordPress.com is excited to announce our newest offering: a course just for beginning bloggers where you’ll learn everything you need to know about blogging from the most trusted experts in the industry. We have helped millions of blogs get up and running, we know what works, and we want you to to know everything we know. This course provides all the fundamental skills and inspiration you need to get your blog started, an interactive community forum, and content updated annually.

Buku Empat Bintang

Siapa yang mau baca buku jelek? Gue rasa enggak ada. Sama halnya dengan menonton film, kebanyakan pembaca buku juga enggak mau membuang-buang waktu dengan membaca buku yang tidak bagus.

Lalu, bagaimana untuk tahu kalau buku itu bagus atau tidak?

Cara yang paling cepat dan sahih adalah dengan merujuk ke situs web yang ditujukan untuk membuat ulasan. Terdapat lebih dari satu situs web yang memberikan kita gambaran seberapa baik atau buruknya sebuah film. Namun hanya ada satu situs web yang menyediakan informasi baik buruknya sebuah buku: Goodreads.

Gue berkenalan dengan Goodreads sebelas tahun yang lalu. Sejak saat itu juga gue memindahkan kiblat rekomendasi bacaan dari rak buku toko buku terpopuler se-Indonesia raya ke ulasan Goodreads. Selama itu gue merasa baik-baik saja dengan rekomendasi buku dari Goodreads hingga akhirnya menyadari suatu keanehan setelah membaca dua buku dari rekomendasi Goodreads pula.

Dua buku tersebut adalah buku lokal yang diterbitkan oleh penerbit terbesar di Indonesia raya. Keduanya mendapatkan empat bintang dan komentar bombastis dari para pembaca. Kebanyakan dari mereka menyerukan betapa buku yang bersangkutan begitu menggugah dan mengubah hidup mereka. Oke, buku pertama yang berbicara tentang stoisisme memang tidak jelek. Namun rasanya berlebihan jika mendapat predikat sempurna, sebab ada beberapa hal yang cukup janggal dan mengganggu bagi gue. Untuk buku kedua yang berbicara tentang saham, hmm…memberikan tiga bintang pun rasanya gue enggan.

Dua buku tersebut gue baca dalam jangka waktu yang cukup berdekatan. Cukup membingungkan hingga gue jadi kepikiran, kira-kira apa yang membuat seorang pembaca bisa memberikan ulasan bombastis di Goodreads?

Topik kedua buku yang gue sebutkan di atas selama ini tidak lazim dibahas secara popular dalam buku lokal. Bisa jadi, baru sekarang kedua topik tersebut dapat menjangkau pembaca yang lebih luas sehingga mereka yang belum pernah mendengar ide tentang stoisisme dan saham menganggapnya sebagai suatu hal yang wah. 

Bagi mereka yang sebelumnya sudah berkenalan dengan ide tersebut dan menilai buku yang bersangkutan biasa saja (atau bahkan jelek) bisa jadi sudah terlalu malas untuk memberikan ulasan jujur di Goodreads sehingga yang muncul hanyalah ulasan empat bintang ke atas saja.

Kemungkinan terakhir yang mengerikan adalah, mungkin kita sebetulnya kurang banyak membaca buku sehingga langsung-setuju-saja dengan buku apapun yang kita baca, apapun yang ulasannya bagus di Goodreads, apapun yang sedang populer, atau apapun yang nangkring di rak ‘bestseller’ toko buku terpopuler se-Indonesia raya.

Memang acap kali kita jumawa dengan buku bacaan kita yang katanya bagus. Namun bagaimana kita bisa tahu bahwa sebuah buku itu bagus jika selama ini kita hanya membaca buku yang katanya bagus saja? Bagaimana bisa kita bilang bahwa buku itu bagus jika kita tidak pernah tahu seperti apa buku yang jelek?

3 Books Saras Loved in 2019

Ulasan buku ini tidak akan se-fancy ulasan buku yang dibuat Bill Gates meskipun judulnya terinspirasi salah satu judul video Youtube beliau.

Berhubung buku yang gue baca dalam setahun juga tidak sebanyak Bill Gates, maka gue hanya bisa mengulas tiga buku terfavorit dari tiga belas buku yang gue baca di tahun 2019.

1.Goodbye, Things oleh Fumio Sasaki

Rumah tinggal bergaya Jepang identik dengan gaya minimalis. Meski demikian tidak sedikit juga orang Jepang yang terjebak dalam hidup maksimalis (?) karena konsumerisme dan kebiasaan menimbun barang. Dulunya Fumio Sasaki adalah salah satu orang yang menjalani gaya hidup seperti itu hingga akhirnya ia memutuskan menjadi seorang minimalis.

Gue suka banget buku ini karena Sasaki menjelaskan secara rinci tentang mengapa manusia gemar menimbun barang, hubungan sebab-akibat apa yang membuat hidup manusia jadi lebih sulit karena memiliki terlalu banyak barang, dan bagaimana tumpukan barang bisa membuat hidup manusia lebih sulit bergerak maju atau moving forward.

Satu fakta paling menampar yang dibeberkan buku ini adalah ternyata kepemilikan barang merupakan sebuah alat bagi manusia untuk mendapat pengakuan. Contoh, dulu Sasaki ingin diakui sebagai seseorang yang paham segala jenis musik. Maka ia menyimpan banyak CD meski sebetulnya tidak semua CD dapat ia nikmati.

Ada banyak contoh bentuk pengakuan yang secara tidak sadar diinginkan manusia. Padahal betapa melelahkannya hidup jika kebahagiaan kita ditentukan oleh pengakuan orang lain. Perasaan terbebas dari keinginan untuk diakui orang lain itulah salah satu manfaat yang ditawarkan oleh gaya hidup minimalis.

Dalam Goodbye, Things diberikan pula 55 Kiat Berpisah dari Barang yang sangat bermanfaat. Sampai sekarang gue masih membuka kembali buku ini setiap kali merasa bingung, galau, dan kewalahan ketika berberes barang di rumah.

2. An Astronaut’s Guide to Life on Earth oleh Chris Hadfield

Gue baca buku ini lagi untuk kedua kalinya setelah kunjungan ke Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) di musim panas lalu. Dalam buku ini Hadfield lebih banyak bercerita tentang mentalitas seperti apa yang perlu dimiliki seorang astronot.

Misi ruang angkasa adalah perjalanan yang beresiko tinggi. Maka segala hal harus dipersiapkan jauh-jauh hari dengan mendekati sempurna. Sebelum meluncur ke ruang angkasa, para astronot melewati tahap pelatihan intensif dalam waktu beberapa tahun di mana sebagian besar latihan adalah melakukan banyak macam simulasi. Baik simulasi di dalam roket, ataupun simulasi di berbagai lingkungan ekstrim.

Menariknya adalah selama melalui simulasi, astronot dituntut untuk memikirkan kemungkinan terburuk apa yang akan terjadi dalam kondisi bersangkutan. What’s the next thing that could kill me? Begitu Hadfield menggambarkan pola pikir yang ditanamkan para astronot selama persiapan.

Memikirkan hal terburuk di sini tidak sama dengan berpikir negatif. Sebab berpikir negatif adalah tindakan spontan yang mengawang-ngawang, sedangkan memikirkan skenario terburuk dilakukan secara sadar dan diikuti dengan solusi sebagai langkah antisipasi. Maka dengan demikian astronot akan lebih siap apabila kondisi buruk tersebut betul terjadi ketika misi berlangsung. Pola pikir antisipatif ini sepertinya cocok juga diterapkan oleh orang-orang overthinking supaya kebiasaan mereka dalam berpikir pahit bisa lebih berguna.

Hadfield tiga kali melakukan misi ke luar angkasa selama 20 tahun berkarir sebagai astronot. Secara perhitungan hari, ia lebih banyak menghabiskan waktu di Bumi ketimbang di luar angkasa. Banyak yang mempertanyakan apakah ia sedih ketika misi terakhirnya selesai. Menurutnya, jika ia hanya memperhitungkan karirnya sebagai astronot ketika di luar angkasa, maka hari-harinya sebagai astronot selama di Bumi akan terasa sia-sia. Padahal ia menikmati setiap momen dan pencapaian hidup yang dilalui selama di Bumi. Sekalipun hal tersebut tidak berhubungan dengan karir astronotnya dan sesederhana bermain Scrabble secara daring bersama anak perempuannya.

Dari memoar Hadfield ini gue menyadari bahwa astronot adalah profesi yang menuntut kesempurnaan dari segala hal. Tidak cukup sempurna dalam kecerdasan, kesehatan fisik, dan kesehatan mental. Namun juga kemampuan mumpuni untuk menikmati apa yang terjadi saat ini (enjoying the present).

3. Destiny Disrupted: A History of the World Through Islamic Eyes oleh Tamim Ansary

Isu SARA yang belakangan sering digoreng warganet sampai matang semua orang kepanasan membawa gue ke sini. Meskipun motivasi utama buku ini adalah memberikan gambaran paralel sejarah peradaban dunia yang dimulai dari 664 Masehi atau tahun nol Hijryah.

Gue sangat menikmati alur sejarah peradaban dunia yang dikemas Tamim Ansary. Rasanya seperti baca Harry Potter atau seri Gadjah Mada. Hanya saja lokasinya di Timur Tengah.

Pada bagian pembukaan dijelaskan terlebih dahulu kenapa jazirah Arab disebut sebagai Timur Tengah. Kemudian pembahasan sejarah dimulai dari peristiwa hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah, masa kekhalifahan, Konstantinopel, bagaimana kontak pertama peradaban Islam di Turki dengan peradaban Barat, peradaban Cina, dan bagaimana interaksi mereka sampai saat ini di abad 21. Gue bisa bilang kalau baca buku sejarah ini seperti membaca novel karena tidak melulu pembaca dicekoki fakta-fakta sejarah. Dijelaskan pula intrik politik dari masing-masing sistem pemerintahan yang berlangsung.

Menarik, sebab meskipun Tamim Ansary adalah seorang Muslim dan buku ini mengambil sudut pandang dari peradaban Islam, penulis tidak melulu membahas sisi positif peradaban Islam tersebut. Tamim Ansary membahas pula secara adil dan komprehensif tentang kekurangan dari setiap masa pemerintahan dan kenapa bisa terjadi kemunduran pada umat Islam setelah melewati beberapa masa keemasan.

Di samping penjelasan sejarah peradaban, buku ini juga menjelaskan dengan baik tentang Islam itu sendiri. Juga menjelaskan dengan baik awal mula beragamnya ajaran Islam. Pembaca bisa mengetahui apa yang membedakan aliran Sunni, Syiah, sufi, dan bagaimana perkembangan zaman serta pergolakan politik mempengaruhi perkembangan aliran Islam. Perkembangan aliran ya, bukan ajarannya.

Dengan mengenal sejarah peradaban dunia beserta akar masalah dan penyebabnya (yang sebetulnya itu-itu saja dari masa ke masa), gue pribadi jadi lebih bisa chill dengan gonjang ganjing berita enggak enak yang menggoreng isu SARA.

Sekian ulasan buku terfavorit di tahun 2019. Selamat tahun baru! Semoga setahun ke depan kita tidak lelah untuk terus iqra.