Mancanegara / Perjalanan / Tiongkok

Adu Sikut di Terracotta Warriors

Bertemu dengan Terracotta Warriors yang melindungi Qin Shi Huang Di di dalam kuburnya adalah misi utama dalam perjalanan saya ke Tiongkok.

Secara harfiah, terracotta merupakan terjemahan kata ‘tanah liat’ ke dalam bahasa Inggris. Patung prajurit yang terbuat dari tanah liat ini merupakan bagian dari nekropolis yang dibangun pada tahun 246 SM. Tepat setelah Kaisar Qin naik takhta di usia 13 tahun. Dibutuhkan waktu 40 tahun dan 700ribu pekerja untuk menyelesaikan komplek pemakaman kaisar beserta prajuritnya yang diperkirakan berjumlah delapan ribu.

Para prajurit dibuat dengan tinggi 172 cm dengan ekspresi wajah, senjata, dan posisi pangkat  yang berbeda satu sama lain. Nekropolis ini dibangun di kawasan Pegunungan Lishan yang kala itu dipilih karena kaya akan emas dan batu giok.

Patung prajurit berukuran manusia ini ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1974 oleh seorang petani yang hendak menggali sumber air. Meskipun ribuan patung prajurit telah berhasil diangkat kembali dengan utuh, makam utama sang kaisar tetap belum tersentuh.

Fakta-fakta tersebut membuat saya penasaran untuk bisa melihat langsung hasil karya brilian para seniman dan ilmuwan dengan kecanggihan teknologi di masa lampau. Walaupun rasa tidak sabar bergejolak, agenda untuk berkunjung ke Terracotta Warriors sengaja saya alokasikan di hari kedua  dengan beberapa pertimbangan berikut.

  1. Kami tiba di Xi’an dini hari dan baru tidur menjelang subuh. Hampir mustahil bagi kami untuk bisa bangun pagi dan lanjut pergi ke Terracotta Warriors.
  2. Saya ingin pergi ke Terracotta Warriors dalam kondisi prima.
  3. Saya tidak ingin perjalanan ke Terracotta Warriors gagal sedikitpun karena hal sepele yang tak terduga seperti tersasar, salah naik bus, dsb.

Hari pertama di kota Xi’an saya manfaatkan untuk memahami rute perjalanan ke kawasan Pegunungan Lishan tempat di mana nekropolis berada. Informasi rute bus dari kota Xi’an saya dapatkan dari Xi’an Tourist Information Center. Di sana ada mbak-mbak cantik yang memberitahu bahwa saya harus ke kawasan Xi’an Railway Station terlebih dahulu. Dari sana akan ada bus nomor 306 seharga 12 Yuan yang akan membawa penumpangnya langsung menuju situs arkeologi Terracotta Warriors.

Misi pergi ke Terracotta Warriors tanpa gagal itu berhasil. Kami tiba di kawasan Pegunungan Lishan sekitar pukul sembilan pagi setelah menempuh dua jam perjalanan dengan bus 306. Tanpa kesiangan, tanpa lelah, dan tanpa tersasar.

Namun masih ada satu tantangan lagi yang harus dilalui di sana.

Ingat, Xi’an adalah gerbang utama bagi para wisatawan yang ingin berjumpa dengan para prajurit tanah liat tersebut. Terlebih saat itu masih dalam pekan liburan Chinese National Day sehingga jumlah wisatawan lokal amat bombastis. Maka, bersiaplah untuk adu sikut demi menikmati para prajurit dari sudut terbaik.

Patung-patung prajurit tersebut dipamerkan di museum dan juga di situs penggaliannya langsung yang terdiri dari tiga bagian. Bagian yang terbesar adalah Pit 1. Bentuknya persegi panjang dengan luas dua kali lebih besar daripada lapangan sepak bola. Di sinilah para prajurit yang tersebar di sebelas koridor berbaris dengan rapi dan gagah.

terracotta

Kedua lubang penggalian sisanya—Pit 2 dan Pit 3—jauh lebih kecil dengan ukuran yang tidak simetris. Di dalamnya hanya ada beberapa patung prajurit yang berhasil digali dengan utuh. Sisanya hancur dan masih menyatu dengan tanah. Bahkan di Pit 3 hanya ada gundukan tanah yang belum digali lebih lanjut.

Adu sikut antar pengunjung ini timbul karena patung-patung tersebut hanya bisa dilihat dari atas lubang. Pengunjung hanya bisa berdiri dan melongok ke bawah di sekitar lubang penggalian yang diberi pagar. Oleh karena itulah saya harus bisa berdiri di lini terdepan dan turut serta dalam pertarungan adu sikut dengan pengunjung lain.

Saya harus menyelip di antara tubuh pengunjung yang berbau kurang sedap. Beberapa kali dikagetkan  dengan suara teriakan orang yang berkumandang tepat di telinga. Kadang ditoyor dengan lensa kamera orang belakang. Kadang didorong. Kadang tiba-tiba muncul anak kecil di depan saya yang entah datang dari sebelah mana.

Ternyata menikmati dan mengabadikan para prajurit tanah liat dari sudut terbaik bukan perkara mudah. Namun  saya tetap terharu dan takjub karena akhirnya bisa melihat mereka secara langsung. Uhuk. Alhamdulillah.

Kunjungan ke makam Kaisar Qin yang telah saya dambakan sejak lama ini disempurnakan dengan foto bersama replika patung prajurit yang berukuran sama dengan aslinya.

DSC_0711r

Advertisements

4 thoughts on “Adu Sikut di Terracotta Warriors

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s