Sebuah Refleksi Tentang Jalan-Jalan

“Kamu ngapain jalan-jalan bawa bendera?”

“Buat foto-foto lah, Bu.”

Percakapan di atas terjadi ketika nyokap keheranan mendapati jemuran bendera merah putih setelah gue kembali dari Yogyakarta di tahun 2010. Sewindu lalu boleh jadi Instagram belum lahir. Namun kami, Genggong 13, kerap bertamasya saat liburan supaya bisa foto-foto dan dipamerkan di Facebook.

Salah satu persiapan yang kami lakukan sebelum berangkat adalah konsep foto sehingga kami tahu baju kostum apa yang harus dibawa. Gue sendiri bukan orang yang doyan belanja baju. Apalagi dulu masih mahasiswi kinyis-kinyis. Mana punya duit buat belanja baju seenak jidat. Namun gue hampir selalu membeli baju sebelum gue berangkat tamasya demi foto liburan yang paripurna.

Alhasil atas nama foto yang paripurna, kami membawa setumpuk baju (yang pada akhirnya tidak terpakai semua), sekotak kalung serta aksesori lain, dan beberapa sepatu. Agak ribet ya untuk pelancong kasta mahasiswa. Tapi dulu kami sanggup (dan rela) melakukan itu semua.

Faktor lain yang memotivasi kami tamasya untuk foto-foto adalah karena dua teman kami, Febry dan Eji, punya kamera DSLR dan prosumer yang mana itu adalah barang mewah pada masanya. Dengan modal nekat, kamera canggih, dan baju kostum, kami menghasilkan foto seperti ini. Setelah lebih dari sembilan tahun berlalu gue pun heran, kok bisa-bisanya kelakuan begini amat?!

1910493_1175851911812_1008516_n
Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, 2009.

Tamasya dengan kebiasaan seperti itu terus kami lakukan. Tanpa disadari barang bawaan kami semakin diperingkas sebab kami akhirnya mulai menggunakan carrier. Prinsip baju harus matching dengan destinasi tujuan sih tetap dipegang teguh dan haram hukumnya untuk dilanggar. Namun pakaian yang dibawa kini masuk ke kategori baju. Bukan kostum.

Seiring berjalannya waktu gue tiba pada satu titik di mana gue sadar, kok selama gue jalan-jalan cuma dapat foto saja ya? Saat itu rasanya bagai tenggelam dalam kubangan penyesalan ketika sadar bahwa gue enggak tahu banyak tentang sejarah, masyarakat, dan kearifan lokal dari tempat yang telah gue datangi.

Dari situ gue mulai membaca buku sejarah tentang tempat yang akan gue datangi. Baik sebelum berangkat atau selama di perjalanan. Gue selalu menyempatkan berkunjung ke museum dan rela bayar lebih untuk sewa pemandu lokal atau pemandu otomatis. Pada fase ini baju yang gue bawa sudah jauh lebih normal. Gue tidak lagi membawa setengah isi lemari baju beserta empat jenis sepatu. Gue pakai apa yang membuat gue nyaman namun harus tetap terlihat kece.

Tanpa disadari prioritas foto-foto mulai tergeser meski Instagram sudah lahir dan saat itu pula sebetulnya gue sudah punya kamera DSLR. Namun rasanya lelah dan kesal sendiri ketika gue harus menggunakan DSLR untuk bernarsis ria. Dari situ gue sadar bahwasanya kamera DSLR lebih nikmat digunakan untuk berburu foto dengan serius.

Lalu lama kelamaan gue lelah sendiri membawa kamera DSLR. Berat dan makan tempat. Terlebih ada rasa tidak aman setiap kali gue mengeluarkan kamera DSLR di tempat-tempat rawan seperti saat gue di India. Rasa tidak aman itu sering kali mengalahkan ego untuk mengabadikan momen yang gue lewati. Alhasil gue hanya menghasilkan sedikit sekali foto dari perjalanan di India.

Kurang lebih itu yang gue alami dari perjalanan pertama ke Dataran Tinggi Dieng hingga perjalanan ke India sebagai perayaan kelulusan. Kemudian gue memasuki kehidupan pasca kampus. Pada fase ini motivasi gue melancong adalah untuk mengalihkan pikiran dari masalah alias kabur. Namun setelah gue kembali dari melancong ternyata masalah itu tetap ada dan tidak terselesaikan. Lantas gue kumpulkan uang lagi, pergi lagi, dan begitu seterusnya. Bisa dikatakan fase ini adalah fase jibun sagashi (自分探し) alias pencarian jati diri. Bagi orang barat fase ini disebut juga sebagai quarter life crisis.

Bukan berarti gue tidak menikmati perjalanan selama ‘kabur’. Gue tetap antusias, deg deg serr, dan norak saat tiba di tempat yang ingin gue kunjungi sejak lama. Pada fase ini gue lebih rajin unggah foto perjalanan di Instagram. Namun sesungguhnya keinginan gue untuk foto-foto semakin menurun secara eksponensial. Pernah ketika ke Korea Selatan gue membawa kamera DSLR dan akhirnya hanya gue tinggal di dalam loker hostel. Kamera ponsel dan GoPro sudah lebih dari cukup buat gue. Sejak saat itu gue tidak pernah lagi membawa kamera DSLR saat bepergian. Kecuali jika tujuan gue pergi adalah untuk berburu foto.

Prinsip foto yang gue anut saat ini adalah, ya udah yang penting ada muka gue. Titik. Tidak ada lagi sesi pemotretan seperti dulu saat bersama Genggong 13. Waktu gue tidak habis di satu titik hanya untuk berfoto-foto saja. Apalagi pakai acara bawa-bawa kostum dan menahan rasa dingin di tengah hutan dengan baju mini demi sebuah foto yang ciamik. Gue sudah nyaman bepergian dengan pakaian normal dan berfoto selfie saja atau minta tolong difotokan orang lain.

DCIM134GOPRO
Busan, Korea Selatan, 2016.

Setelah itu gue memasuki fase di mana gue tidak lagi menggunakan Instagram. Kalau gue jabarkan apa alasannya mungkin akan jadi satu tulisan sendiri. Intinya, gue ingin mereduksi masuknya informasi tidak penting ke kepala gue. Hingga saat ini sudah setahun lebih gue tidak lagi menggunakan Instagram. Banyak yang heran dan bertanya-tanya bagaimana rasanya enggak main Instagram lagi? Percuma dong pergi jauh-jauh tapi fotonya enggak dipamerkan?

Rasanya enggak main Instagram lagi? Enak. Sungguh. Gue tidak perlu pengakuan orang lain atas kebahagiaan gue atau membuat konten bahagia yang dibuat-buat di saat gue sebetulnya sedang merana di dunia nyata. Perkara enggak pamerkan foto? Bodo amat. Bahkan ternyata gue jauh lebih bisa menikmati perjalanan yang gue lalui tanpa repot-repot mengambil foto yang Instagram-able. Gue juga tidak perlu pusing-pusing memikirkan judul foto dan mengecek ponsel tiap 15 menit sekali untuk lihat sudah berapa banyak yang like unggahan gue. Jauh lebih disayangkan ketika gue harus kehilangan momen dan pelajaran ketimbang tidak memamerkan foto liburan di Instagram.

Photo 8-2-18, 5 58 42 PM
Quy Nhon, Vietnam, 2018

Itu yang gue rasakan saat ke Vietnam dua minggu yang lalu. Gue pergi sendirian untuk summer school dan untuk pertama kalinya gue pergi sebagai perempuan berhijab. Meski sendirian, gue tidak pernah kesepian. Gue mendapatkan banyak teman baru yang begitu hangat, menyenangkan, dan memberikan gue banyak pelajaran dari segala perbincangan tentang berbagai topik. Gue tidak berhasrat untuk banyak mengabadikan momen selama di Vietnam sekali pun dengan kamera ponsel. Sebab gue ingin menikmati setiap momen yang terjadi pada saat itu. Titik.

Dari perjalanan ke Vietnam kemarin gue sadar bahwa memang ada kalanya kita butuh rehat sejenak. Bukan untuk sekadar foto-foto. Namun untuk merenung, berpikir, dan belajar hal baru lewat berteman dengan orang baru dan betul-betul mengenali tempat yang kita sambangi. Dan alangkah baiknya jika semua pelajaran yang didapat itu diterapkan dalam menjalani kehidupan di dunia nyata. Ya, gue rasa itulah tujuan hakiki dari traveling.

73 Alasan Untuk Tetap Cinta Indonesia

Kemarin ada satu pertanyaan di Quora Indonesia yang cukup menggelitik: mengapa Indonesia kurang terkenal di dunia internasional? Pertanyaan tersebut mengingatkan gue akan pengalaman melancong sebagai warga negara Indonesia selama di negara lain.

Ya, betul, untuk menjelaskan kota tempat gue berasal pun sulit. Padahal Jakarta adalah ibukota Indonesia.  Klasik, perkenalan tentang sebuah negara bernama Indonesia dimulai dari Bali. Kemudian biasanya pertanyaan merembet ke hal lain. Pernah ada yang menanyakan tentang bagaimana kondisi poitik di Indonesia. Saat itu pula gue langsung teringat akan keriuhan antar (pengikut) dua kubu politik di linimasa. Ingatan tersebut hanya membuat gue tertawa sembari jawab, gue enggak peduliTitik.

Rasanya amat rumit untuk merangkum situasi politik yang sedang selalu panas di negara ini. Secara sadar atau tidak, ujaran kebencian di linimasa mempengaruhi persepsi kita terhadap bangsa kita. Sekalipun kita adalah warga negara yang apatis, seperti gue sendiri. Kerap kali impresi yang muncul tentang negara kita adalah hal-hal negatif. Sedikit saja ada satu perilaku orang Indonesia yang tidak benar, dengan amat cepat kita mengeneralisir dengan kalimat, dasar orang Indonesia! 

Cuy, penduduk Indonesia ada 270juta. Masa iya perilaku negatif satu orang bisa dianggap mewakili seluruh orang Indonesia?

Persepsi negatif ini perlahan melunturkan rasa bangga dan cinta kepada negara kita sendiri. Tidak jarang kita mengernyitkan dahi ketika melihat teman yang begitu cinta Indonesia dan berbuat hal kecil untuk mengubah negara kita menjadi lebih baik. Padahal itu enggak salah. Namun terasa aneh aja gitu, iya kan? Semua disebabkan karena ungkapan ‘cinta Indonesia’ telah menjadi sebuah kata sifat yang sulit tersemat di hati sehingga perlu digembar-gemborkan lagi semangat kebangsaan kita.

Beberapa waktu lalu gue mendapat satu pertanyaan sederhana yang membuat gue berpikir keras dan merenung: what are the things that you like from Indonesia?

Spontan gue jawab, well…its nature.

Sembari menjawab dengan tiga kata itu pula gue berpikir, apa iya cuma alam saja yang bisa dibanggakan dari Indonesia? Pertanyaan itu mengusik gue hingga saat ini.  Nah, dalam rangka perayaan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-73 ini gue ingin membuat daftar 73 hal yang patut disukai, dibanggakan, dan dijadikan alasan untuk (tetap) mencintai Indonesia selain keindahan alamnya.

  1. Bahasa Indonesia. Bahasa pemersatu bangsa secara harfiah sebab kita memiliki,
  2. 1158 bahasa lokal (data BPS, 2010).
  3. Kaya akan umpatan dari berbagai bahasa
  4. Etnis yang amat beragam, tidak hanya Jawa. Meskipun gue juga orang Jawa
  5. Bangsa yang pemaaf. Begitu pemaafnya, sampai teman gue yang berasal dari Korea Selatan bertanya-tanya bagaimana bisa kita enggak benci negara penjajah?
  6. Bangsa yang selalu bersyukur, seperti dalam penjelasan ini.
  7. Kebaya. Pakaian nasional yang seksi dan membuat gue bagai perempuan Indonesia seutuhnya
  8. BJ Habibie
  9. Jakarta dengan segala keajaibannya. Kota yang bisa membuat kita paham akan ungkapan ‘benci tapi cinta’.
  10. Madilog (Tan Malaka, 1942)
  11. Raden Saleh
  12. Lidah yang fleksibel dalam mempelajari bahasa asing
  13. Pramoedya Ananta Toer
  14. Karya musik Guruh Soekarno Putra
  15. Sambal!
  16. Sastra Indonesia
  17. Bandung
  18. The Tielman Brothers
  19. Kebebasan berpendapat
  20. Kerajaan Majapahit
  21. Para pemuda yang berdiaspora demi Indonesia yang lebih baik
  22. Payung Teduh, White Shoes and the Couples Company, Efek Rumah Kaca, dan musik indie Indonesia sejenisnya
  23. Falsafah ‘makan enggak makan asal kumpul’
  24. Ivan Lanin
  25. Rendang dan makanan tinggi kolesterol lainnya
  26. Para saintis Indonesia yang tetap istiqomah berkontribusi dalam perkembangan sains meskipun itu amat sulit
  27. Matahari bersinar sepanjang tahun dan beredar dalam porsi waktu yang pas
  28. Buah mangga yang amat murah dan mudah didapat
  29. Juga durian
  30. Kain batik yang adem
  31. Definisi kulit kuning langsat dan sawo matang yang begitu eksotis
  32. Komodo yang disebut-sebut sebagai naga di dunia nyata
  33. Punya banyak kedai kopi lokal yang sungguh kekinian
  34. Pasukan pengibar bendera alias paskibra
  35. Tanah yang subur hingga ada ungkapan “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”
  36. Tidak sedang berada dalam zona perang
  37. Soekarno yang akrab dengan banyak tokoh dunia seperti J.F. Kennedy, Ho Chi Minh, Che Guevara, dan Fidel Castro
  38. Kebiasaan cebok dengan air ketimbang tissue. Ramah lingkungan, bukan?
  39. Terbiasa bangun pagi karena takut ‘rejeki dipatok ayam’
  40. Gotong royong
  41. Indomie!
  42. Ramah dan murah senyum
  43. Kebiasaan membungkukkan badan ketika lewat di depan orang yang lebih tua
  44. Makan pakai tangan
  45. Tempe
  46. Quora Indonesia yang mulai ramai. Hore!
  47. Bulu tangkis
  48. Budaya cium tangan kedua orang tua
  49. Kerupuk
  50. Punya tambang emas terbesar di dunia
  51. Juga cadangan minyak dan gas
  52. Bhinneka Tunggal Ika
  53. Dilewati garis khatulistiwa
  54. Kopi luwak
  55. Konferensi Asia Afrika yang menciptakan gerakan non blok dan kini dikenal dengan sebutan “negara dunia ketiga”
  56. Gelora Bung Karno
  57. Sri Mulyani
  58. Gojek
  59. Jamu tolak angin
  60. Buya Hamka
  61. Tan Malaka
  62. Pedagang keliling. Mulai dari makanan, sol sepatu, sampai reparasi jeans
  63. Pakaian pengantin tradisional yang begitu beragam
  64. Garuda Wisnu Kencana
  65. Ada Apa Dengan Cinta (2002)
  66. Sirup markisa. Minuman tersegar yang pernah gue temui di muka Bumi
  67. Warkop DKI
  68. Tiga Dara (1957)
  69. Ayam penyet
  70. Bisa minta bumbu dapur ke tetangga di kala kekurangan saat masak
  71. Kerokan yang bisa menyembuhkan segala penyakit
  72. Musik dangdut
  73. Semua orang Indonesia adalah pejuang dalam bertahan hidup di tengah problematika negara yang amat rumit

Jika hanya melihat dan menelan bulat-bulat segala ocehan penduduk Indonesia di linimasa, rasanya memang mustahil untuk bisa mencintai Indonesia. Ingat, apa yang ada di media tidak seperti apa yang ada sesungguhnya di dunia nyata. Begitu pula dengan apa yang ada di media sosial. Tidak bisa dianggap mewakili perilaku orang Indonesia secara keseluruhan. Siapa tahu akun-akun penyebar ujaran kebencian hanyalah akun palsu, eh? Seperti yang pernah gue kutip sebelumnya dari Nas Daily, “the people who hate are not the majority, they are just the ones screaming the loudest.”

Dari 73 daftar di atas mungkin masih ada banyak lagi prestasi dan kearifan lokal yang patut disyukuri dan bisa menumbuhkan rasa cinta Indonesia. Sebab seperti yang dikatakan ibu Sri Mulyani,

“Jangan pernah putus asa mencintai Indonesia.”

Dirgahayu ke-73, Indonesia ku!

Hanya Aku, Pantai, dan Langit ; Jogja - Semarang Series vol.1
Pantai Sundak, Yogyakarta, 2010. Foto: Febry Fawzi

Kenapa Harus Kartu Pos

Salah satu hiburan saat pulang ke Jakarta adalah mendapati kiriman kartu pos yang sudah nangkring di meja belajar. Meski isinya cuma dua atau tiga kalimat, tapi selalu sukses bikin mesem-mesem sendiri. Si kartu pos baru ini kemudian akan gue kumpulkan dengan kartu pos yang gue terima sebelum-sebelumnya. Terkadang semua kartu pos gue baca-baca ulang. Maklum, koleksi kartu pos gue masih sedikit.

Gue mulai bermain kartu pos semenjak jalan-jalan ke Cina tahun 2014 lalu. Awalnya sih karena si Nobi bawel banget minta dikirimkan kartu pos dari Cina. Kebetulan si Nobi ini memang juragan kartu pos sih. Gue kepo juga jadinya. Seasik itu kah berkirim kartu pos? Sampai ada komunitas post crossing segala di saat bisnis kartu lebaran atau kartu natal atau kartu tahun baru sudah lama tak terlihat wujudnya.

Ternyata, iya menyenangkan. Dan bikin ketagihan.

Saat mau kirim kartu pos untuk pertama kalinya di Xi’an gue bingung banget. Mana kartu pos yang otentik biar terlihat dari Cina banget tanpa harus alay. Alamat mesti gue tulis sebelah mana. Apa yang harus gue tulis dalam ruang sekecil itu. Cari perangko di mana. Dikirimnya harus ke kantor pos apa cukup di kotak surat ya. Yaa…hal remeh temeh yang perlahan mulai tidak dikenali generasi gue.

Terkadang jadi sedikit pusing juga sih ketika sudah mau pulang tapi masih belum dapat perangko. Atau belum menemukan kotak surat. Namun saat kartu pos itu sampai, bukan cuma penerimanya saja yang senang. Pengirimnya pun senang karena misi berhasil. Yeay! Sensasi menunggu menerima dan diterimanya kartu pos itu ternyata bikin ketagihan.

Semenjak saat itu berkirim kartu pos adalah ritual yang wajib gue lakukan saat bepergian. Gue akan dengan senang hati mengirim kartu pos jika ada yang minta dikirimkan. Sebab, minta dikirimkan kartu pos itu tidak merepotkan dan tidak menzalimi gue yang biasa bepergian dengan satu ransel untuk berhari-hari dan jarang beli bagasi. Tolonglah agak mawas diri ya sama pelancong tipe ini dengan tidak menitip barang yang besar, berat, makan tempat, dan beresiko disita di bandara.

Hal lain yang membuat gue senang dengan kartu pos adalah, romantisme. Saat menulis kartu pos gue berpikir keras apa yang patut gue ceritakan dalam ruang sesempit itu. Bagaimana caranya supaya cerita perjalanan bisa terangkum namun tetap bisa mengajak berdialog si penerima. Singkatnya, mengirim kartu pos itu memaksa kita untuk menulis; aktivitas sulit dan mahal yang belakangan jadi terlihat murah sejak artikel tanpa makna marak beredar di dunia maya.

Kartu pos dari George Harrison.

Mungkin ketika sebuah kartu pos baru diterima isinya terasa remeh temeh. Atau meaningless. Namun kelak ketika kartu pos ini sudah berumur, dia akan menjadi mesin waktu yang menarik kita mundur ke satu periode kehidupan . Itulah mengapa ada saja buku berisikan kumpulan kartu pos atau korespondensi dari orang-orang terkenal macam anggota The Beatles, Einstein, Obama, supaya kita bisa tahu peristiwa yang terjadi beserta pemikiran mereka di balik peristiwa tersebut. Ya, begitulah romantisme kartu pos yang tidak akan bisa digantikan dengan unggahan kilat di media sosial.

Berbicara tentang romantisme kartu pos mengingatkan gue akan suatu malam di kamar hotel di kota Taipei. Malam itu gue sedang menuliskan kartu pos dan teman sekamar gue yang berasal dari Thailand, Mod, berseru takjub.

“You writing a post card? Oh, you are such a romantic person.”

Ha! Gue merasa bukan orang yang romantis. Namun gue adalah penikmat romantisme dari sebuah kartu pos. Hey Mod, I miss you anyway. Lol.

Semenjak gue kuliah di Bandung selalu ada jeda waktu untuk bisa berjumpa dengan kartu pos yang sampai ke rumah di Jakarta. Kali ini mau mengucapkan terima kasih buat kartu pos yang dikirimkan Ojan dari Annapurna Base Camp. Mungkin si Ojan ini menulisnya sambil kedinginan ya sampai-sampai nyokap gue sebagai pihak penerima pertama enggak bisa baca.