India / Mancanegara / Perjalanan

Kulineran Sampai Diare

Pertama kali saya berkenalan dengan kuliner khas India adalah ketika saya ke Singapura. Etnis yang mendiami Singapura adalah Cina, India, dan Melayu. Maka kuliner khas Singapura tidak jauh-jauh dari kuliner khas etnis tersebut.

Seringkali saya sakau masakan India saat di Jakarta. Tapi maunya makan nasi briyani yang di samping Mustafa Centre. Hehe. Sering saya berkhayal kalau suatu saat nanti ke India, saya akan makan kuliner lokal sampai muntah. Enggak mau menjamah fastfood atau makanan apapun yang sekiranya bisa saya jumpai di Jakarta.

Saat di India saya memuaskan diri dengan makan di rumah makan lokal yang ada di pinggir jalan. Tapi hati-hati ya kalau minum air mineral. Karena airnya banyak mengandung bakteri E.Coli yang bisa bikin berak-berak dan gelasnya juga suka kotor. Jadi kalau mau aman beli air minum dalam kemasan saja.

Sepanjang perjalanan dari timur hingga ke barat India (woelah), hanya dua kali saya menemukan tempat makan yang sesuai dengan ekspektasi saya. Baik dari segi rasa maupun harga.

Pertama ketika saya di Kolkata. Di kota ini saya menemukan Maryam Restaurant yang terletak di ujung Sudder Street. Kedainya kecil dan sempit. Tapi makanannya uenak, banyak, dan murah.

Kedua ketika saya di Varanasi. Sebetulnya mencari makan di Varanasi cukup sulit. Jadi saya hanya bisa makan di rooftop restaurant yang terdapat di penginapan-penginapan. Romeo Guesthouse tempat saya menginap memiliki rooftop restaurant dengan menu masakan India yang rasanya …maknyusss! Saya suka banget ayam tandori di sini. Sayang tidak sempat saya abadikan karena keburu tandas saya lahap.

Di Varanasi ada beberapa kedai roti, namun tidak banyak. Saya sempat mencoba sarapan di kedai roti yang pemiliknya berasal dari Nepal. Setelah lelah menelusuri Sungai Gangga pagi-pagi, saya mengisi kekosongan perut saya dengan menu sarapan ala Nepal. Biasa aja sih cuma omelet yang dikasi sedikit merica, tomat, dan beberapa potongan roti. Namun yang tidak bisa saya lupakan adalah Nepali tea yang saya minum.

Nepali tea adalah teh khas Nepal (yang jenis daunannya tentu berbeda dengan yang biasa saya minum di tanah Jawa) dicampur dengan sedikit rempah. Slurp….Nepali tea adalah teh terenak yang pernah saya minum.

Saat di Delhi saya tidak menemukan tempat makan kuliner India yang asik. Mungkin karena seringnya saya makan di kawasan tempat saya menginap, Pahar Ganj. Pahar Ganj adalah kawasan yang dibuat khusus untuk wisatawan. Luas sekali. Tidak perlu takut kehabisan penginapan atau takut kelaparan karena restoran ada dimana-mana.

Sayangnya kadar rempah dalam masakan India yang saya jumpai di kawasan Pahar Ganj telah disesuaikan dengan lidah bule yang kurang suka masakan spicy. Jadi cuma warnanya aja mentereng. Tapi rasanya hambar.

Di Delhi saya melanggar janji untuk tidak makan fastfood. Saya pergi ke Mc Donald’s karena pengen ngadem dan lagi enggak mau pusing mau makan apa.

Ternyata menu makanan di Mc Donald’s India cukup unik. Tidak ada beef burger karena sebagian besar orang India adalah penganut Hindu yang tidak memakan daging sapi. Tapi jangan khawatir. Menu burger tetap ada kok. Hanya saja ‘daging’ yang digunakan adalah kentang dan juga telur.

Mc Aloo Tikki adalah burger isi kentang yang sudah dibentuk menyerupai daging burger dan dibumbui dengan tikki. Agak kocak sih liatnya. Tapi rasanya pedes-pedes endeus karena rempah dan juga saus sambal khas Mc Donald’s India. Nyuummm!!

Saat di Agra saya hanya sempat makan di area peristirahatan. Di sana saya makan thali. Sejenis roti prata tapi hanya dibakar garing dengan bumbu tikki di dalamnya. Sebetulnya enak, tapi karena harganya dinaikkan tiga kali lipat untuk wisatawan asing…rasa enaknya langsung hilang.

Kota terakhir, Jaipur, adalah kota tercantik sekaligus kota terburuk untuk kulineran. Hampir semua restoran adalah restoran vegetarian. Di sana saya makan nasi goreng vegetarian yang notabene hanya nasi putih dicampur dengan garam, paprika, dan merica. Makanan dengan rasa teraneh yang pernah saya makan di India. Membayangkannya lagi membuat saya ingin muntah.

Nasi goreng vegetarian yang rasanya....

Nasi goreng vegetarian yang rasanya….

Nasi briyani, ayam tandori, momo (sejenis dim sum), samosa, dan aneka ragam roti prata adalah makanan standar yang wajib dicoba saat di India. Jangan ketinggalan juga untuk minum chai. Teh khas India sejenis teh tarik. Uniknya, chai ini disajikan di gelas kecil yang terbuat dari tanah liat. Harganya hanya berkisar 1000 Rupiah loh.

Kolkata adalah pintu gerbang saya di India. Sebelum saya kembali ke tanah air, saya puas-puasin makan masakan India di Maryam Restaurant, Kolkata.

Saya tiba di Maryam Restaurant saat baru saja buka. Berbagai lauk masih hangat. Nasi baru saja matang dan panas. Agaknya saya menyesal telah mengamati sang juru masak saat mendinginkan nasi.

Jadi begini cara sang juru masak mendinginkan nasi:

  1. Nasi diletakkan di wadah yang besar dan luas.
  2. Nasi tersebut dikipasi dengan kipas angin yang baling-balingnya sudah dipenuhi debu hitam. Entah udah berapa tahun itu kipas angin enggak dilap.
  3. Kemudian sang juru masak mengaduk-ngaduk nasi dengan kedua tangannya tanpa sarung tangan ataupun sendok. Saya juga enggak tahu dia sudah cuci tangan atau belum.

Kami bertiga hanya bisa bengong dan mengucapkan basmalah sebelum makan supaya tidak terjangkit penyakit yang aneh-aneh karena restoran favorit kami ternyata jorok.

Entah karena sugesti atau memang makanan yang saya makan jorok, saat mendarat di Kuala Lumpur saya langsung muntah dua kali. Semua makanan terakhir yang saya makan di Kolkata keluar. Hingga saat kembali ke Jakarta saya tetap muntah sekaligus berak air. Sayapun terjangkit diare selama lima hari.

Banyak yang bilang kalau saja saya lebih lama lagi di India, saya akan terjangkit hepatitis A. Nampaknya diare adalah ritual yang harus dilalui para pelancong yang singgah di India. Belum ke India kalau belum diare.

Tapi kalau dipikir-pikir, kesampean juga ya keinginan saya untuk kulineran masakan India sampai muntah. Bahkan sampai diare.

Advertisements

5 thoughts on “Kulineran Sampai Diare

  1. huahahaha.. sama kite, tooss dulu aah 🙂
    Kalau saya pertama kali icip2 makanan India waktu traveling ke Malaysia, tempat makannya yaaa itu yg di sebelah mustafa center… kayaknya tuh tempat makan terkenal deh hehehe …

    rasa nasi briyani uughh ampun deh, rasa bumbu rempahnya berasa bangeeet .. 🙂

    • Pernah makan di Jakarta,enak juga sih tpi mahal banget dan porsinya dikit. Emang mesti India asli yg masak biar nampol. Haha

      Salam briyani! *toss*

  2. Pingback: Seberapa Amankah India? (1) | Mari Melantjong!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s