Bla Bla Bla / Japan / Mancanegara / Perjalanan / Uncategorized

Belajar (Cinta) Bahasa dari Bangsa Asing

Pada pertemuan ketiga di sebuah kelas yang saya ikuti, saya mendapatkan tugas untuk menyalin satu bagian dari sebuah artikel atau penggalan novel yang saya suka. Cukup salin saja. Katanya karena dengan menyalin kita dapat meresapi kembali makna tulisan dan juga gaya penulisan dari penggalam artikel yang bersangkutan.

Dalam tugas kali ini saya mengutip satu bagian dari buku Selimut Debu yang ditulis oleh Agustinus Wibowo. Kenapa harus Selimut Debu?

Saya suka sekali dengan catatan perjalanan Agustinus yang tidak cuma menjabarkan rute perjalanan selama sekian hari. Tulisannya adalah jendela cakrawala bagi saya yang penasaran dengan daratan Asia Tengah. Bagaimana sejarahnya, kondisi masyarakatnya, alamnya, budayanya, dari kacamata seorang pengembara di samping melihatnya melalui berita dengan warna sajian yang senada: peperangan, kemiskinan, dan keterbelakangan.

Dalam bagian yang saya kutip, dibahas mengenai keberadaan sebuah bahasa yang sifatnya amat krusial bagi sebuah bangsa.

“Tidak salah memang, di antara kelima komponen kebangsaan—wilayah, negara, bahasa, kebudayaan, dan sejarah—bahasa adalah unsur terkuat pembentuk identitas. Bahasa, alat terpenting komunikasi antarmanusia, adalah senjata paling ampuh untuk mempersatukan atau memecah belah sebuah bangsa.”

Selimut Debu, Agustinus Wibowo

Persoalan mengenai bahasa cukup menggelitik saya. Bahasa adalah identitas sebuah bangsa. Sebuah slogan lawas yang dulu sulit saya pahami maknanya. Seperti halnya menyelesaikan soal-soal fisika, semua pertanyaan butuh waktu untuk bisa dijawab. Pertanyaan saya mengenai makna slogan tersebut baru terjawab setelah saya bepergian.

Negara Jepang hanya menggunakan bahasa Jepang sebagai alat berkomunikasi. Semua marka jalan menggunakan huruf kanji, hiragana, atau katakana. Hampir semua portal berita, petunjuk wisata, dan penjelasan di museum disampaikan dalam bahasa Jepang.

Semua buku yang dijual diperuntukkan kepada orang lokal sehingga dituliskan atau diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang pula. Jika di toko buku tidak ada bagian buku impor, maka hanya kamus bahasa Inggris saja buku yang menggunakan huruf latin. Begitu pula halnya dengan perpustakaan.

Sedikit sekali orang Jepang yang bisa bahasa Inggris. Menurut Izumi—teman homestay saya saat disana—orang Jepang baru mendapatkan pelajaran bahasa Inggris di bangku SMA. Di sisi lain tidak sedikit orang Jepang yang memang enggan belajar bahasa Inggris. Mereka pun tidak sungkan-sungkan untuk menyuruh orang asing supaya belajar bahasa Jepang.

Sebegitu cintanya penduduk Jepang dengan bahasanya sendiri hingga hampir tidak memberikan ruang bagi orang asing. Namun kondisi seperti ini sesungguhnya membuat orang asing menghormati bangsa Jepang yang mencintai budayanya sendiri. Mau tidak mau para pendatang perlahan belajar bahasa Jepang. Sebagai hasilnya, tidak sedikit orang bule atau afro yang bisa berbahasa Jepang dengan lancar hingga saya dibuat takjub melihatnya.

Bahasa dan budaya itu satu paket. Orang yang belajar bahasa asing biasanya turut mempelajari kebudayaan yang bersangkutan. Orang asing yang belajar bahasa Jepang pasti akan belajar pula tentang kebudayaan Jepang. Maka dari salah satu proses itulah kebudayaan Jepang bisa berekspansi ke penjuru dunia.

Melihat Jepang yang amat mencintai bahasanya mengingatkan saya kepada bangsa saya sendiri. Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia punya satu bahasa nasional yang dideklarasikan pada tanggal 28 Oktober 1928: bahasa Indonesia. Namun sayangnya tidak semua orang Indonesia bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar (termasuk saya). Banyak orang Indonesia yang lebih suka menggunakan bahasa Inggris karena dianggap lebih keren dan terlihat lebih cerdas. Sampai-sampai sering lupa bagaimana mengungkapkan satu frasa bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia.

“Aduh, bahasa Indonesianya apa ya?”

Implikasi lain yang timbul akibat kecenderungan orang Indonesia untuk menggunakan bahasa Inggris adalah munculnya ‘bahasa banci’ yang memadukan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam satu kalimat. Padahal sangat mungkin jika dipadankan sepenuhnya ke dalam bahasa Indonesia saja atau bahasa Inggris saja.

Tidak salah jika ingin belajar bahasa asing. Karena itu juga dibutuhkan dalam era global seperti ini. Namun jangan anggap remeh dan melupakan bahasa dari bangsa sendiri. Saya setuju dengan nilai yang disampaikan oleh Agustinus Wibowo. Bahwa bahasa adalah senjata paling ampuh untuk mempersatukan sekaligus mencerai-berai suatu bangsa.

Sesungguhnya hal-hal kecil seperti itulah yang perlahan membunuh bahasa Indonesia dan juga akan membunuh bangsa Indonesia.

Advertisements

3 thoughts on “Belajar (Cinta) Bahasa dari Bangsa Asing

  1. benar sekali…. saya sempat nulis postingan sok english di salah satu postingan saya bagaimana di kantor saya, yang bos bos atau rekan saya semua sok english, nampaknya kalau semua istilah di english kan tuh kelihatan cerdas dan smart….saya aja smpe terbengong-bengong kalau dengar presentasi mereka……………..ada aja istilah baru yang jadinya wahhh gitu kalau mereka sebut……………dalam hati saya cekikikan …benar benar budaya bangsa ini gimana gitu…., belum email-email banyak yang english segala padahal orang Indonesia……..kok yang di email kecuali saya ini bule yaaa boleh lah english………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s