Bohemian Mercury

Selama beberapa bulan akun Youtube film Bohemian Rhapsody merilis secara berkala trailer dan video pendek tentang film yang bersangkutan. Pancingan tersebut sukses membuat para penggemar fanatik Queen lintas generasi merasa waktu berjalan amat lambat hingga dirilisnya film ini pada tanggal 2 November (kalau sesuai trailer).

Bohemian_Rhapsody_poster

Buat yang belum tahu apa itu Bohemian Rhapsody, mari berkenalan dulu dengan tembang legendaris yang tak tertandingkan.

Jika kalian berpikir bahwa film ini bercerita tentang lagu Bohemian Rhapsody, bersiaplah untuk kecewa. Sebab semua adegan dalam trailer telah disajikan pada waktu kurang dari satu jam penayangan film. Sampai sini gue sempat sedikit kecewa karena tempo film terlalu cepat. Gue berpikir, lha terus habis ini mau cerita apa lagi dong kalau sekarang sudah sukses?

Ternyata ada kejutan yang telah disiapkan oleh Bryan Singer selaku sutradara.

Tahu kan ada ungkapan yang bilang kalau semakin tinggi pohon, semakin kencang pula angin yang menerpa. Nah inilah yang disajikan dalam Bohemian Rhapsody secara keseluruhan. Tentang perjalanan Queen dari masih remah-remah rempeyek hingga sukses. Hanya saja kisah tersebut disajikan dalam perspektif sang vokalis. Ya, dengan kata lain film ini tentang Freddie Mercury.

 

freddie-mercury-9406228-1-402
Farrokh Bulsara alias Freddie Mercury.

Diskriminasi ras dan fisik menjadi hal yang sering disantap Freddie semenjak keluarganya pindah ke Inggris sebagai imigran dari India. Panggilan ‘Paki’ (singkatan dari Pakistan) sering kali disematkan kepadanya meski secara ras ia berasal dari Persia. Di tambah konfigurasi gigi depannya yang unik membuatnya sering dijadikan bahan bulan-bulanan.

Namun dari segala kepahitan hidup, adalah kisah cintanya dengan Mary Austin yang terpahit.

Perjumpaan pertama antara Freddie dan Mary terjadi dalam gig di The Rainbow. Perkenalan keduanya berlanjut ketika Freddie dengan sengaja mencari Mary di butik hipster tempatnya bekerja. Semenjak itu Mary tidak hanya setia menjadi penonton sekaligus tata rias Freddie dalam setiap pertunjukkannya. Namun juga setia mendampingi Freddie sebagai kekasih. Keduanya tinggal bersama dalam sebuah apartemen sederhana di London.

Nama Queen pun semakin besar dengan meledaknya lagu Bohemian Rhapsody di seluruh penjuru dunia. Tur di berbagai negara dilakukan sehingga seringkali Freddie dan Mary terpisah jauh dan hanya berkomunikasi lewat telepon. Telepon umum yang pakai koin ya, bukan telepon seluler mengingat ini tahun 1970an. Seiring bertambah tenarnya Queen, Mary merasakan perubahan sikap Freddie yang menjadi lebih dingin dari biasanya.

Malam itu Freddie yang baru kembali dari tur sedang bersama Mary di apartemen sembari menyaksikan rekaman konser Queen. Saat itulah Mary mengintervensi Freddie atas apa yang sesungguhnya tengah terjadi. Di sini Freddie mengaku bahwa ia biseksual. Namun Mary langsung menampik dengan mengatakan bahwa Freddie adalah seorang gay, bukan biseksual. Malam itu pula Mary hengkang dari apartemen yang telah mereka tinggali bersama selama enam tahun.

Adegan ini cukup meremukkan hati sebab diiringi dengan lagu Love of My Life yang memang diciptakan Freddie untuk Mary, the love of his life.

sei_32586415-f5f7-e1540375963158
Mary Austin dan Freddie Mercury

Kesuksesan Queen membuat Freddie kaya raya bergelimang harta. Meski demikian Freddie seringkali merasakan kesunyian. Sebab bukan hanya Mary yang meninggalkannya. Brian, Roger, dan John pun menjauh karena tidak nyaman dengan gaya hidup Freddie yang kini senang berpesta. Malam-malam penuh pesta yang dibuat untuk mengusir sepi seolah tidak ada gunanya sama sekali.

Freddie masuk semakin dalam ke jurang kegelapan. Semakin sering ia cekcok dengan ketiga temannya dalam Queen hingga ia nekat bersolo karir tanpa kompromi. Gaya hidupnya yang gemar berpesta pora pun semakin menjadi-jadi. Boleh jadi Freddie telah bebas dari keterikatannya dengan Queen. Namun nyatanya ia sulit melahirkan karya yang bisa mengulang kesuksesan Bohemian Rhapsody.

Beruntung ada Mary Austin yang mengingatkan Freddie untuk kembali kepada orang-orang yang mencintainya: Mary, Brian, John, dan Roger. Freddie pun sadar dan memutuskan kembali kepada Queen. Sayang, ia sudah terlambat untuk melarikan diri dari imbas gaya hidupnya. Freddie didiagnosa mengidap AIDS yang menjadi penyebab kematiannya di usia muda.

Menjadi ODHA bukan bagian hidup yang terpahit bagi Freddie. Dalam film ini digambarkan bahwa Freddie jauh lebih terpukul ketika mendengar kata-kata ini keluar dari mulut Mary.

“This is David. My boyfriend.”

Atau,

“I’m pregnant.”

Waktu seolah terhenti sejenak ketika kata-kata tersebut keluar dari mulut Mary. Mary menjalani kehidupan normal dengan pasangan barunya setelah putus dari Freddie. Meski demikian Mary tetap tetap berada dalam lingkaran keluarga Queen dan tetap ada untuk Freddie hingga akhir hayat. Sesekali Mary datang ke gig yang diisi oleh Queen. Namun selalu ada kejutan yang menyentak dalam setiap kedatangan Mary.

Dalam wawancara dengan Daily Mail Freddie pernah menyatakan,

‘All my lovers asked me why they couldn’t replace Mary, but it’s simply impossible. The only friend I’ve got is Mary, and I don’t want anybody else. To me, she was my common-law wife. To me, it was a marriage. We believe in each other. That’s enough for me. I couldn’t fall in love with a man the same way as I have with Mary.’

Sisi homoseksualitas Freddie memang tidak digambarkan secara gamblang dengan adegan seks yang vulgar.  Namun bisa dirasakan lewat metafora yang digambarkan dengan apik tanpa perlu mengernyitkan dahi terlalu dalam. Di samping itu Bohemian Rhapsody memberikan gambaran tokoh dengan tegas. Mana hitam, mana putih. Mana baik, mana jahat. Cukup pas lah untuk film biopic sebuah band.

Film ini membuat gue paham kenapa Queen bisa merilis banyak lagu hits dengan jenis yang amat beragam. Brian, Roger, John memiliki latar belakang pendidikan sains yang haus akan eksperimen. Ditambah ada Freddie yang sudah ditakdirkan menjadi legenda musik rok. Keempatnya adalah jenius. Maka sempurna sudah semua karya Queen.

Penampilan Rami Malek juga ciamik di samping perawakannya yang dibuat mirip dengan Freddie Mercury. Namun percayalah bahwa dalam film ini, tokoh Freddie Mercury lah yang paling tidak mirip dengan aslinya. Setiap melihat ketiga anggota Queen lainnya gue selalu perlu menyadarkan diri bahwa mereka adalah Brian, Roger, dan John versi palsu karena saking miripnya. Bahkan Brian May sendiri mengakui bahwa Gwylim Lee, pemeran dirinya dalam Bohemian Rhapsody, adalah versi lain dirinya dari dimensi lain. Mirip banget!

1504085554093.jpg--queen__annunciato_il_cast_completo_del_film_bohemian_rhapsody__scopri_gli_attori
Sama, tapi bukan saudara.

Brian May dan Roger Taylor turut terlibat dalam produksi film ini. Kalau dalam istilah statistik, degree of believe gue terhadap film Bohemian Rhapsody cukup tinggi mengingat pelaku sejarah juga turun tangan dalam pembuatan Bohemian Rhapsody. Alur, detail cerita, dan reka ulang bisa dipercayalah. Bahkan tata panggung hingga letak gelas-gelas Pepsi saat konser Live Aid pun direka ulang sama persis. Edan tenan.

Gue sangat menyarankan penggemar Queen untuk menyaksikan film ini di bioskop.  Bahkan kalau bisa di IMAX supaya suasana konser Live Aid lebih terasa. Beruntunglah mereka yang bisa menyaksikan secara langsung penampilan Queen di Live Aid. Jika saja mesin waktu Doraemon itu sungguh ada, pasti gue sudah mundur kembali ke konser Live Aid yang fenomenal itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s