Korea Selatan / Mancanegara / Perjalanan

Kesendirian di Selatan Korea yang Dirindukan

Hai hai saya muncul kembali. Empat tulisan terakhir dalam blog ini masih bercerita tentang perjalanan di Korea Selatan awal 2016 lalu. Sejak saat itu saya belum pernah lagi solo travelling. Pergi seorang diri di negara lain itu mendebarkan sekaligus mengasyikkan. Untungnya Korea Selatan adalah negara yang aman untuk para pelancong perempuan. Kalau saja saya dilepas sendirian di India, mungkin saya sudah nangis di tengah jalan.

Jepang memang memikat hati siapapun yang pernah berkunjung ke sana. Namun Korea Selatan itu lebih seru. Dinamis, tidak monoton. Makanannya lebih ‘berasa’. Orang-orangnya lebih ekspresif dalam berpakaian dan cenderung cuek tanpa banyak basa basi. Bangunannya lebih beragam. Yang klasik dipertahankan, yang modern bak pesawat UFO juga tegak berdiri. Kalau saya lagi sakau liburan, perjalanan ke Korea Selatan lah yang paling saya rindukan. Kangen menikmati serunya Korea Selatan, sendirian.

Berhubung jalan sendirian ya jadi banyak diam dan bengongnya. Namun momen itu sangat saya nikmati. Seperti ketika saya galau mau masuk ke pameran adibusana Jean Paul Gaulthier (JPG) di Dongdaemun Design Plaza atau tidak. Belakangan baru saya menyesal (bahkan sampai sekarang) karena dulu memutuskan tidak masuk ke arena pameran desainer kondang tersebut. Namanya juga penyesalan yang datangnya belakangan. Kalau di depan kan namanya pendaftaran ya.

DCIM134GOPRO

Baliho pameran Jean Paul Gaulthier di Dongdaemun Design Plaza, Seoul

Hari itu adalah hari terakhir saya di Seoul. Sore harinya saya berkeliling pasar ikan Noryangjin bersama tetangga saya saat di Tokyo, Kim Riseung. Selepas itu saya bertolak ke kawasan Hongdae sebagai obat pelipur lara karena enggak ke pamerannya JPG (teteup). Saya mengunjungi Hongdae atas saran Ovy dan kurang yakin sebetulnya apakah benar tempat ini sebegitu mengasyikkannya. Saya hanya tahu kalau Hongdae adalah kawasan kampus dan di sana banyak seniman jalanan.

Hal yang terpintas di benak saya ketika menyebut seniman jalanan adalah sekelompok pria yang joget-joget selayaknya artis K-pop. Dan benar saja dugaan saya itu. Begitu masuk kawasan Hongdae, saya disambut dengan kerumunan gadis belia Korea yang mengerubungi sekelompok lelaki semacam boyband sedang unjuk kebolehan mereka dalam menari.

Saya ikut bergabung di antara kerumunan dan turut menyimak penampilan si boyband. Satu lagu habis. Ketika saya hendak beranjak, lagu selanjutnya berkumandang diiringi jogetan para si personil boyband. Lalu saya pun menyimak lagi. Begitu terus sampai tidak terasa saya sudah berdiri lebih dari tiga puluh menit di antara kerumunan tersebut.

Saya bukan penggemar oppa-oppa atau drama Korea atau musik Korea. Tapi eh, ternyata menyaksikan boyband Korea berjoget ria ternyata menyenangkan ya! LOL

Hari berikutnya saya bertolak ke Busan sehabis subuh. Literally. Selesai shalat subuh saya langsung angkat ransel menuju Seoul Station untuk mengejar pemberangkatan KTX yang pertama. Busan adalah kota terbesar kedua di Korea Selatan ceunah. Namun kota besar di bagian selatan itu pun jauh lebih sepi daripada Seoul. Sebagian besar marka jalan dan plang restoran menggunakan huruf Hangeul. Rasanya saya mau nangis saja saat tersesat mencari lokasi hostel sembari gendong ransel (yang mana salah loading sequence jadi terasa lebih berat) dengan mata super ngantuk.

Saya selalu mengalami momen tesasar setiap kali jalan di Busan. Kalaupun tidak tersasar rasanya canggung sekali menjadi satu-satunya orang asing di dalam bus lokal.

Selama di Busan kesendirian saya semakin terasa karena kawasan wisatanya pun sangat sepi. Terlebih saat di Pantai Taejongdae yang berada di atas tebing curam dengan angin begitu kencang. Para wisatawan lokal yang notabene sudah terbiasa dengan cuaca dingin pun berselimut tebal. Selimut ya, bukan jaket loh. Apalah saya makhluk tropis dengan jaket seadanya. Enggak ada yang bisa dipeluk juga biar hangat. Eeaaa.

Rasanya sungguh aneh harus berpakaian tebal dan mencari kehangatan di pinggir pantai. Di sini saya bersyukur sekali punya Indonesia yang jika kita berkunjung ke pantainya tidak perlu repot-repot menggunakan jaket, long john, atau selimut.

Highlight penting dari semua kenangan di atas adalah saya menikmati setiap momen itu seorang diri. Pikiran saya terasa jauh lebih rileks meskipun rasa takut itu tetap ada dalam hati. Solo travelling. Hal yang harus dicoba satu kali minimal seumur hidup. Kalau ada kesempatan melakukannya lagi untuk kali kedua, tentu tidak akan saya tolak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s