Pulau Jawa, Hindia Belanda, dan Sains Tahun 1920an

Ini kali pertama gue membaca catatan perjalanan jadul secara paripurna. Pernah gue  membaca catatan perjalanan orang-orang yang singgah di Singapura tahun 1800an. Namun cuma sepotong-sepotong dan itu pun dari kacamata seorang pelancong atau pewarta. Sudut pandang yang cukup lumrah untuk sebuah catatan perjalanan. Catatan perjalanan kali ini cukup menarik karena diceritakan dari kacamata seorang saintis Jepang yang menelusuri pulau Jawa di tahun 1920an seperti yang sempat gue bahas sebelumnya di sini.

Marquis Tokugawa dua kali melakukan perjalanan di pulau Jawa. Pertama di tahun 1921 untuk sekadar tamasya dan kedua pada tahun 1929 dengan tujuan yang lebih spesifik: menghadiri Fourth Pacific Science Congress. Banyak perpesktif baru yang gue dapatkan dari buku ini. Khususnya tentang sains dan Indonesia (Hindia Belanda sih waktu itu) di tahun 1920an.

img_0480

Gue tidak menyangka bahwa bentukan kongres dan konferensi saintifik ternyata ya sudah begitu dari tahun 1920an: saintis dari berbagai penjuru dunia datang ke satu tempat lalu mempresentasikan penelitian teranyarnya, diskusi, dan tidak lupa ekskursi! Bahkan kongres yang dihadiri Tokugawa pada saat itu memungkinkan para peserta melakukan ekskursi hingga ke Yogyakarta meski acara berlangsung di Bandung dan Batavia.

Hanya saja para peserta kongres dari negara lain tiba di Batavia menggunakan kapal laut. Kondisi ini memberikan cerita lain tentang bagaimana saintis membunuh rasa bosannya saat harus mengarungi lautan berhari-hari. Tanpa gawai dan tanpa media sosial, para saintis membunuh rasa bosan dengan berdiskusi tentang berbagai temuan saintifik di atas kapal. Atau sekadar merenung dan mencerna fenomena alam secara saintifik (tentunya). Sungguh perjalanan yang berkualitas. Mungkin tidak adanya gawai dan media sosial pada periode waktu tersebut membuat manusia lebih produktif dan tidak malas berpikir.

Dari catatan perjalanan ini pula sedikit banyak gue paham dengan maksud dari ungkapan ‘belum merdeka’ atau ‘masih dijajah’. Lewat pengamatan selayang pandang, mereka yang menguasai kota dan perputaran ekonomi saat itu ya orang Belanda, orang Jepang, atau pendatang lainnya dari negara lain. Setiap kali orang pribumi disebut dalam buku ini pastilah ia seorang jongos. Terdengar kurang nyaman memang. Namun seperti itulah orang pribumi disebutkan dalam buku ini. Kalau tidak jadi jongos di kapal, ya jadi jongos di hotel. Atau dideskripsikan dengan pekerjaan lain seperti buruh atau pedagang kaki lima. Kalaupun ada orang pribumi yang berada dan terpandang, pastilah mereka anggota kerajaan yang amat disegani oleh para pendatang.

Pada periode waktu ini bisa dikatakan Hindia Belanda sedang pada masa kejayaannya perihal produktifitas penelitian. Pemerintah Hindia Belanda membangun Technische Hogeschool Bandoeng (sekarang Institut Teknologi Bandung) dan Buitenzorg Botanical Garden (sekarang Kebun Raya Bogor). Dalam buku ini disebutkan bahwa Buitenzorg Botanical Garden saat itu memiliki fasilitas yang terbilang mewah dan amat lengkap sehingga penulis pun cukup terkesima ketika berkunjung ke sana.

Sebagai seorang ahli kehutanan, Tokugawa tidak berkomentar banyak tentang  Technische Hogeschool Bandoeng (THB) selain pengalamannya saat mengikuti kongres di sana dan arsitektur bangunan khas THB. Namun sepengetahuan gue pribadi, THB saat itu juga sedang maju-majunya dalam penelitian sinar kosmis dan ada beberapa orang pribumi yang ikut terlibat sebagai peneliti.

Banyak tempat yang gue pikir baru lahir setelah dialih fungsi pasca kemerdekaan, namun ternyata sudah ada dari 1920an tanpa mengubah fungsi asalnya. Sebut saja Museum Nasional dan Museum Zoologi Bogor yang memang sudah menjadi museum sejak awal berdiri. Menarik, karena sebagian besar peninggalan pemerintah Hindia Belanda yang disebut dalam buku ini telah diambil alih oleh Indonesia pasca kemerdekaan dan masih dioperasikan sesuai fungsi asalnya hingga saat ini.

Mengutip kata Dhimaz, mungkin dulu pemerintah Hindia Belanda membangun segala institusi tersebut secara jorjoran tanpa berpikir bahwa suatu hari Indonesia mampu memerdekakan diri dan mengambil alih segalanya. Lantas gue bertanya-tanya, apa iya bakal ada kampus sekelas UI, ITB, dan IPB, juga fasilitas mewah lain semacam Kebun Raya Bogor beserta museum-museum tersebut jika tidak pernah dimulai oleh bangsa Belanda? Hmmm…

Ketika Saintis Tamasya

Journeys to Java merupakan catatan perjalanan seorang ahli kehutanan asal Jepang bernama Marquis Tokugawa ketika menghadiri Fourth Pacific Science Congress di Batavia (Jakarta) dan Bandung, Jawa Barat, pada tahun 1929. Setelah menghadiri kongres tersebut Tokugawa berkelana keliling Pulau Jawa hingga sempat bertamu ke Keraton Soesoehoenan, Solo. Buku ini diterjemahkan sendiri oleh cucu dari sang penulis. Pada bagian pendahuluan sedikit banyak dijelaskan latar belakang sejarah Indonesia, Jepang, dan kondisi Eropa secara umum pada kurun waktu 1920an.

Dari bagian pendahuluan ini ada dua hal menarik yang perlu gue catat dan bagikan. Pertama, nama Marquis Tokugawa itu sendiri. Jika kita membaca nama akhir penulis, tentu kita akan yakin bahwa penulis adalah orang Jepang. Namun Marquis? Marquis jelas bukanlah nama Jepang, melainkan sebuah gelar bagi keturunan bangsawan. Kurang lebih kedudukannya sama seperti Jawa priyayi. Meski gelar Marquis berasal dari Eropa, namun gelar tersebut lazim juga dipakai oleh bangsawan Cina dan Jepang.

Marquis Tokugawa banyak menghibahkan harta kekayaannya demi kemaslahatan sains seperti membangun The Tokugawa Institute for the History of Forestry (1918) dan The Tokugawa Art Museum (1931). Menariknya adalah Tokugawa hanyalah saintis yang kaya, bukan orang pemerintahan. Namun ia punya wewenang untuk membuka institusi privat.

Kedua, catatan perjalanan ini ditulis dari sudut pandang ilmuwan. Bukan seorang wartawan atau politisi. Beberapa kali ditekankan secara gamblang bahwa kalangan saintis tidak peduli, juga enggan berkomentar tentang perpolitikan yang sedang bergejolak pada masa kolonial.

“Such people (called scientist) having their own research discipline, do not mind others.”

“Those elite scientists were not just easy-going but high-minded people who were ‘prepared and willing to discuss and solve problems, standing aloof from politics and free from national chauvinism and other more or less egoistical motives’.”

Landasan karakter seperti itu membuat mereka mampu memberikan penilaian terhadap sebuah fenomena dengan lebih objektif dan logis.

unnamed

Belum pantas jika gue mengklaim diri sendiri sebagai saintis. Namun beberapa kali gue pergi bersama teman-teman dari sesama komunitas sains. Dan ya, rasanya lebih menyenangkan ketika saat bertamasya turut memikirkan aspek saintifik seperti dalam kutipan di atas.

Sebuah Refleksi Tentang Jalan-Jalan

“Kamu ngapain jalan-jalan bawa bendera?”

“Buat foto-foto lah, Bu.”

Percakapan di atas terjadi ketika nyokap keheranan mendapati jemuran bendera merah putih setelah gue kembali dari Yogyakarta di tahun 2010. Sewindu lalu boleh jadi Instagram belum lahir. Namun kami, Genggong 13, kerap bertamasya saat liburan supaya bisa foto-foto dan dipamerkan di Facebook.

Salah satu persiapan yang kami lakukan sebelum berangkat adalah konsep foto sehingga kami tahu baju kostum apa yang harus dibawa. Gue sendiri bukan orang yang doyan belanja baju. Apalagi dulu masih mahasiswi kinyis-kinyis. Mana punya duit buat belanja baju seenak jidat. Namun gue hampir selalu membeli baju sebelum gue berangkat tamasya demi foto liburan yang paripurna.

Alhasil atas nama foto yang paripurna, kami membawa setumpuk baju (yang pada akhirnya tidak terpakai semua), sekotak kalung serta aksesori lain, dan beberapa sepatu. Agak ribet ya untuk pelancong kasta mahasiswa. Tapi dulu kami sanggup (dan rela) melakukan itu semua.

Faktor lain yang memotivasi kami tamasya untuk foto-foto adalah karena dua teman kami, Febry dan Eji, punya kamera DSLR dan prosumer yang mana itu adalah barang mewah pada masanya. Dengan modal nekat, kamera canggih, dan baju kostum, kami menghasilkan foto seperti ini. Setelah lebih dari sembilan tahun berlalu gue pun heran, kok bisa-bisanya kelakuan begini amat?!

1910493_1175851911812_1008516_n
Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, 2009.

Tamasya dengan kebiasaan seperti itu terus kami lakukan. Tanpa disadari barang bawaan kami semakin diperingkas sebab kami akhirnya mulai menggunakan carrier. Prinsip baju harus matching dengan destinasi tujuan sih tetap dipegang teguh dan haram hukumnya untuk dilanggar. Namun pakaian yang dibawa kini masuk ke kategori baju. Bukan kostum.

Seiring berjalannya waktu gue tiba pada satu titik di mana gue sadar, kok selama gue jalan-jalan cuma dapat foto saja ya? Saat itu rasanya bagai tenggelam dalam kubangan penyesalan ketika sadar bahwa gue enggak tahu banyak tentang sejarah, masyarakat, dan kearifan lokal dari tempat yang telah gue datangi.

Dari situ gue mulai membaca buku sejarah tentang tempat yang akan gue datangi. Baik sebelum berangkat atau selama di perjalanan. Gue selalu menyempatkan berkunjung ke museum dan rela bayar lebih untuk sewa pemandu lokal atau pemandu otomatis. Pada fase ini baju yang gue bawa sudah jauh lebih normal. Gue tidak lagi membawa setengah isi lemari baju beserta empat jenis sepatu. Gue pakai apa yang membuat gue nyaman namun harus tetap terlihat kece.

Tanpa disadari prioritas foto-foto mulai tergeser meski Instagram sudah lahir dan saat itu pula sebetulnya gue sudah punya kamera DSLR. Namun rasanya lelah dan kesal sendiri ketika gue harus menggunakan DSLR untuk bernarsis ria. Dari situ gue sadar bahwasanya kamera DSLR lebih nikmat digunakan untuk berburu foto dengan serius.

Lalu lama kelamaan gue lelah sendiri membawa kamera DSLR. Berat dan makan tempat. Terlebih ada rasa tidak aman setiap kali gue mengeluarkan kamera DSLR di tempat-tempat rawan seperti saat gue di India. Rasa tidak aman itu sering kali mengalahkan ego untuk mengabadikan momen yang gue lewati. Alhasil gue hanya menghasilkan sedikit sekali foto dari perjalanan di India.

Kurang lebih itu yang gue alami dari perjalanan pertama ke Dataran Tinggi Dieng hingga perjalanan ke India sebagai perayaan kelulusan. Kemudian gue memasuki kehidupan pasca kampus. Pada fase ini motivasi gue melancong adalah untuk mengalihkan pikiran dari masalah alias kabur. Namun setelah gue kembali dari melancong ternyata masalah itu tetap ada dan tidak terselesaikan. Lantas gue kumpulkan uang lagi, pergi lagi, dan begitu seterusnya. Bisa dikatakan fase ini adalah fase jibun sagashi (自分探し) alias pencarian jati diri. Bagi orang barat fase ini disebut juga sebagai quarter life crisis.

Bukan berarti gue tidak menikmati perjalanan selama ‘kabur’. Gue tetap antusias, deg deg serr, dan norak saat tiba di tempat yang ingin gue kunjungi sejak lama. Pada fase ini gue lebih rajin unggah foto perjalanan di Instagram. Namun sesungguhnya keinginan gue untuk foto-foto semakin menurun secara eksponensial. Pernah ketika ke Korea Selatan gue membawa kamera DSLR dan akhirnya hanya gue tinggal di dalam loker hostel. Kamera ponsel dan GoPro sudah lebih dari cukup buat gue. Sejak saat itu gue tidak pernah lagi membawa kamera DSLR saat bepergian. Kecuali jika tujuan gue pergi adalah untuk berburu foto.

Prinsip foto yang gue anut saat ini adalah, ya udah yang penting ada muka gue. Titik. Tidak ada lagi sesi pemotretan seperti dulu saat bersama Genggong 13. Waktu gue tidak habis di satu titik hanya untuk berfoto-foto saja. Apalagi pakai acara bawa-bawa kostum dan menahan rasa dingin di tengah hutan dengan baju mini demi sebuah foto yang ciamik. Gue sudah nyaman bepergian dengan pakaian normal dan berfoto selfie saja atau minta tolong difotokan orang lain.

DCIM134GOPRO
Busan, Korea Selatan, 2016.

Setelah itu gue memasuki fase di mana gue tidak lagi menggunakan Instagram. Kalau gue jabarkan apa alasannya mungkin akan jadi satu tulisan sendiri. Intinya, gue ingin mereduksi masuknya informasi tidak penting ke kepala gue. Hingga saat ini sudah setahun lebih gue tidak lagi menggunakan Instagram. Banyak yang heran dan bertanya-tanya bagaimana rasanya enggak main Instagram lagi? Percuma dong pergi jauh-jauh tapi fotonya enggak dipamerkan?

Rasanya enggak main Instagram lagi? Enak. Sungguh. Gue tidak perlu pengakuan orang lain atas kebahagiaan gue atau membuat konten bahagia yang dibuat-buat di saat gue sebetulnya sedang merana di dunia nyata. Perkara enggak pamerkan foto? Bodo amat. Bahkan ternyata gue jauh lebih bisa menikmati perjalanan yang gue lalui tanpa repot-repot mengambil foto yang Instagram-able. Gue juga tidak perlu pusing-pusing memikirkan judul foto dan mengecek ponsel tiap 15 menit sekali untuk lihat sudah berapa banyak yang like unggahan gue. Jauh lebih disayangkan ketika gue harus kehilangan momen dan pelajaran ketimbang tidak memamerkan foto liburan di Instagram.

Photo 8-2-18, 5 58 42 PM
Quy Nhon, Vietnam, 2018

Itu yang gue rasakan saat ke Vietnam dua minggu yang lalu. Gue pergi sendirian untuk summer school dan untuk pertama kalinya gue pergi sebagai perempuan berhijab. Meski sendirian, gue tidak pernah kesepian. Gue mendapatkan banyak teman baru yang begitu hangat, menyenangkan, dan memberikan gue banyak pelajaran dari segala perbincangan tentang berbagai topik. Gue tidak berhasrat untuk banyak mengabadikan momen selama di Vietnam sekali pun dengan kamera ponsel. Sebab gue ingin menikmati setiap momen yang terjadi pada saat itu. Titik.

Dari perjalanan ke Vietnam kemarin gue sadar bahwa memang ada kalanya kita butuh rehat sejenak. Bukan untuk sekadar foto-foto. Namun untuk merenung, berpikir, dan belajar hal baru lewat berteman dengan orang baru dan betul-betul mengenali tempat yang kita sambangi. Dan alangkah baiknya jika semua pelajaran yang didapat itu diterapkan dalam menjalani kehidupan di dunia nyata. Ya, gue rasa itulah tujuan hakiki dari traveling.