Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan masuk ke dalam nominasi Man Booker Prize tahun ini. Berita tersebut mendorong saya untuk cari tahu cerita seperti apa dan penulis secerdas apa yang mampu membawa harum nama Indonesia ke dalam penghargaan buku kelas dunia. Telat memang. Saya baru mengetahui buku ini setelah dua belas tahun dia beredar di toko buku dan telah dicetak ulang beberapa kali.

Buku ini bercerita tentang seorang pemuda bernama Margio yang menerkam Anwar Sadat hingga tewas dalam keadaan leher nyaris putus. Pembelaan Margio atas tuduhan pembunuhan yang ditujukkan kepada dirinya seolah menjadi tagline buku ini.

Photo 5-29-16, 1 16 45 PM

“Bukan aku yang melakukannya. Ada harimau di dalam tubuhku.”

Kenapa paling diingat bak sebuah tagline ?

Karena seperti biasa, rasanya enggak pernah sanggup untuk menuliskan sinopsis cerita yang ditulis Eka Kurniawan. Dialog tersebut sudah cukup mewakilkan keseluruhan cerita. Memang benar. Ada harimau dalam tubuh Margio.

Margio adalah seorang pemuda pendiam berusia dua puluhan. Ia menaruh dendam kesumat terhadap Ayahnya. Hebatnya, ia masih mampu bersikap hormat sebagaimana semestinya seorang anak kepada orang tuanya meskipun tidak mudah. Di sisi lain ia sangat menyayangi Sang Ibu yang kerap mendapatkan perlakukan keras dari Sang Ayah. Margio rela berbuat apapun untuk kebahagiaan Sang Ibu. Meskipun jalan kebahagiaan yang ditempuh Sang Ibu bertentangan dengan apa yang diyakini Margio. Rasa cinta dan dorongan kuat untuk menjaga kehormatan keluarga menjadi landasan atas segala tindakan yang dilakukan Margio.

Adegan tewasnya Anwar Sadat dijelaskan di bagian awal cerita. Selanjutnya pembaca akan dibawa mundur dan berkenalan dengan asal muasal keluarga Margio. Diceritakan secara runut tentang kehidupan dan karakter Komar bin Syueb, Nuraeni, Mameh, Maharani, Anwar Sadat, dan hubungannya satu sama lain. Dari perkenalan tokoh inilah emosi pembaca dipupuk hingga timbul rasa empati atas apa yang dialami oleh tokoh utama.

Ada kemiskinan yang menjadi akar segala permasalahan. Kekecewaan, permohonan ampun, ketakutan, dan pengkhianatan yang ditutup oleh ketulusan cinta diaduk menjadi satu dalam permainan alur khas Eka Kurniawan punya. Pembaca akan dibuat kesal dan murka pada satu plot kasus. Namun rasa murka itu seketika akan berubah menjadi rasa iba saat kasus diceritakan dari sisi berbeda. Perubahan emosi ini menimbulkan rasa bersalah pada pembaca (saya pribadi terutama) karena telah menghakimi terlalu cepat tanpa melihat lebih dalam dari sudut pandang lain. Mungkin ini pesan terselubung yang ingin disampaikan penulis. Bahwasanya penghakiman yang terlalu cepat itu sungguh jahat.

Empati yang dipupuk sejak awal berubah menjadi murka ketika Margio mendapati pemikiran culas Anwar Sadat. Pada bagian ini, rasanya saya ingin sekali menjelma menjadi harimau dan ikut menerkam tokoh Anwar Sadat hingga lehernya putus.

Saya cuma bisa bilang ‘anjir’ berkali-kali saat menamatkan buku ini. Bisa dibilang, Lelaki Harimau adalah buku paling kece yang saya baca hingga pertengahan tahun 2016. Atau dua tahun terakhir ya? Entahlah. Baru kali ini saya menemukan buku yang bisa mengaduk-ngaduk emosi sampai ingin berubah jadi harimau. Enggak heran kalau buku ini masuk ke dalam kancah penghargaan Man Booker Prize.

Buku ini selesai saya baca dua minggu lalu dan hingga kini masih belum sudi untuk baca buku yang lain. Ya, akhirnya saya mengalami lagi yang namanya book hang over.

Dan ini nikmat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s