India / Mancanegara / Perjalanan

#menyesal Karena Delhi

Jalan-jalan di Delhi memang cukup berbahaya untuk perempuan. Baca kisah selengkapnya di sini.  Tapi buat apa para pelancong singgah di sini kalau tidak ada hal menarik yang bisa dikunjungi? Saya pun merasa menyesal karena ada beberapa tempat yang tidak saya kunjungi saat di Delhi.

Delhi merupakan kota terpadat ketiga di dunia setelah Tokyo dan Karachi dengan total populasi sebesar 22juta jiwa. Delhi memiliki satu wilayah teritori sendiri yang dinamakan dengan National Capital Territory (NCT) of India. Berbatasan dengan provinsi Haryana di bagian utara dan Uttar Pradesh di bagian timur.

Old Delhi dan New Delhi hanyalah sebagian kecil dari wilayah NCT yang luasnya mencapai 1484 km persegi. Kota ini memiliki sejarah yang panjang karena telah dihuni semenjak abad ke-6. Sungai Yamuna yang juga melintasi Taj Mahal menjadi bagian penting dari awal mula peradaban Delhi.

Emperor-Shah-Jahan-Empress-Mumtaz-Mahal-RARE-Mughal-Miniature-Art-Royal-Painting-200786146862-3

Shah Jahan dari Kerajaan Mughal

Pada tahun 1639, Raja Shah Jahan yang membangun Taj Mahal juga memdirikan kota yang dikelilingi tembok dan benteng. Kota tersebut dinamakan dengan Shahjahanabad yang kini dikenal sebagai Old Delhi.

New Delhi baru muncul pada tahun 1920an atas perintah Inggris untuk memindahkan ibukota India dari Kolkata ke Delhi. New Delhi dibangun di sisi selatan Old Delhi. Pembangunan New Delhi rampung sekitar 20 tahun kemudian dan resmi menjadi ibukota India pada tahun 1947.

Saya pribadi tertarik ke Delhi karena penasaran bagaimana bentukan ibukota dari sebuah negara dengan banyak kota yang begitu chaotic dan membuat siapapun yang singgah mengelus dada. Tapi sesungguhnya misi utama saya ke Delhi adalah ingin mewujudkan cita-cita untuk foto di depan India Gate yang bentuknya mirip dengan Arc de Triomphe yang ada di Paris. Hehe.

India Gate hanyalah satu dari banyak bangunan bersejarah yang menjadi simbol kota Delhi. Di gerbang yang telah berdiri semenjak tahun 1921 tertuliskan nama 70ribu tentara India yang tewas saat melawan pasukan Inggris di perang dunia pertama. Kenapa bentuk bangunannya seperti Arc de Triomphe yang ada di belahan bumi Eropa? Karena India Gate didesain oleh arsitek kenamaan asal Inggris pada masanya yang banyak berperan dalam pembangunan kota New Delhi, Sir Edwin Lutyens.

Demi menjaga kebersihan dan keselamatan India Gate dari coretan tangan tidak bertanggung jawab, wisatawan hanya bisa melihat dari dekat saja. India Gate sengaja ditutup untuk umum jadi tidak ada yang bisa menerabas masuk melewati gerbang tersebut.

Sebetulnya asik juga melewatkan malam di India Gate. Banyak juga keluarga yang piknik cantik di taman sekeliling India Gate. Yaa suasananya 11-12 lah sama Monas.

Selain India Gate, ada lagi tempat yang menjadi simbol kota Delhi dan haram hukumnya untuk dilewatkan: Qutb Minar. Qutb Minar memiliki menara tertinggi di India (73 meter) hingga menjadikannya terdaftar dalam salah satu situs warisan dunia UNESCO. Qutb Minar ini bahkan lebih tinggi daripada menara masjid (minaret) yang ada di Taj Mahal.

Qutb Minar

Qutb Minar

Qutb Minar merupakan bagian dari Masjid Quwat-al-Islam yang dibangun pada masa pemerintahan Qutb-ud-din Aibak; seorang sultan asal Turki yang pernah menguasai wilayah timur laut India. Namun kompleks Qutb Minar hanya tinggal reruntuhan karena hancur oleh gempa bumi. Nafas Islam terlihat jelas dari kaligrafi Arab Kuffic yang menghiasi kompleks Qutb Minar.

Bangunan selanjutnya yang menjadi favorit saya di Delhi adalah Jantar Mantar. Sebetulnya Jantar Mantar yang saya ingin kunjungi ada di Jaipur. Tapi ternyata ada juga di Delhi.

Kalau ke Jantar Mantar pasti akan bertanya-tanya, bangunan apakah ini? Ampiteater seperti Colloseum kah? Namun kalau untuk dijadikan ampiteater pun bentuknya janggal dan tak lazim.

Jantar Mantar dibangun pada jaman kerajaan Mughal di tahun 1724 untuk kebutuhan astronomi. Di kompleks Jantar Mantar ini ada tiga bangunan utama.

  1. Samrat Yantra. Bangunan utama berbentuk segitiga dengan sisi miring sepanjang 39 meter yang digunakan untuk melihat waktu harian dan mengamati matahari.
  2. Jayaprakash Yantra. Bangunan yang bentuknya mirip Colloseum dari luar tapi terdapat konstruksi rumit di dalamnya. Bagian ini digunakan untuk menentukan dan mengamati posisi bintang.
  3. Misra Yantra. Bangunan yang berbentuk hati terbalik ini digunakan untuk menentukan hari terpanjang dan terpendek dalam satu tahun.

Saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana mereka menggunakan ketiga bangunan tersebut sesuai dengan fungsinya masing-masing karena bentuknya begitu abstrak. Tapi keren juga mengingat saya tidak menemukan hal demikian di Indonesia. Mungkin penduduk di nusantara pada era yang sama menggunakan metode berbeda dalam menentukan kedudukan bulan, bintang, matahari, dan menghitung hari.

Masih banyak lagi tempat wajib kunjung di Delhi yang tidak sempat saya kunjungi. Kalau ingat rasanya… #menyesal. Selama di sana saya lebih memilih keliling dengan jalan kaki dan juga naik Delhi Metro—sejenis MRT India punya . Transportasi di Delhi sudah cukup memadai dan manusiawi sebetulnya. Hanya saja kalau mau mengunjungi semua tempat wajib kunjung di Delhi dengan menggunakan transportasi umum, tidak cukup waktu satu hari.

Berikut tempat wajib kunjung di Delhi yang ingin saya kunjungi tapi enggak kesampean hingga berujung dengan #menyesal

#menyesal1: The Red Fort. Benteng megah peninggalan Kerajaan Mughal. Kewl aja sih di tengah kota masih ada benteng.

#menyesal2: Humayun’s Tomb. Makam Raja Humayun dari Kerajaan Mughal. Padahal saya sudah sampai di depan gerbangnya…tapi enggak masuk.

#menyesal3: Lotus Temple. Bangunan modern yang bentuknya menyerupai bunga teratai.

#menyesal4: Jama Masjid. Masjid terbesar di India yang mampu menampung 25ribu jamaah. Nyesel berat enggak sempat merasakan solat di sini.

#menyesal5: Akshardham. Kompleks kuil Hindu yang amat megah dan luas bak halaman istana. Baru dibuka untuk umum semenjak tahun 2005.

#menyesal6: Indira Gandhi Smriti. Rumah kediaman perdana menteri ketiga India, Indira Gandhi, yang juga menjadi saksi bisu tewasnya beliau saat tertembak.

Tur keliling Delhi bisa dilakukan secara efektif dengan sewa taksi untuk berkeliling seharian. Kalau mujur sih dapet harga 1000-1500 Rupee seharian. Sialnya saya enggak dapet harga yang masuk akal buat sewa taksi keliling Delhi. Lupa persisnya berapa, tapi harga yang ditawarkan berkisar di atas 2000 Rupee.

Saya menghabiskan tiga hari dua malam di Delhi. Satu hari saya gunakan untuk menyambangi Taj Mahal dan sekitarnya. Kalau enggak mau ada tagar #menyesal karena enggak kesampean di catatan perjalanan kalian sih mesti banget sewa taksi buat keliling.

Delhi juga sama chaotic-nya dengan kota-kota lain di India. Tapi satu hal yang saya suka adalah, mereka mampu merawat peninggalan bersejarahnya dengan amat baik. Jalanan di India boleh jadi kejam, berbahaya, dan mengecewakan. Tapi keindahan arsitektur bangunan bersejarahnya tidak pernah membuat saya kecewa.

Kecerdasan para arsitek dalam membangun masjid, kuil, benteng, istana, dan makam selalu sukses membuat saya mangap. Gambaran negeri dongeng 1001 malam seolah hadir di depan mata hingga membuat saya berkhayal akan suasana India pada abad 17 ketika Kerajaan Mughal masih berjaya.

Inilah salah satu faktor yang membuat saya tetap jatuh cinta dengan India.

Advertisements

5 thoughts on “#menyesal Karena Delhi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s