India / Mancanegara / Perjalanan

Bus Maut ke Negeri Dongeng

Kota terakhir yang kami singgahi setelah Delhi adalah Jaipur. Ibukota dari Provinsi Rajashtan: destinasi favorit untuk mereka yang hendak berbulan madu. Di sini banyak sekali benteng dan istana bak negeri dongeng. Biasanya, pelancong yang menghabiskan waktu di Jaipur juga turut singgah di Pushkar dan Ajmer karena jaraknya tidak terlalu jauh.

Saya pun juga berencana mengunjungi Pushkar dan Ajmer. Awalnya. Kenyataannya, saya tidak mendapatkan tiket kereta sesuai dengan rencana. Alhasil waktu saya banyak habis di Varanasi dan hanya tersisa waktu satu malam saja di Jaipur. Padahal di rencana perjalanan yang sudah susah payah saya buat, saya akan menghabiskan waktu empat hari di Provinsi Rajashtan. Sengaja saya mengalokasikan waktu paling lama di Rajashtan karena terlalu cantik untuk dilewati hanya satu hari.

Kereta habis. Mau naik pesawat sudah tekor. Tidak ada pilihan lain bagi kami untuk menuju Jaipur selain menggunakan bus.

Saya membeli tiket bus di tempat yang sama dengan paket wisata satu hari ke Taj Mahal (yang ternyata merupakan wisata religi). Bus berangkat jam 19.00 waktu Delhi dan akan tiba di Jaipur keesokkan harinya pukul 06.00.

Jika membayangkan bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) yang terbayang adalah bus ber-AC dengan kursi yang nyaman untuk ditiduri. Namun setelah mengalami pengalaman pahit bersama tur religi ke Taj Mahal, ekspektasi bus menuju Jaipur kami turunkan serendah mungkin agar tidak kecewa.

Ekspektasi rendah kami semakin didukung dengan tidak jelasnya informasi mengenai dimana bus akan diberangkatkan. Mustahil bus akan berangkat dari kawasan padat seperti Pahar Ganj. Lagipula sepertinya tidak banyak turis yang akan ke Jaipur dengan menggunakan bus.

Pemilik agen wisata itu hanya menyuruh kami untuk datang ke kantornya pada tanggal dan jam yang telah ditentukan. Kami menepati jadwal yang telah ditentukan oleh agen wisata tersebut setelah menikmati Delhi di hari terakhir. Tidak ada turis lain yang terlihat senasib dengan kami.

Tidak lama setelah kami datang, muncul seorang karyawan dari agen wisata tersebut. Ia menyuruh kami untuk mengikutinya keluar dari kawasan Pahar Ganj. Saya tidak sempat ‘berpamitan’ dengan Pahar Ganj untuk terakhir kali karena cemas memikirkan nasib bus yang membawa saya ke negeri dongeng. Cemas memikirkan ada dimanakah bus tersebut? Seperti apa bentuknya? Kenapa tidak ada turis lain selain kami?

Di ujung Pahar Ganj, karyawan agen wisata tersebut memberhentikan auto-rickshaw dan menyuruh kami bertiga untuk naik. Rickshaw itu akan mengantarkan kami menuju bus katanya. Tapi, ke mana? Entah. Hanya ia dan supir rickshaw yang tahu.

Kalau orang gondok itu digaji, mungkin saya sudah jadi jutawan selama di India. Gondok karena lagi-lagi ditipu dan gondok karena gemes sama diri sendiri. Kenapa dari kemaren enggak kelar-kelar kena tipu?

Saya hanya pasrah sambil berdoa. Semoga benar akan diantar menuju bus.

Auto-rickshaw melewati kawasan Old Delhi yang terkesan usang. Jalan dengan aspal yang rusak dan berbatu. Tumpukan sampah di sana-sini. Bangunan-bangunan tua tidak terawat. Gerobak dan rickshaw berjejal memenuhi jalanan yang gelap dengan penerangan secukupnya. Kalau saya mengamati sekeliling, jalan yang saya lewati sepertinya adalah bagian belakang pasar dimana berlangsung proses bongkar muat barang.

Lamunan saya terhadap usangnya Old Delhi langsung buyar oleh suara raungan. Otomatis saya langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata suara raungan tersebut berasal dari seorang pria yang tengah ditendang dan dipukuli oleh beberapa orang. Terlihat mengerikan karena peristiwa itu terjadi persis di samping auto-rickshaw yang saya tumpangi dengan jarak yang amat dekat. Kami bertiga mencoba melindungi diri dengan menutupi wajah (siapa tahu ada pukulan nyasar) dan istighfar.

Ya, beginilah Old Delhi. Keras, bung!

Tidak jauh dari lokasi pemukulan, auto-rickshaw berhenti di sebuah kios pengiriman barang yang ternyata menjadi check point kami bertiga sebagai penumpang bus menuju Jaipur. Kami semakin takut dan was-was karena daerah tersebut sangat sepi dan tidak ada orang asing (apalagi perempuan) berlalu-lalang selain kami bertiga.

Persis di depan kios terparkir sebuah bus yang membuat kami bertanya-tanya, beneran ini busnya?

Benar, katanya. Padahal kami berharap akan datang bus lain yang lebih layak daripada yang terparkir di depan kios pengiriman barang tersebut.

IMG_7193

Busnya remang-remang hingga nyaris gelap.  Jok kursi sudah menghitam dengan busa yang keropos sana-sini. Tidak ada AC. Bagian dalam bus terdiri dari satu kursi di sisi kanan dan dua kursi di sisi kiri. Bagian atas bus tidak digunakan untuk bagasi, tetapi digunakan untuk penumpang kelas sleeper.

Normalnya bentuk bus kelas sleeper adalah berupa kursi yang bisa disulap menjadi ranjang kecil. Namun kelas sleeper dalam bus ini ibarat memasukan dua manusia ke dalam lemari kaca yang di dalamnya ada dua matras sebagai tempat tidur. Jadi ada kemungkinan penumpang tidur dengan penumpang lain yang tak di kenal dalam satu ruangan sempit dan tertutup… Yaikss!

Kelas sleeper ini lebih mahal. Awalnya kami sempat tergoda untuk membeli kelas sleeper agar bisa beristirahat dengan nyaman. Untunglah mental pelit menyelamatkan kami bertiga dari tidur seranjang dengan penumpang tak dikenal. Terlebih jika penumpang tersebut adalah pria. Hmmm.

Kami menunggu hampir satu jam di sana. Tapi tetap tidak ada penumpang lain selain kami. Sempat terpikir jika hanya kami bertiga dalam bus tersebut, kami mau kabur saja. Entah mau ke Jaipur naik apa. Bus yang gelap dan pemberitaan mengenai kasus pemerkosaan mahasiswi di dalam bus sukses membuat kami semakin paranoid.

Untunglah ada seorang bapak yang jadi penumpang bus itu juga. Ia hendak pergi menuju Pushkar (dua jam dari Jaipur) karena adiknya baru saja meninggal. Alhamdulillah masih ketemu orang baik yang menjaga kami selama perjalanan. Berkat ada beliau, kami memberanikan diri untuk melanjutkan perjalanan ke Jaipur dengan bus kaleng rombeng tersebut.

Penumpang dalam bus tetap hanya kami berempat hingga bus meninggalkan Old Delhi. Sisa penumpang lainnya diangkut dari salah satu stasiun kereta di kota Delhi (yang saya lupa namanya). Di sana bus ngetem hampir dua jam hingga bus penuh.

Menjadi penumpang pertama yang duduk dalam bus kaleng rombeng ini membuat saya menyaksikan banyak hal tidak lazim di mata saya. Di satu sisi saya takut dengan bentuk bus yang seperti itu. Tapi di sisi lain, ternyata sebagian besar penumpang bus ini adalah warga India kelas menengah.

Bahkan banyak juga hippies yang naik bus ini. Berbeda dengan kami yang bingung dan takut, mereka terlihat sangat berani dan tidak sungkan-sungkan untuk melawan kondektur bus yang meminta uang seenaknya. Walaupun hanya saling melemparkan senyum, saya sedikit tenang ada mereka. Setidaknya ada teman sesama orang asing. Hehe.

Sepanjang lorong bus dipenuhi oleh barang-barang yang akan dikirimkan ke daerah Rajashtan. Jadi jangan harap bisa berjalan melenggang di lorong bus. Untuk keluar dari tempat duduk pun sulit karena lorong sudah dipenuhi oleh barang-barang.

Setelah ngetem selama dua jam seluruh penumpang dan barang sudah naik. Mesin dinyalakan. Rasa deg-degan kembali muncul. Dengan bunyi mesin yang terdengar berat sekali untuk hidup dan berjalan,ditambah dengan muatan yang dibawanya,saya jadi ragu apakah bisa sampai di Jaipur dengan selamat?

Saya memilih memejamkan mata saja ketimbang terus menerus cemas melihat kondisi bus seperti itu. Saya mendengarkan musik dengan volume tertinggi (walau masih kalah dengan bunyi mesin), menutup seluruh wajah dengan pashmina, dan tidur. Ehm, berusaha tidur lebih tepatnya.

Dua kali tidur saya terusik saat baru saja bisa tertidur dengan pulas.

Pertama saya terbangun oleh suara orang yang tidak saya pahami mereka tengah berteriak apa. Saya berusaha melihat kondisi jalan lewat jendela. Namun tidak ada hal lain yang saya lihat selain kegelapan dan kabut yang amat tebal. Sepertinya saat itu bus akan melewati jalan setapak hingga dibutuhkan beberapa orang untuk mengarahkan jalannya bus. Bunyi mesin bus terdengar semakin mengerikan. Seolah ia berteriak ingin berhenti.

Sekali lagi saya memilih memejamkan mata kembali ketimbang semakin frustasi dengan medan perjalanan yang ditempuh oleh bus.

Kedua saya dibangunkan karena bus sudah hampir sampai. Embun di jendela bus sudah menghilang. Sinar matahari pagi mulai menyoroti bukit-bukit yang mengelilingi kota. Samar samar saya melihat banyak bangunan tua berwarna pink di sepanjang jalan. Tidak hanya satu atau dua.

Bus maut yang segan jalan mati tak mau itu akhirnya sampai juga di kota yang dijuluki sebagai Pink City: Jaipur.  Walaupun langkah bus ini terasa sangat berat, nyatanya kami bisa sampai di negeri dongeng sesuai jadwal dengan selamat. Ajaib sekaligus memacu adrenalin.

Advertisements

6 thoughts on “Bus Maut ke Negeri Dongeng

  1. salam kenal mbak Saras….saya berencana pingin liburan ke India, tapi baca tulisan embak..lebih baik urungkan saja niat…sangar…hahahaha….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s