Japan / Mancanegara / Perjalanan

Berteman Karena Mie Instan

Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, saat di Tokyo saya tinggal di sebuah apartemen bernama Oakhouse dengan konsep share house. Bagi-bagi rumah, berbagi rumah, atau rumah berbagi? Pokoknya yang bisa dinikmati secara pribadi hanya kamar tidur. Kamar mandi, ruang keluarga (walau tidak ada yang sudah berkeluarga), dapur, dan ruang tamu hanya ada satu dan dipakai ramai-ramai.

Pukul delapan malam adalah waktu teramai di ruang dapur dan ruang keluarga. Dapur ramai dengan bunyi ‘kelontang-kelontang’ penggorengan. Baik laki-laki atau perempuan, semua penghuni Oakhouse jago masak. Mereka mahir menyulap bahan makanan mentah menjadi sebuah menu yang sedap. Hmmm!

Saya cukup minder karena hanya memasak perbekalan yang serba instan. Dan itu cukup menjadi alasan saya untuk tidak banyak berbasa-basi dengan para tetangga. Kekekek. Namun nampaknya makanan instan yang saya masak cukup menggelitik indra penciuman mereka. Makanan itu adalah mie instan. Dua suku pertama dari merek mie instan tersebut sama dengan dua suku pertama dari nama negara kita. If you know what it is…

goreng

Ada saja tetangga yang mengajak saya ngobrol setiap saya memasak mie instan tersebut. Biasanya basa-basi diawali dengan pertanyaan, kamu dari mana? Karena orang asing di Oakhouse sedikit sekali. Itupun biasanya orang Kaukasus alias bule. Mungkin tetangga saya pada bingung mbak-mbak dekil ini datang dari belahan bumi mana.

Setelah berbasa-basi soal asal-muasal, mereka langsung bertanya tentang mie instan yang sedang saya masak atau makan.

“What do you cook?”

“Oh, it’s Indonesian instant noodle”

Biasanya saya menawarkan untuk mencoba. Sering juga mereka inisiatif sendiri meminta izin untuk mencicipi. Saat melihat mereka mencicipi mie instan tersebut saya sadar bahwa icip-icip versi orang Jepang tidak cuma sekedar membuat papilla lidah bergetar. Mereka menyuap lagi, lagi, dan lagi dalam suapan yang besar sambil bilang, “OISHII NEE!”. Atau kalau kata anak jaman sekarang, ENDEUS BAMS!

Berdasarkan pengalaman saya dalam icip-icip mie instan di negara yang saya singgahi, mie instan buatan Indonesia lah yang paling enak. Sisanya hambar, kurang mecin, ukuran kecil, mahal, dan biasanya asem. Sebetulnya saat di Jepang saya menjumpai mie instan ybs (yang bersangkutan—karena ini bukan iklan jadi saya tidak mau menyebutkan merek) di sebuah swalayan Asia. Namun konon katanya rasanya tidak seenak yang buatan Indonesia. Hmm pasti kadar MSGnya sedikit.

Yang paling menarik adalah cerita Ani-san saat ia melihat saya masak mie instan ybs.

“I ever tried that noodle before when I was in Philippines.”

Woow! Saya tidak menyangka bahwa mie instan ybs bisa sampai di Filipina dan sepertinya cukup terkenal di sana.

Di satu sisi saya bangga bahwa produk Indonesia banyak disukai oleh orang asing. Setiap saya memasak mie instan selalu ada perkenalan baru. Berkat mie instan tersebut pula saya jadi punya teman di Oakhouse. Malam-malam saya di dapur tidak lagi saya lalui seorang diri dalam diam. Cieeeee.

Namun di sisi lain saya gemas ketika melihat mereka begitu lahap saat ‘mencicipi’ mie tersebut. Sembari pasang senyum manis (senyum getir sebetulnya) saya teriak dalam hati, MIE GUE TINGGAL DIKIT WOY!

Advertisements

20 thoughts on “Berteman Karena Mie Instan

  1. Mie yg beredar di negara kita memang kaya msg jadi endes, nah utk merk yg sama tapi yg beredar di luar sono nggak seendes sini krn dikurangi terkena refulasi batas msg ngr setempat…. Hmmm jadi pengen makan mie goreng anuuuu

  2. hahaha benar tuh mie kita ya mie instant made in Indonesia lebih enak… aku dah coba yang di US juga hambar….kemanisan lah.. asem… tetap cinta mie Indonesia……….apapun merk yang disebut diatas tadi……….bukan cuma mie sebenarnya maklum ini trip pertama saya kesini, sudah 3 hari ubek ubek supermarket makanan mereka hambar hambar di lidah saya apakah saya saja karena saya berlidah asia………………tapi kalo suami di Indonesia malah terkagum kagum masakan kita enak enak,…variasi dan sehat disini uhh semua frozen book…..dan serba instant2 semua……….pantas saja org sini pada obesitas ya……………..di Indonesia malah slim slim semua……………..

  3. Mie instan membawa berkah yaaa, kapan lalu aku bawa juga rendang + orek tempe teri dan kita bagi2 di hostel saat sarapan. Mereka seneng nyobain nya meskipun kata nya cukup pedas 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s