Mancanegara / Perjalanan / Tiongkok

Jajan, Belanja, dan Salat di Muslim Quarter

Salah satu hal yang menjadi perhatian khusus bagi pelancong muslim adalah makanan. Halal, atau tidak. Mencari makanan halal di negeri yang umat muslimnya minoritas menjadi tantangan tersendiri. Apalagi, di Tiongkok kuliner lokalnya amat akrab dengan babi.

Namun tidak perlu cemas jika berkunjung ke Xi’an. Kota yang menjadi titik mula dari perdagangan Jalur Sutra memiliki komunitas Muslim yang besar. Komunitas Muslim Xi’an ini tinggal pada suatu kawasan yang dikenal dengan nama Hui’s People Street atau Muslim Quarter. Letaknya persis berada di belakang Drum Tower. Di sinilah terdapat banyak jajanan kaki lima yang dijamin enak dan halal.

DSC_1032

Sebagian besar pedagang di Muslim Quarter berasal dari suku Hui yang menganut agama Islam. Sisanya adalah hasil peranakan antara penduduk lokal dan pendatang di era perdagangan Jalur Sutra. Tingginya interaksi dengan pendatang dari Timur Tengah di masa perdagangan Jalur Sutra juga mempengaruhi kuliner khas Xi’an.

Kuliner Xi’an merupakan hasil perkawinan antara cita rasa khas Tiongkok dan Arab. Daging yang biasanya lazim disantap dalam kuliner Arab seperti kambing dan domba disajikan dalam rasa yang gurih. Begitu pula dengan roti prata dan sejenisnya yang dijadikan makanan ringan selayaknya bakpao.  Jangan lewatkan pula untuk mencicipi kesemek dan delima yang menjadi buah favorit di Muslim Quarter.

Harga untuk jajanan kaki lima di sini dimulai dari 5 Yuan. Menjajal semua makanan kecil dari ujung ke ujung Muslim Quarter saja sudah membuat saya kenyang. Jika lelah dengan makanan dan ingin melihat yang lain, banyak juga toko cinderamata yang berdiri bersebrangan dengan warung makanan.

DSC_0790

Saya merekomendasikan untuk berbelanja cinderamata di Xi’an saja karena jauh lebih menarik dan variatif ketimbang di Beijing. Barangnya lebih unik dan antik. Baju cheong-sam, topi ala vampir, boneka wayang potehi, dan berbagai cinderamata tradisional khas Tiongkok ada di sini. Merchandise dari era Revolusi Budaya juga lebih variatif seperti kitab berisi ‘firman’ Mao Zedong dalam berbagai bahasa, poster propaganda, lencana, topu Mao Zedong, dsb.

Jika berbelanja di sini usahakan supaya menawar hingga kurang dari setengah harga yang ditawarkan. Saat di Muslim Quarter saya membeli topi Mao Zedong seharga 37 Yuan. Itu pun juga sudah ditawar. Sialnya, di Beijing saya mendapati bahwa topi sejenis ternyata dijual dengan harga 10 Yuan saja.

Selesai jajan dan berbelanja, jangan lupa mampir ke masjid tertua dan terbesar di kota Xi’an, Great Mosque of Xi’an. Masjid ini terletak di tengah lorong Muslim Quarter dan bentuknya dari luar mirip seperti pura. Untuk masuk ke dalam masjid, wisatawan harus membayar tiket sebesar 25 Yuan. Namun saya beserta Nisul dan Risa tidak perlu membayar sepeserpun setelah menjelaskan kepada penjaga loket bahwa kami ingin salat.

Great Mosque of Xi’an terbagi menjadi tiga bagian dengan dua bangunan di sisi kanan kiri taman. Bangunan tersebut memliki fungsi yang berbeda. Bangunan di bagian luar digunakan sebagai museum. Bangunan di bagian tengah digunakan sebagai kantor, tempat wudhu, dan tempat beraktivitas para penjaga masjid. Sedangkan di bagian dalam merupakan bangunan utama yang digunakan sebagai tempat salat. Bangunan utama ini sepenuhnya dibangun dari material kayu. Di dalamnya terukir ayat-ayat Al-Qur’an pada dinding bangunan yang tertulis dalam bahasa Arab dan Cina. Cantik sekali.

Tampilan luar bangunan utama Great Mosque of Xi'an dalam rangka menyambut hari raya qurban

Tampilan luar bangunan utama Great Mosque of Xi’an dalam rangka menyambut hari raya qurban

Selama istirahat di masjid ini kami sempat berbincang sejenak dengan jemaah lain. Ada sekumpulan pemuda berwajah unik yang berasal dari provinsi Xinjiang. Ada pula seorang kakek  penjaga masjid beserta cucunya yang sangat penasaran dengan asal negeri kami. Berjumpa dan berbincang sejenak dengan saudara sesama Muslim dari belahan bumi lain memang selalu menyenangkan.

Kepenatan kami setelah berjubel dengan lautan manusia seharian kami akhiri dengan menanti adzan maghrib di Great Mosque of Xi’an yang amat teduh dan tenang.

Advertisements

4 thoughts on “Jajan, Belanja, dan Salat di Muslim Quarter

  1. Menarik sekali, katanya Islam di Indonesia bangkit karena adanya pengaruh Islam dari Cina, terutama setelah Laksamana Cheng Ho dua kali berkunjung ke Nusantara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s