India / Mancanegara / Perjalanan

Seberapa Amankah India? (1)

Pemberitaan negatif dan stereotip bahwa India jorok dan berbahaya seringkali membuat para pejalan bertanya-tanya, seberapa amankah India?

Dalam pengamatan saya sebagai pejalan, India memang jorok dan rawan. Jangan samakan bepergian ke India dengan negara maju semacam Singapura atau Jepang. Ada tiga hal yang membuat India berbeda dan perlu diketahui supaya selamat saat bepergian di sana.

Makanan

Perut saya rasanya seperti siap meledak dalam hitungan menit  saat pesawat baru saja mendarat di Kuala Lumpur setelah kembali dari Kolkata, India. Saya berjalan cepat dari pesawat menuju toilet.  Begitu sampai di dalam bilik toilet, semua makanan yang saya santap di hari terakhir di India keluar melalui tenggorokan dan mulut tanpa terkecuali.

Badan saya lemas bukan main.  Susu coklat yang saya paksa tenggak hingga tandas setelah muntah, keluar lagi melalui jalur yang sama dari badan saya. Saya muntah dua kali di terminal LCCT Kuala Lumpur. Sampai di rumah, badan saya panas dan beberapa kali berak air. Kondisi tersebut berlangsung selama kurang lebih lima hari.

Saat masih tekatung-katung di bandara pascamuntah, saya sempat konsultasi dengan teman saya, dr. Yunus (waktu itu belum resmi jadi dokter sih), via WhatssApp. Dia meminta saya untuk mengecek apakah kuku dan bola mata saya berwarna kuning. Katanya, kalau berwarna kuning maka saya terkena Hepatitis A. Glek!

Alhamdulillah, warna kuku saya masih pink (bukan karena kuteks) dan bola mata saya masih putih. Saya tidak terjangkit Hepatitis A. Namun saya terkena diare. Banyak yang bilang jika saja saya sedikit lebih lama lagi di India, maka kemungkinan besar saya akan terjangkit Hepatitis A.

Hepatitis A disebabkan oleh virus yang berasal dari kotoran manusia penderita Hepatitis A pula. Penyebarannya bisa lewat makanan, minuman, atau peralatan makanan. Intinya, Hepatitis A itu ada karena kebiasaan yang jorok. CMIIW.

Sebelum berangkat, beberapa kali saya mendapatkan imbauan agar berhati-hati saat makan karena di India semuanya serba jorok. Imbauan tersebut tidak saya hiraukan karena sudah terlalu bersemangat memanjakan lidah dengan kuliner khas India yang kaya akan rempah.

Selama terbaring sakit di rumah, saya mengingat-ingat kembali makanan yang saya habeg selama di India. Nasi briyani, ayam tandori, thali, ayam masala, momo, samosa, dan semua kuliner India yang membuat lidah bergoyang terlihat baik-baik saja dalam ingatan saya.

Namun, saya memang tidak tahu apa yang terjadi di dalam dapur.

Apakah sang koki sudah cuci tangan sebelum masak? Kalau belum, apa yang dilakukan koki sebelum masak? Buang airkah? Apakah air yang digunakan cukup bersih dan layak? Apakah peralatan memasaknya cukup bersih? Apakah cara memasaknya pun juga bersih? Bagaimana dengan kebersihan dapur itu sendiri?

Saya hanya bisa menemukan satu jawaban dari beberapa pertanyaan tersebut. Pada hari terakhir di India, saya mendapati cara masak dari rumah makan favorit saya ternyata sangat jorok—baca lagi Kulineran Sampai Diare. Cara memasak seperti itu memiliki andil besar dalam diare dan muntah yang saya derita selama lima hari.

Pada umumnya peralatan makan di restoran India terbuat dari bahan stainless steel. Namun tidak sedikit yang  sudah berkerak dan kotor. Entah karena peralatan tersebut sudah berumur atau cara mencucinya yang memang kurang bersih.

Saya masih bisa tolerir untuk menyantap hidangan dari peralatan makan dengan kondisi demikian. Karena hampir semuanya seperti itu (mau gimana lagi). Namun saya tidak menyarankan untuk meminum air dari peralatan dengan kondisi serupa. Gelasnya kotor. Dan begitu pula dengan airnya—walau sudah dimasak.  

Supaya aman saat berkuliner di India, pilihlah rumah makan yang terlihat bersih. Setidaknya dari alat-alat makan yang digunakan. Kalau mau lebih higienis lagi, lihat dulu bagaimana cara restoran tersebut dalam memasak hingga menyajikan makanan. Minumlah air dalam kemasan. Sangat tidak dianjurkan pula untuk meminum air keran (tap water) meskipun ada di mana-mana dan lazim dilakukan oleh warga lokal.

Advertisements

9 thoughts on “Seberapa Amankah India? (1)

  1. Ah, kemarin temen cewek gue baru saja melontarkan pertanyaan, “Aman nggak sih traveling ke India? Kayaknya banyak pemerkosaan.”

    Serem juga ya kalau kebersihannya kayak gitu. Masih mending Indonesia banget. Kenapa nggak langsung bahas semuanya di sini, kak? 😀

    • Mending Indonesia banget. Kalo ke sana jadi banyak bersyukur tinggal di Indonesia deh…walau kadang di sini juga suka misuh-misuh. Hahaha
      Nanti akan dibahas soal pemerkosaan. Biar ga capek bacanya jaid aku potong 😀

  2. Pingback: Seberapa Amankah India? (3) – habis | Mari Melantjong!

  3. Sebenarnya saya mau jalan ke INDIA bulan mei ini, tapi dengar cerita joroknya india jdi mikir 2 kali. Impian mau ke Taj Mahal saya tunda dulu. Terima kasih mbak Sarashanti infonya. Salam kenal

    • whuaaa semoga ditunda aja ya, mas. jangan dibatalin. hehehe
      karena sensasi berdiri di depan Taj Mahal itu tidak terdefinisi 😀
      salam kenal jugaa 😉

  4. Aku selama 3 minggu di India alhamdulillah sehat. Sempet mules sih tapi kayaknya itu mules biasa, nggak sampe diare. Naah sama, di hari terakhir trip di KL, aku kena diare. Tapi ini kayaknya karena ngehajar makanan melayu di KL Sentral haha, sudah lama gak nemu makanan pedas jadinya makannya kayak orang gila :p

    Malamnya mules, padahal penerbangan ke Palembang baru berangkat esok paginya. Alhasil semalaman ke toilet beberapa kali :p

    • wah bisa jadi karena makan kalap. karena pas hari terakhir di India aku makan kalap banget sampe diare 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s