3 Books Saras Loved in 2019

Ulasan buku ini tidak akan se-fancy ulasan buku yang dibuat Bill Gates meskipun judulnya terinspirasi salah satu judul video Youtube beliau.

Berhubung buku yang gue baca dalam setahun juga tidak sebanyak Bill Gates, maka gue hanya bisa mengulas tiga buku terfavorit dari tiga belas buku yang gue baca di tahun 2019.

1.Goodbye, Things oleh Fumio Sasaki

Rumah tinggal bergaya Jepang identik dengan gaya minimalis. Meski demikian tidak sedikit juga orang Jepang yang terjebak dalam hidup maksimalis (?) karena konsumerisme dan kebiasaan menimbun barang. Dulunya Fumio Sasaki adalah salah satu orang yang menjalani gaya hidup seperti itu hingga akhirnya ia memutuskan menjadi seorang minimalis.

Gue suka banget buku ini karena Sasaki menjelaskan secara rinci tentang mengapa manusia gemar menimbun barang, hubungan sebab-akibat apa yang membuat hidup manusia jadi lebih sulit karena memiliki terlalu banyak barang, dan bagaimana tumpukan barang bisa membuat hidup manusia lebih sulit bergerak maju atau moving forward.

Satu fakta paling menampar yang dibeberkan buku ini adalah ternyata kepemilikan barang merupakan sebuah alat bagi manusia untuk mendapat pengakuan. Contoh, dulu Sasaki ingin diakui sebagai seseorang yang paham segala jenis musik. Maka ia menyimpan banyak CD meski sebetulnya tidak semua CD dapat ia nikmati.

Ada banyak contoh bentuk pengakuan yang secara tidak sadar diinginkan manusia. Padahal betapa melelahkannya hidup jika kebahagiaan kita ditentukan oleh pengakuan orang lain. Perasaan terbebas dari keinginan untuk diakui orang lain itulah salah satu manfaat yang ditawarkan oleh gaya hidup minimalis.

Dalam Goodbye, Things diberikan pula 55 Kiat Berpisah dari Barang yang sangat bermanfaat. Sampai sekarang gue masih membuka kembali buku ini setiap kali merasa bingung, galau, dan kewalahan ketika berberes barang di rumah.

2. An Astronaut’s Guide to Life on Earth oleh Chris Hadfield

Gue baca buku ini lagi untuk kedua kalinya setelah kunjungan ke Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) di musim panas lalu. Dalam buku ini Hadfield lebih banyak bercerita tentang mentalitas seperti apa yang perlu dimiliki seorang astronot.

Misi ruang angkasa adalah perjalanan yang beresiko tinggi. Maka segala hal harus dipersiapkan jauh-jauh hari dengan mendekati sempurna. Sebelum meluncur ke ruang angkasa, para astronot melewati tahap pelatihan intensif dalam waktu beberapa tahun di mana sebagian besar latihan adalah melakukan banyak macam simulasi. Baik simulasi di dalam roket, ataupun simulasi di berbagai lingkungan ekstrim.

Menariknya adalah selama melalui simulasi, astronot dituntut untuk memikirkan kemungkinan terburuk apa yang akan terjadi dalam kondisi bersangkutan. What’s the next thing that could kill me? Begitu Hadfield menggambarkan pola pikir yang ditanamkan para astronot selama persiapan.

Memikirkan hal terburuk di sini tidak sama dengan berpikir negatif. Sebab berpikir negatif adalah tindakan spontan yang mengawang-ngawang, sedangkan memikirkan skenario terburuk dilakukan secara sadar dan diikuti dengan solusi sebagai langkah antisipasi. Maka dengan demikian astronot akan lebih siap apabila kondisi buruk tersebut betul terjadi ketika misi berlangsung. Pola pikir antisipatif ini sepertinya cocok juga diterapkan oleh orang-orang overthinking supaya kebiasaan mereka dalam berpikir pahit bisa lebih berguna.

Hadfield tiga kali melakukan misi ke luar angkasa selama 20 tahun berkarir sebagai astronot. Secara perhitungan hari, ia lebih banyak menghabiskan waktu di Bumi ketimbang di luar angkasa. Banyak yang mempertanyakan apakah ia sedih ketika misi terakhirnya selesai. Menurutnya, jika ia hanya memperhitungkan karirnya sebagai astronot ketika di luar angkasa, maka hari-harinya sebagai astronot selama di Bumi akan terasa sia-sia. Padahal ia menikmati setiap momen dan pencapaian hidup yang dilalui selama di Bumi. Sekalipun hal tersebut tidak berhubungan dengan karir astronotnya dan sesederhana bermain Scrabble secara daring bersama anak perempuannya.

Dari memoar Hadfield ini gue menyadari bahwa astronot adalah profesi yang menuntut kesempurnaan dari segala hal. Tidak cukup sempurna dalam kecerdasan, kesehatan fisik, dan kesehatan mental. Namun juga kemampuan mumpuni untuk menikmati apa yang terjadi saat ini (enjoying the present).

3. Destiny Disrupted: A History of the World Through Islamic Eyes oleh Tamim Ansary

Isu SARA yang belakangan sering digoreng warganet sampai matang semua orang kepanasan membawa gue ke sini. Meskipun motivasi utama buku ini adalah memberikan gambaran paralel sejarah peradaban dunia yang dimulai dari 664 Masehi atau tahun nol Hijryah.

Gue sangat menikmati alur sejarah peradaban dunia yang dikemas Tamim Ansary. Rasanya seperti baca Harry Potter atau seri Gadjah Mada. Hanya saja lokasinya di Timur Tengah.

Pada bagian pembukaan dijelaskan terlebih dahulu kenapa jazirah Arab disebut sebagai Timur Tengah. Kemudian pembahasan sejarah dimulai dari peristiwa hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah, masa kekhalifahan, Konstantinopel, bagaimana kontak pertama peradaban Islam di Turki dengan peradaban Barat, peradaban Cina, dan bagaimana interaksi mereka sampai saat ini di abad 21. Gue bisa bilang kalau baca buku sejarah ini seperti membaca novel karena tidak melulu pembaca dicekoki fakta-fakta sejarah. Dijelaskan pula intrik politik dari masing-masing sistem pemerintahan yang berlangsung.

Menarik, sebab meskipun Tamim Ansary adalah seorang Muslim dan buku ini mengambil sudut pandang dari peradaban Islam, penulis tidak melulu membahas sisi positif peradaban Islam tersebut. Tamim Ansary membahas pula secara adil dan komprehensif tentang kekurangan dari setiap masa pemerintahan dan kenapa bisa terjadi kemunduran pada umat Islam setelah melewati beberapa masa keemasan.

Di samping penjelasan sejarah peradaban, buku ini juga menjelaskan dengan baik tentang Islam itu sendiri. Juga menjelaskan dengan baik awal mula beragamnya ajaran Islam. Pembaca bisa mengetahui apa yang membedakan aliran Sunni, Syiah, sufi, dan bagaimana perkembangan zaman serta pergolakan politik mempengaruhi perkembangan aliran Islam. Perkembangan aliran ya, bukan ajarannya.

Dengan mengenal sejarah peradaban dunia beserta akar masalah dan penyebabnya (yang sebetulnya itu-itu saja dari masa ke masa), gue pribadi jadi lebih bisa chill dengan gonjang ganjing berita enggak enak yang menggoreng isu SARA.

Sekian ulasan buku terfavorit di tahun 2019. Selamat tahun baru! Semoga setahun ke depan kita tidak lelah untuk terus iqra.