India / Mancanegara / Perjalanan

Terperangkap di India Abad 18

To suddenly find yourself in a place where it feels like 5000 BC is wonderful.” – George Harrison

Kutipan di atas diambil dari catatan perjalanan George Harrison saat berkelana di India bersama salah satu model video klip A Hard Day’s Night yang baru dinikahinya, Pattie Boyd, pada tahun 1966. George menghabiskan waktu enam minggu di India untuk berguru sitar kepada Ravi Shankar, berlatih yoga, dan juga menjelajah hingga ke Kashmir di bagian utara.

Bagi saya bangunan tua ibarat mesin waktu yang bisa menarik pikiran saya kembali ke masa dimana bangunan tersebut berdiri gagah sesuai dengan fungsinya. Saat sebuah istana masih dihuni oleh raja dan ratu, ketimbang ia ramai dikunjungi orang setelah menjadi museum ratusan tahun kemudian.

Rencana menghabiskan waktu 3 x 24 jam di Jaipur memang harus terpangkas dengan terpaksa menjadi 1 x 24 jam saja (bahkan kurang) karena medan perjalanan yang oh-luar-biasa. Namun tidak ada kota yang sukses membuat pikiran saya terus menerus terperangkap di India abad ke-18 seperti halnya kota Jaipur, ibukota Rajashtan.

Jaipur adalah surga bagi mereka penikmat bangunan-bangunan indah. Jika saya ingin mengunjungi semuanya, tentu waktu kurang dari 1×24 jam tidak akan cukup. Waktu kurang dari 24 jam di Jaipur saya manfaatkan untuk mengunjungi tiga bagunan megah yang sukses membuat saya tidak berhenti berkhayal mengenai suasana bangunan ini lima ratus tahun silam.

Hawa Mahal

Kalau googling kata Jaipur, gambar yang keluar pasti bangunan berbentuk piramida berwarna pink dengan banyak jendela. Bangunan tersebut merupakan Hawa Mahal yang menjadi simbol dari kota Jaipur. Hawa Mahal berarti Istana Angin. Kenapa angin? Karena Hawa Mahal memiliki sistem sirkulasi udara yang sudah canggih pada masa itu hingga tetap terasa adem walau sedang musim panas. Bentuk bangunan ini terinspirasi dari sarang lebah dan dilengkapi oleh 953 jendela kecil.

Hawa Mahal

Simbol kota Jaipur, Hawa Mahal

 

Dulunya Hawa Mahal digunakan oleh para perempuan bangsawan di abad ke-18 yang ingin melihat situasi kota dari balik jendela tanpa harus terlihat. Karena perempuan India pada masanya banyak yang dilarang beraktivitas di luar rumah.

City Palace

Tidak jauh dari Hawa Mahal terdapat kompleks istana City Palace yang merupakan keraton Jaipur punya. Kita bisa melihat kemewahan keluarga bangsawan Maharaja Jaipur yang berkuasa di abad ke-18 di sini. Mulai dari pakaian raja, perabotan, persenjataan, hingga kamar tidurnya sekaligus.

DSC_5437

Bersama para prajurit City Palace, Jaipur

Amber Fort

Amber adalah nama dari sebuah wilayah kecil yang berada 11 km dari kota Jaipur. Butuh waktu sekitar 20-30 menit naik angkot (yep, angkot) untuk bisa sampai sini.

Amber Fort adalah istana megah sekaligus benteng dengan dominasi warna kuning dan merah yang dibangun pada tahun 1592 di atas perbukitan. Di sekelilingnya terdapat tembok panjang meliuk-liuk mengikuti lekukan bukit mirip Tembok Cina. Saya pernah mendengar soal Great Wall of India yang tidak begitu terekspos. Namun itu terletak di kota Kumbhalgarh. Empat jam dari Jaipur. Apa yang saya lihat di Amber Fort tentu bukanlah Great Wall of India yang dimaksud, tapi…cukup impresif.

Salah satu bagian dalam Amber Fort

Salah satu bagian dalam Amber Fort

Istana ini terdiri dari empat bagian utama yang dibagi berdasarkan tingkat privasi bagi para penghuninya. Mulai dari wilayah yang bisa dihuni oleh prajurit hingga khusus wilayah putri raja saja.  Bagian dalam Amber Fort cukup kompleks dan bisa membuat saya tersesat. Namun apalah arti tersesat jika saat kemanapun saya melangkah di dalam istana selalu mendapatkan pemandangan indah dari perbukitan, lingkungan istana, hingga ukiran cantik di tembok-temboknya.

Pemandangan Amber Fort dari bawah bukit semakin cantik dengan tenangnya air dari Danau Maota dan taman terapung di atasnya. Plus puluhan burung dara yang beterbangan ke sana ke mari. Aah…baru sampai di bagian bawah saja sudah membuat saya berdecak kagum.

Amber Fort, Danau Maota, dan rombongan burung dara

Amber Fort, Danau Maota, dan rombongan burung dara

Berbeda dengan Taj Mahal, ketiga bangunan yang saya kunjungi di atas banyak mendapatkan pengaruh Hindu. Setiap inci dari ketiga bangunan tersebut memancarkan keindahan dan menyedot saya untuk kembali ke India di abad 18.

Selama di sana seringkali saya membayangkan bagaimana para perempuan bangsawan mengintip aktivitas kota dari balik jendela Hawa Mahal. Bagaimana keriuhan penjaga istana ketika mengadakan perhelatan akbar semacam pernikahan kerajaan di City Palace. Bagaimana para prajurit berpesta dan beristirahat di halaman Amber Fort. Sementara itu para putri raja sedang duduk-duduk cantik sembari bergosip di atas balkon yang menghadap Danau Maota.

Jaipur berpenduduk 3.3 juta jiwa saja. Tidak sepadat Delhi atau Kolkata namun tidak sesunyi Varanasi. Sangat tenang dan damai sebetulnya jika saja saya tidak mengalami insiden Couchsurfing dan Pria India. Di seluruh penjuru kota berdiri bangunan berwarna pink hingga kota ini mendapatkan julukan The Pink City. Berada di jalanan pun tetap memerangkap saya untuk tidak keluar dalam khayalan akan India dia abad 18.

Luar biasa memang ketika berada di tempat yang bisa membawamu kembali ke ratusan tahun yang lalu. Persis saya turut merasakan apa yang dikatakan oleh George Harrison dalam catatan perjalanannya.

Advertisements

4 thoughts on “Terperangkap di India Abad 18

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s