Japan / Mancanegara / Perjalanan

Tantangan dan Persoalan di Perjalanan

Bukannya suka mengungkit masa lalu. Tapi memang terakhir kali saya melancong adalah satu tahun lalu. Tepat satu tahun lalu saya sedang tinggal bersama keluarga pemilik perkebunan apel di pinggiran kota Morioka, Prefektur Iwate, Jepang. Sebelumnya saya tinggal selama tiga minggu di Tokyo.

Tinggal di sebuah kota yang amat sibuk dengan manusia seperti robot tidaklah mudah. Sulit sekali bagi saya untuk bisa mengatur pola hidup sehari-hari. Kapan saya harus tidur, bangun, memasak, jalan-jalan, dan menyelesaikan tugas. Tokyo tidak mengenal istilah macet seperti halnya Jakarta. Tapi ternyata badan saya rasanya mau rontok juga walau tidak bertarung dengan kemacetan.

Baru di minggu kedua saya bisa menjalani pola hidup ala kota Tokyo. Saya tinggal di sebuah apartemen yang 95% penghuninya adalah anak muda berusia 20-30 tahun. Dapur, kamar mandi, laundry, dan ruang keluargaberada pada lantai yang sama. Jadi kami memasak, mencuci, menonton TV, dan mandi bersama. Menyenangkan sekali bukan.

Saya mendapatkan teman magang dengan tahun kelahiran yang sama dengan saya. Dia doyan sekali mengeluh. Namanya Sher Ying. Mahasiswi jurusan seni rupa berkebangsaan Singapura. Keluhannya terdengar menyenangkan karena apa yang dia keluhkan (soal kerjaan) sama dengan apa yang saya rasakan.

Dua hari sebelum saya pindah ke Prefektur Iwate di utara, Sher Ying mengajak saya main ke Yokohama. Katanya di sana ada padang bunga. Wah, kebetulan sekali karena melihat padang bunga adalah cita-cita saya sejak lama.

Saya pikir saya akan teriak kegirangan ketika melihat hamparan bunga poppy berwarna merah di depan saya. Ya, emang girang sih. Tapi nyatanya tidak sampai teriak sambil koprol.

Sher Ying sibuk beraksi dengan lensa 300 mm miliknya. Saya sibuk berjalan di antara bunga poppy dalam diam. Sher Ying cukup bingung melihat saya yang banyak diam. Hingga dia bertanya, “are you really tired?”.

Bengong di antara bunga poppy

Bengong di antara bunga poppy

Saya tidak lelah sama sekali. Saya hanya sedih kenapa harus pindah ke Iwate.

Itu berarti saya harus meninggalkan kehidupan saya di apartemen beserta penghuninya. Saya sudah senang tinggal di sana. Saya sudah bersusah payah agar bisa mendapatkan pola hidup ala Tokyo. Saya tidak tahu banyak soal Iwate. Saya hanya tahu bahwa Iwate adalah salah satu prefektur yang terkena terjangan gelombang tsunami pada tahun 2011.

Saya benci kenapa ketika sudah merasa nyaman tinggal di Tokyo saya harus hengkang?

Dua hari kemudian saya berada di Morioka, ibukota Prefektur Iwate. Di saat saya masih sedih karena baru saja berpisah dengan Sher Ying, saya kaget dengan suasana Morioka yang amat sunyi seperti kota pensiunan.

Saya stress. Tidak ada orang yang bisa saya ajak ngobrol dengan lepas seperti saat di Tokyo. Saya ingat betul bagaimana saya akhirnya menangis sambil guling-guling saat menelpon Febry lewat Skype.

Selama di Iwate saya tinggal bersama empat keluarga homestay. Empat kali saya merasa amat kaku sebagai tamu baru dengan pengetahuan bahasa Jepang nol besar. Empat kali pula saya harus sedih karena harus berpisah di saat saya sedang akrab-akrabnya dengan mereka.

Entah ini kesimpulan yang sotoy atau bukan. Namun dari semua perpindahan dan perpisahan yang saya alami selama di sana, saya menyadari bahwa esensi perjalanan adalah berpindah ke tempat lain ketika kita sudah merasa senang  berada di tepat yang sekarang. Life is about leaving your comfort zone. Rasa senang itu akan timbul ketika segala kendala dan persoalan di tempat sebelumnya telah terselesaikan.

Sulit bangun pagi saat di Tokyo adalah persoalan. Memasak dengan badan rontok dan mata yang ingin sekali terpejam juga persoalan. Namun semua persoalan tersebut bisa saya selesaikan dan hari-hari di Tokyo terasa menyenangkan. Selesai dengan Tokyo, saya mengalami pola yang sama ketika di Iwate dan juga Jepang itu sendiri.

Sederhananya, akan datang persoalan dan tantangan baru setelah yang sebelumnya sudah lulus. Ujian. Ia tidak hanya hadir di dalam kelas. Namun juga saat di perjalanan.

Dan juga hidup.

Advertisements

3 thoughts on “Tantangan dan Persoalan di Perjalanan

  1. wah asik ya ,, bisa berpetualangan merasakan nikmatnya… adventure seru kayak gitu yaa… wah jepang pula.. pengennnn deh ke negara itu dari dulu belum sempat sempat ekh belum jodoh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s