Ulasan Bacaan

Biola Seharga Nyawa

Gambar gadis kecil berkerudung dalam grafik novel berjudul Persepolis karya Marjane Satrapi telah mencuri hati saya semenjak berada di bangku SMP. Namun otak polos saya yang masih berusia 13 tahun tidak bisa mencerna komik imut-imut dengan topik yang cukup berat: kehidupan keluarga reformis di tengah Revolusi Iran.
Baru di usia 23 tahun saya bisa menikmati karya Marjane Satrapi. Berkat perempuan inilah saya jadi semakin ingin ke Iran dan berkunjung langsung ke Persepolis City. Sayang sekali rute penerbangan AirAsia ke Tehran sudah ditutup. Selesai dengan Persepolis, saya ketiban rejeki di bulan Ramadhan dengan mendapatkan buku Chicken with Plums dari seorang teman.

chicken

Chicken with Plums diterbitkan pada tahun 2004 dalam bahasa Perancis dengan judul asli Poulet aux Prunes. Chicken with Plums bercerita tentang pamannya, Nasser Ali Khan, yang berprofesi sebagai musisi tar (alat musik tradisional Iran sejenis biola). Bak sebuah drama, kisah ini dibagi menjadi delapan babak.

Kenapa delapan?

Delapan adalah jumlah hari yang dihabiskan oleh sang paman untuk menjemput ajal dengan sengajasemenjak tar miliknya dipatahkan oleh sang istri. Baginya tidak ada lagi tar lain yang bisa menggantikan. Tidak ada tar, tidak ada musik yang bisa melantun, tidak ada lagi semangat untuk melanjutkan hidup. Hingga ia memutuskan untuk menunggu kedatangan malaikat pencabut nyawa dengan berbaring di tempat tidur.
Dalam perenungan di atas ranjang selama delapan hari, Nasser memikirkan berbagai peristiwa yang telah ia lalui dalam hidup. Nasib pernikahannya tidak bahagia. Hanya satu dari empat anaknya yang benar-benar ia sayangi. Sisanya seolah tidak peduli dengan kondisi dirinya. Sang istri tidak pernah mendukung Nasser dalam bermusik. Malah ia mematahkan tar yang menjadi nafasnya selama ini. Bagi Nasser, tindakan istrinya tersebut adalah kesalahan yang tidak termaafkan.
Nasser teringat pula bagaimana saat ia bertemu dan jatuh cinta dengan gadis bernama Irane. Namun kisah cintanya yang tidak mendapatkan restu mendorong ia melampiaskan segalanya melalui tar. Seterusnya, Irane menjadi nyawa bagi setiap lantunan musik yang mengalun dari tar miliknya. Hingga tar itupun menjadi sebanding dengan nafas seorang Nasser Ali Khan.
page80_2
Sesungguhnya melalui perenungan-perenungan tersebut Nasser Ali Khan berusaha mencari alasan kenapa ia harus melanjutkan hidup dan mengurungkan niat untuk bunuh diri secara perlahan. Namun segala ingatan pahit malah membuatnya semakin enggan untuk hidup.
Chicken with Plums adalah kisah asmara yang tidak disajikan secara menye-menye namun tetap menyentuh. Bermain tar adalah satu-satunya cara bagi Nasser Ali dalam mencintai Irane setelah keduanya tidak mendapatkan restu untuk menikah. Kekuatan cinta yang ia gunakan untuk bermain tar tersebut mengantarkannya menjadi musisi ternama sekaligus menjadi pembunuhnya di tengah rasa kecewa.
Buku ini tipis dan amat sederhana karena hanya terdiri dari ‘delapan babak’. Namun dari kedelapan babak tersebut pembaca bisa merasakan emosi Nasser Ali lewat kilatan-kilatan peristiwa mendalam yang dikenang olehnya dari atas ranjang.
Faktanya, Marjane Satrapi tidak pernah bertemu dengan pamannya, Nasser Ali Khan. Nasser Ali meninggal di tahun 1958. Sedangkan Marjane baru lahir di tahun 1969. Tentu bukanlah perkara mudah menceritakan keseluruhan kisah hidup seseorang yang tidak pernah ditemui dalam delapan babak yang amat singkat,ringan, dan emosional.
Ah…itulah mengapa saya jatuh cinta kepada Marjane Satrapi.
Ngomong-ngomong, terima kasih kepada Nobi dan Risa yang telah memberikan e-book dan buku karya Marjane Satrapi secara cuma-cuma. Dan saya pun semakin penasaran dengan Iran…
Advertisements

9 thoughts on “Biola Seharga Nyawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s