Bye, Books

Berawal dari meminimalisir baju dan informasi, kini gue sedang berusaha meminimalisir hal lain yang bisa diminimalisir untuk hidup yang lebih ringan dan nyaman. Termasuk meminimalisir barang yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya: buku.

Sebagai penikmat buku fisik sekaligus pelaku tsundoku (積ん読), dulu gue bersikeras bahwa buku adalah barang yang tidak akan pernah gue enyahkan dalam perjalanan menuju hidup minimalis. Gue adalah salah satu orang yang menolak mentah-mentah ide meminimalisir buku yang semula diusung pakar berbenah rumah, Marie Kondo. Dalam The Life Changing Magic of Tidying Up, Kondo menjelaskan bahwa ia meminimalisir bukunya yang semua berjumlah sekitar 200 hingga menjadi 30 buku saja.

Pendirian gue tersebut kemudian sedikit goyah ketika sadar bahwa gue akan kembali pulang ke rumah di Jakarta setelah studi di Bandung selesai. Kepindahan gue ke Jakarta akan menjadi masalah sebab tidak ada lagi ruang di rumah yang bisa menampung buku-buku gue yang telah berkembang biak di Bandung. Suka tidak suka, gue memang harus menyortir kembali isi rak buku di rumah supaya ada ruang untuk buku-buku yang akan datang.

Dalam berbenah isi rak buku gue menerapkan cara yang dilakukan Marie Kondo dalam berberes rumah. Setiap berhadapan dengan benda yang sedang diseleksi, Kondo akan bertanya kepada diri sendiri apakah benda tersebut memancarkan kebahagiaan? Does it spark joy? Jika jawabannya adalah ya, maka benda tersebut boleh disimpan. Jika tidak, maka benda tersebut bisa dibuang. Bahagia yang seperti apa sih yang patut disimpan? Bahagia seperti ini lah kira-kira.

tenor

Setelah melafazkan mantra does-it-spark-joy selama berberes buku ternyata hanya sedikit buku yang akhirnya bisa gue hibahkan. Ada sih sedikit rasa lega setelah menghibahkan sebagian kecil buku yang gue punya, tapi rasanya seperti masih ada yang mengganjal. Mantra does-it-spark-joy seolah kurang efektif dalam membantu gue berbenah.

Anehnya, meski gue sadar bahwa hidup gue mulai dipersulit dengan keberadaan buku yang tumpah-tumpah dari rak, gue enggak tahu kenapa gue bisa sangat posesif dengan mereka hingga sulit sekali untuk bisa melepaskan.

Di tengah kepopuleran Marie Kondo dan spark joy-nya, muncul video viral tentang seorang minimalis asal Jepang, Fumio Sasaki, yang hanya memiliki 150 barang di apartemennya. Menarik, sebab dulunya Sasaki adalah seorang penimbun barang. Dalam video tersebut dikatakan bahwa Sasaki menjual SEMUA koleksi bukunya ke toko barang bekas. Ya, semua tanpa sisa. Pernyataan tersebut tentu membuat jiwa posesif gue terhadap buku meronta-ronta. Lantas gue jadi penasaran dengan pemikiran apa yang melandasi Sasaki ketika ia memutuskan menjadi seorang minimalis. Hingga akhirnya gue membaca ini.

Goodbye, Things memberikan alasan yang lebih jelas dan masuk akal mengapa manusia senang memiliki banyak barang, mengapa tanpa disadari hidup manusia menjadi sulit karena banyaknya barang, dan mengapa lebih baik memiliki sedikit barang saja.

Pada dasarnya manusia butuh pengakuan atas eksistensinya dan mereka senang ketika diakui. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah memiliki materi yang mendukung. Contoh paling sederhana adalah banyak orang yang senang diakui sebagai orang berada alias orang kaya. Sebab yang demikian itu membuat seseorang mendapatkan kedudukan lebih tinggi dalam masyarakat. Maka dari itu mereka menggunakan pakaian, tas, sepatu, dan gawai serba mahal. Mencicil pun tidak masalah, asal terlihat mentereng.

Namun sadarkah Anda bahwa pengakuan yang dibutuhkan manusia itu banyak macamnya.

Ada manusia yang tidak butuh dianggap kaya, tetapi butuh pengakuan atas hal lain. Ini digambarkan dengan Sasaki di masa lalu yang gemar mengumpulkan kamera antik. Tidak cukup dengan menjadi kolektor kamera antik, Sasaki menciptakan ruang gelap sebagai pelengkap. Dengan adanya materi pendukung tersebut maka orang yang berkunjung ke apartemennya akan berpikir bahwa Sasaki adalah orang yang paham sekali tentang fotografi. Padahal kenyataannya tidak satu pun dari kamera antiknya yang sungguh-sungguh dipakai untuk memotret. Di sini terlihat bahwa tanpa disadari Sasaki ingin diakui sebagai pecinta fotografi sejati.

Nah, bagi para kolektor buku, jangan merasa aman. Sebab bentuk pengakuan lain juga dialami Sasaki atas buku-bukunya seperti ilustrasi berikut.

D5Z0_KnWAAA22It

Sasaki menjelaskan bahwa dulu dirinya senang jika terlihat sebagai orang yang memiliki ketertarikan pada berbagai bidang lewat koleksi buku di apartemennya. Pendek kata, Sasaki senang ketika diakui sebagai orang intelek. Padahal banyak buku yang belum pernah dibaca sama sekali.

Mungkin tidak semua pembaca ingin diakui sebagai orang intelek. Namun bentuk pengakuan serupa bisa muncul dalam bentuk lain. Misal, gue ingin diakui sebagai penggemar Harry Potter garis keras, sehingga gue simpan semua buku Harry Potter meski tidak pernah gue sentuh lagi semenjak selesai dibaca belasan tahun lalu. Keterikatan antara manusia, buku, dan kebutuhannya untuk diakui inilah yang ternyata membuat gue posesif terhadap buku yang gue punya.

Satu hal yang gue senang dari Goodbye, Things adalah buku ini lebih mengajarkan kita untuk menilai barang atas nilai fungsi ketimbang kebahagiaan yang dipancarkan. Bahagia sih bahagia, tapi kalau enggak punya nilai fungsi, buat apa? Bahagia sih punya banyak buku, tapi kalau hanya berakhir menjadi ganjalan lemari, buat apa? Atau kalau enggak disentuh lagi bertahun-tahun setelah dibaca, buat apa? Bahagia sih punya banyak bacaan untuk dibaca nanti. Namun sayangnya ‘nanti’ itu biasanya tidak pernah datang karena kita terlalu sibuk dan buku tidak kunjung terbaca.

Semenjak disadarkan oleh Goodbye, Things gue tidak lagi melihat isi rak buku dengan cara pandang yang sama. Alih-alih merasa bangga dengan koleksi buku yang gue punya, gue merasakan sebuah kesia-siaan karena menyimpan buku yang tidak pernah tersentuh lagi selama bertahun-tahun.

Setelah memasuki kesadaran ini barulah gue bisa lebih tega dalam berberes buku-buku di rumah ataupun di kos. Buku teks saat kuliah di jenjang sarjana yang tidak tersentuh lagi gue hibahkan ke perpustakaan almamater. Buku yang tidak pernah gue baca lagi sebagian gue sumbang dan sebagian gue jual. Gue mempertahankan buku fiksi dan non-fiksi yang sekiranya masih sering gue gunakan sebagai referensi saja.

Perlu disadari pula bahwa mengurangi saja tidak cukup. Kini gue berusaha keras untuk tidak membeli buku karena lapar mata. Gue batasi jenis buku yang boleh gue beli. Itu pun jika sangat diperlukan. Memang upaya meminimalisir buku yang gue lakukan tidak ekstrim seperti yang dilakukan oleh Fumio Sasaki. Namun setidaknya kini gue, sebagai penikmat buku, mempunyai cara pandang baru dalam memperlakukan buku-buku tanpa harus berakhir sia-sia di dalam rak.

So after Goodbye, Things I would like to say, “bye, books”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s