Mancanegara / Perjalanan / Tiongkok

Perjuangan ke Shuyuan

Saya tiba di Xi’an pukul 12 malam waktu setempat dan langsung bertolak ke pusat kota malam itu juga. Apa yang terjadi sesungguhnya?

Ah ya, sebelum kisah dimulai mari berkenalan terlebih dahulu dengan personil dalam perjalanan ini. Kali ini saya pergi bersama teman saya yang berprofesi sebagai seorang wartawan, Risa, dan juga Nisul yang merupakan teman dari Febry.

DSC_0438

Risa dan Nisul

 

Saya dan Nisul menginap di tempat yang berbeda dengan Risa. Hostel kami berada dalam satu kawasan, namun cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki.

Risa yang menginap di Xi’an Your Tour International Hostel akan bertolak langsung seorang diri dengan taksi. Sedangkan saya dan Nisul sudah sepakat sebelumnya dengan pihak Shuyuan Hostel supaya dijemput di bandara. Tarif jasa penjemputan ini sebetulnya cukup mahal, yaitu 150 RMB atau sekitar 300ribu rupiah. Namun mengingat kami tiba di Xi’an dini hari dan enggan bermalam di bandara, ya sudahlah.

#edisimanja

Namun lagi-lagi ekspektasi tidak sejalan dengan realita. Nyatanya, tidak ada tanda-tanda penjemputan dari pihak Shuyuan Hostel di bandara. Melihat kondisi Bandara Internasional Xi’an Xianyang tidak begitu nyaman untuk menunggu pagi, kami memutuskan untuk tetap ke hostel malam itu juga.

Malam itu kami bertiga akhirnya naik airport shuttle bus seharga 26 RMB ke kawasan Bell Tower. Hampir seluruh penumpang bus turun di Bell Tower yang merupakan alun-alun kota Xi’an. Seharusnya kami bisa tiba di hostel masing-masing dengan menggunakan bus kota. Namun bus tersebut tidak beroperasi di tengah malam.

Alhasil kami menggunakan jasa bentor alias becak motor seharga 20 RMB. Saya kurang tahu persis nama sebutan bentor yang sesungguhnya ini apa. Bentuknya mirip bajaj. Namun bisa ditumpangi oleh empat orang tanpa harus berdempit karena ada dua bangku yang saling berhadapan. Mungkin mirip juga dengan tuk-tuk.

Supir bentor yang sedang narik malam itu sebagian besar adalah anak muda dengan setelan jeans, kaos, dan blazer selayaknya jejaka belia yang akan pergi dugem. Cukup rapi dan gaya untuk ukuran supir bentor. Mereka mencari penumpang seperti abang ojek di sini. Setiap ada bus yang berhenti, para supir bentor sudah siaga di depan pintu dan menawarkan jasanya kepada setiap penumpang satu persatu.

Sayangnya, mereka cukup sotoy. Sikap sok tahu para supir bentor inilah yang merepotkan saya dan Nisul.

Sang supir mengangguk dengan penuh keyakinan saat kami menunjukkan dua lokasi hostel di sebuah peta. Kami meminta supaya supir bentor mengantarkan Risa terlebih dahulu baru setelah itu mengantarkan saya dan Nisul ke Shuyuan Hostel. Namun sesungguhnya saat itu kami kurang yakin apakah si supir paham dengan maksud kami mengingat ia tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali. Tapi melihat ia mengangguk dengan penuh keyakinan, ya sudahlah…

#edisipasrah

Bentor tancap gas menembus kesunyian kota Xi’an dengan kecepatan tinggi hingga tahap yang mengerikan. Saat itu baru saya ingat bahwa pengendara kendaraan bermotor di Tiongkok cukup gila. Tidak hanya mengendarai kendaraan bermotor dengan kecepatan tinggi, mereka juga berani main tikung dan salip seenaknya hingga hanya beda tipis dengan badan kendaraan lain. Jadi pegangan yang erat ya saat berkendara di Tiongkok.

Kami hanya bisa berpegangan erat sembari teriak dan tertawa seiring tikungan bentor yang tidak terduga. Deretan bangunan tradisional khas Tiongkok yang gelap mengingatkan saya kepada film vampir jaman dulu. Ruas jalan kota Xi’an sudah gelap dan sepi. Namun masih banyak juga pemuda pemudi berjalan terkatung-katung dalam keadaan mabuk. Kelakuan aneh mereka menjadi obat penawar dari seramnya Xi’an di malam hari.

Bentor akhirnya tiba di Xi’an Your Tour International Hostel. Tempat di mana Risa akan bermalam. Saya dan Nisul ikut turun dan masuk ke dalam hostel dengan maksud menanyakan arah jalan menuju Shuyuan Hostel. Di dalamnya masih banyak pemuda-pemudi lokal yang sedang hang-out. Suasananya nyaman sekali.

Sebagian dari mereka bisa berbahasa Inggris dengan fasih dan sangat membantu kami dalam menemukan jalan menuju Shuyuan Hostel. Setelah berpamitan dengan Risa dan penghuni hostel, saya dan Nisul melangkah keluar untuk kembali ke bentor. Namun….

Bentor tadi sudah pergi. Deg!

Saya dan Nisul diam terpaku di depan pintu hostel. Rupanya betul bahwa sang supir bentor tadi tidak menangkap maksud kami dengan baik. Ia tidak paham bahwa ada dua alamat hostel berbeda yang harus dituju. Alhasil setelah tiba di Xi’an Your Tour International Hostel (duh, panjang yah namanya) dia langsung pergi.

Lalu bagaimana nasib kami selanjutnya?

Saat itu sudah pukul 1 pagi dan kami tidak cukup berani untuk menembus kegelapan seorang diri. Saya dan Nisul masuk lagi ke dalam hostel. Sembari memelas, kami minta diantarkan ke jalan besar kepada para penghuni hostel. Untungnya ada sepasang kekasih yang berbaik hati mau mengantarkan kami. Yeay!

Mereka berdua adalah pelajar asal Shanghai yang sedang berlibur di Xi’an. Dengan berbekalkan senter, pasangan tersebut mengantarkan saya dan Nisul hingga menuju jalan besar. Sebetulnya kami berharap diantarkan sampai hostel. Tapi lumayan, setidaknya sudah berada di jalan yang terang dan cukup ramai.

Pusat kota Xi’an dikelilingi oleh tembok setinggi 12 meter berbentuk persegi yang dikenal dengan nama Xi’an City Wall. Tembok sepanjang 14 km ini memiliki banyak gerbang yang selalu dijadikan patokan arah. Shuyuan Hostel terletak di gerbang selatan Xi’an City Wall. Empat blok dari lokasi hostel tempat Risa bermalam.

DSC_1131

Di antara Shuyuan Hostel dan gerbang selatan Xi’an City Wall

 

Walaupun hanya empat blok, ternyata cukup jauh jika dilalui dengan berjalan kaki. Saat itu sudah hampir pukul 2 dini hari. Di tengah kegelapan jalan hanya ada saya dan Nisul yang berjalan sembari menopang ransel dalam keadaan lelah, ngantuk, dan kesal. HAH!

Tapi ya, kalau enggak susah atau sial, enggak seru ya kayaknya. Setelah berjalan cukup jauh akhirnya kami tiba di Shuyuan Hostel yang bentuk luarnya terlihat seperti klenteng. Saat masuk ke dalam lobby hostel, kami disambut oleh pria resepsionis yang sudah menunggu.

Nisul langsung komplain kepada si resepsionis, kenapa enggak jemput kita di bandara? Kan udah sepakat di email. Dengan simpelnya si resepsionis hanya menjawab “lupa” dengan muka datar. GRAOOO!!

DSC_0376

Tampak depan Shuyuan Hostel

 

Kami sempat kehilangan rasa simpati dengan Shuyuan Hostel karena insiden penjemputan ini. Namun setelah melewati tiga malam di sana, Shuyuan Hostel ini patut direkomendasikan.

Akses menuju pusat kota dari Shuyuan Hostel sangat mudah karena berdekatan dengan alun-alun kota Xi’an, Bell Tower. Dekat pula dengan halte bus dalam kota dan pangkalan taksi. Jadi tidak perlu khawatir soal masalah transportasi.

Di sekelilingnya terdapat beberapa kafe yang asik buat nongkrong. Sayangnya, saya dan Nisul tidak sempat menjajal. Yang jelas, kalau malam banyak pemuda-pemudi yang lewat depan hostel sembari mabuk. Kalau malas keluar hostel, bisa juga dugem di pub yang ada di dalam Shuyuan Hostel. Setiap malamnya ada tema pesta yang berbeda.

Kalau malas dengan ingar-bingar khas pub, asik juga kok nongkrong di restoran dan living room-nya Shuyuan Hostel sembari menikmati koneksi Wi-Fi. Desain bangunan dan interior Shuyuan Hostel ini sangat oriental ditambah dengan lampion merah yang digunakan sebagai alat penerangan saat malam. Jadi berasa banget kalau lagi di Tiongkok.

Saya membayar 50 Yuan saja per malam untuk kamar yang berisikan dua ranjang susun dan campur dengan tamu lain. Murah banget kan. Di sini juga tersedia fasilitas warnet dan laundry. Kalau mau beli barang-barang lucu buat oleh-oleh juga ada. Mau berkirim kartu pos sebagai gantinya oleh-oleh juga bisa.

Shuyuan Hostel ini telah membuat saya dan Nisul kesusahan hingga bertanduk saat baru tiba di Xi’an. Tapi selebihnya kami merasa puas menghabiskan tiga malam di sini. Jika tertarik untuk bermalam di Shuyuan Hostel bisa cari tahu lebih jauh di sini.

Advertisements

7 thoughts on “Perjuangan ke Shuyuan

    • kotanya rapi dan bersih, tapi orang-orangnya jorok. aku sering apes kena bau jigong orang2 lokal selama di Xi’an. hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s