Mancanegara / Perjalanan / Tiongkok

Tentang Beijing dan Cina Setahun Kemarin

Tepat setahun kemarin saya bersama Nisul dan Risa jalan-jalan di Cina. Ya..ya.. saya sadar ini bukan kali pertama saya berbagi cerita perjalanan yang berlangsung setahun lalu. Sementara sudah ada cerita perjalanan lain yang mestinya sudah dibagikan di sini. Hehehe. Mohon maafkan kebiasaan saya dan mohon jangan ditiru.

Meskipun punya waktu delapan hari, saya hanya berkunjung ke Xi’an dan Beijing. Daratan Cina tidak kalah luasnya dengan daratan India dan juga Indonesia. Namun jarak kota di Cina terlalu jauh untuk dirapel. Lagipula setiap kota punya keunikannya masing-masing yang sayang kalau dikunjungi dengan terburu-buru. Saat itu saya juga sedang malas ‘jalan-jalan ambisius’—memadatkan jadwal ke banyak tempat di waktu yang begitu sempit. Kali ini saya ingin menikmati perjalanan dengan jadwal yang tidak membuat saya terburu-buru.

Saya menghabiskan tiga hari di Xi’an dan sisanya di Beijing.

Xi’an sebagai titik awal Jalur Sutra memiliki kebudayaan unik yang merupakan hasil percampuran kultur Cina dan pengaruh Islam. Masjid terbesar di kota tersebut (sekaligus masjid tertua di Cina) berbentuk seperti klenteng. Ayat suci Al-Qur’an yang menghiasi dinding masjid diukir dalam huruf kanji. Penduduknya berkulit kuning dan bermata sipit. Namun juga beralis tebal dan berhidung mancung seperti umumnya orang Timur Tengah. Kulinernya yang banyak mengadopsi kuliner khas Timur Tengah tetap terasa gurih dan nikmat selayaknya masakan Cina.

Meskipun Xi’an adalah ibukota dari Provinsi Shaanxi, kota ini tidak hidup 24 jam. Aktivitas kota mulai melambat pada pukul delapan malam hingga akhirnya ia tertidur. Tidak ada lagi yang menarik untuk dilihat jika malam tiba. Hingga saya pun memilih untuk menghabiskan malam di bar hostel tempat saya menginap.

Xi’an dan Beijing adalah dua kota dengan ritme yang jauh berbeda. Tiga hari adalah waktu yang cukup untuk menikmati Xi’an. Tapi saya tidak tahu berapa waktu yang cukup untuk mengeksplor Beijing.

Josie, perempuan Cina yang saya kenal saat di Varanasi, pernah bilang bahwa saya butuh waktu sepuluh hari untuk mengeksplor Beijing saja. Awalnya saya mendengar saran ini berlebihan. Namun setelah semaput mengeksplor Beijing dalam waktu tiga hari, mungkin saran Josie benar adanya.

Langit Beijing yang tak pernah biru

Langit Beijing yang tidak terlihat biru

Ya, akhirnya saya hanya menghabiskan tiga hari di Beijing karena mendapatkan jadwal kereta di luar rencana. Mau tidak mau dan suka tidak suka, saya harus merapatkan jadwal alias jalan-jalan ambisius hingga kaki saya terasa perih saat menapak. Tidak ada cerita nongkrong di bar hostel. Saya hanya mengurus cucian dan bergegas naik ke ranjang setibanya di hostel.

Di Beijing (di luar hari Idul Adha yang saya habiskan satu hari sendiri), saya hanya berkunjung ke tempat-tempat yang umum dikunjungi para turis: The Great Wall, Forbidden City, Summer Palace, Tiananmen Square, dan Olympic Arena. Itupun belum semua. Saya belum ke Temple of Heaven. Belum ke CCTV Building yang bentuknya mengingatkan saya pada pelajaran fisika bab kesetimbangan benda tegar. Belum sempat blusukan ke gang sempit dan klasik yang disebut dengan hutong. Belum lihat panda. Dan masih banyak daftar ‘belum’ lainnya jika saya jabarkan satu-satu.

Beijing terlalu besar dan luas untuk dieksplor dalam waktu tiga hari. Meskpun hanya melihat Beijing dalam satu kejapan mata, Beijing adalah kota paling menarik bagi saya.

Di Beijing, ada kalanya saya terkesima hingga lupa mengatupkan rahang ketika melihat bangunan modern futuristik dengan konstruksi rumit dan unik. Ada kalanya pula saya bagai merasa tersedot ke dalam adegan petualangan Tintin dan Lotus Biru ketika menelusuri bangunan tua yang tetap lestari.

Di Beijing, langit jarang terlihat biru karena asap pabrik begitu masif. Namun ada satu taktik bernama Blue Sky Project yang bertujuan membirukan langit kota Beijing jika di kota tersebut sedang berlangsung perhelatan akbar dan acara berskala internasional. Dalam masa Blue Sky Project ini pabrik diliburkan selama beberapa hari supaya tidak menghasilkan limbah asap yang dilepaskan ke udara.

Di Beijing, mencari makanan halal tidak sulit. Rumah makan halal biasanya ditandai dengan papan nama berwarna hijau, tulisan kaligrafi, dan sang juru masak berpeci.

Di Beijing (dan juga Cina pada umumnya), menu susu kedelai tersedia di restoran siap saji seperti KFC dan McD. Cocok bagi saya yang tidak terlalu suka soda dan tidak bisa minum kopi.

Di Beijing (dan Cina secara keseluruhan), hanya berlaku satu zona waktu meskipun daratannya bisa terbagi menjadi lima zona waktu. Jadi tidak perlu repot-repot mencocokkan waktu ketika berpindah kota.

Di Beijing, perilaku warganya aya aya wae dan beragam. Tidak seragam seperti halnya warga Tokyo yang cenderung monoton.

Di Beijing, wisatawan bisa menjelajah kota dengan mudah dan aman. Sarana transportasi sudah canggih, lengkap, dan rapi dengan harga yang murah dan petunjuk yang jelas. Tidak ada mata-mata lelaki nakal yang mengancam seperti halnya di India. Beijing aman bagi wisatawan perempuan yang ingin menjelajah kota seorang diri.

Mengingat banyaknya hal yang belum kesampean, semoga ada kesempatan untuk menjelajah daratan Cina lagi dengan waktu lebih panjang. Aamiin. 😀

Advertisements

10 thoughts on “Tentang Beijing dan Cina Setahun Kemarin

  1. aku juga seneng ama Beijing … walo kata banyak org, di beijing penduduk lokalnya kurang ramah, jorok, tapi pas aku kesana kok ga nemu ya toilet jorok, ga nemu org2 lokal yg ga ramah..semuanya baik, dan tiap kali kita berdua nanya jalan, walopun mrk g bisa bhs inggris, tapi mereka bnr2 nolongin loh.. 🙂 Next kalo ksana lagi jd pgn ngunjungin kota2 lainnya..

    • Beijing memang banyak berbenah semenjak jadi tuan rumah Olimpiade 2008. salah satunya untuk urusan kakus. saya juga fine2 aja sama orang lokalnya. enggak ganggu sama sekali. malah merasa aman 🙂
      saya pun masih penasaran sama Cina belahan lainnya haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s