Ulasan Bacaan

Kembali ke Akar, Kembali ke Titik Nol

Ini kali pertama saya membaca serial Supernova karya Dee Lestari hingga habis. Sebelumnya saya gagal paham dan berhenti di tengah pada seri Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Itu cukup membuat saya enggan lanjut membaca serial Supernova.

Namun hanya karena iming-iming kisah perjalanan di Asia Tenggara yang disajikan dalam seri Akar, saya bersedia membaca serial Supernova (lagi) dari tengah.

5592536

Di awal buku saya sempat lupa akan iming-iming tersebut karena terlena dengan sepotong kisah tentang Gio. Lebih tepatnya terlena dengan Peru sebagai latar tempat yang diambil.

Baru saja terlena dengan Gio, Peru, dan alam pedesaan ala Amerika Selatan, dalam sekelebat fokus cerita berpindah kepada tokoh bernama Bodhi (yang mungkin bukan tokoh utama dalam serial Supernova). Hampir sebagian besar isi buku ini adalah cerita saat Bodhi bercerita mengenai kisah perjalanan hidupnya.

Bayi Bodhi ditemukan di bawah pohon asam oleh seorang penjaga vihara bernama Guru Liong. Namun peristiwa tersebut telah diketahui lebih dahulu oleh Guru Liong lewat mimpi yang datang dua tahun sebelumnya. Demikian pula dengan kepergian Bodhi dari vihara untuk berkelana. Berawal dari firasat dan mimpi Guru Liong, Bodhi pergi meninggalkan vihara dan berkelana seorang diri mengelilingi Thailand, Kamboja, dan Laos.

Bodhi yang tidak pernah mendapatkan pendidikan formal berjuang mati-matian bertahan hidup dengan menjajal berbagai profesi di tempat-tempat yang ia singgahi. Mulai dari petugas kebersihan, tukang cuci piring, seniman tato, hingga pemetik ganja. Sesungguhnya di balik setiap profesi tersebut ada seseorang berandil besar yang memberinya pelajaran dan membentuk pola pikirnya dalam menjalani hidup.

Kalau bicara soal penokohan, sepertinya Dee Lestari cukup handal dalam menciptakan tokoh dengan latar belakang yang kompleks dan unik. Meskipun terkadang sulit terbayang di kepala saya. Terlalu banyak ragam informasi yang dimasukkan pula sehingga saya kurang bisa mendapatkan sensasi ceritanya.

Membaca seri Akar membuat saya kangen berat jalan-jalan sekaligus mengingatkan kembali esensi perjalanan. Perjalanan adalah sekolah. Selama di perjalanan kita tidak tahu siapa yang akan kita temui. Namun setiap orang yang ditemui secara tidak sengaja atau pada setiap tempat kita berpijak niscaya akan mengajari kita akan suatu nilai layaknya guru—apapun itu. Siapa yang menyangka bahwa Bodhi akan bertemu dengan Kell yang di kemudian hari menjadi sahabat, guru tato, guru perjalanan, sekaligus guru kehidupan seperti halnya Guru Liong.

Sebetulnya buku ini mengingatkan saya terhadap buku Titik Nol karya Agustinus Wibowo karena pesan yang disampaikan serupa: bagaimana sebuah perjalanan panjang bisa membuat seseorang kembali kepada titik nolnya. Hanya saja Akar adalah fiksi dan Titik Nol adalah non-fiksi.

Di situs Goodreads, saya melihat Agustinus Wibowo memberi nilai dua bintang untuk Akar. Hmm saya penasaran kenapa. Padahal sejujurnya saya membayangkan tokoh Bodhi adalah Agustinus karena sama-sama nekat, seringkali nyaris mokat, namun masih selamat. Lucky bastard. Kalau ada kesempatan ngopi-ngopi cakep sama Agustinus Wibowo bisa kali yah ditanyakan. Hehehe.

Ah ya. Buku ini juga mendorong mereka yang banyak berdiam di tempat untuk keluar dari sarang, berjalan, dan berkenalan dengan diri sendiri seperti dalam kutipan berikut.

“Satu-satunya cara untuk mengetahui asal usulmu adalah keluar, lalu kembali. Kamu pikir si Adam itu tahu dirinya istimewa kalau tidak dibuang dulu ke bumi?”

Advertisements

6 thoughts on “Kembali ke Akar, Kembali ke Titik Nol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s