India / Mancanegara / Perjalanan

Delhi yang Berbahaya

Ya..ya..ya…sudah lebih dari dua bulan saya tidak melanjutkan cerita perjalanan di India. Padahal perjalanan kelulusan itu sudah berlalu tepat satu tahun yang lalu. By the way, akhirnya saya merasakan gimana rasanya punya semangat menulis yang tinggi saat pulang kantor tapi ujung-ujungnya tidak pernah terealisasi karena energi terbuang di jalanan. Yah ibukota memang kejam.

Oke mari kembali ke India dan semoga segera tuntas agar bisa move on ke kisah perjalanan yang lain.

Mungkin sebelumnya belum saya sebutkan bahwa saya pergi ke India dari tanggal 14-23 Februari 2013. Tepat satu tahun yang lalu saya bertolak meninggalkan negerinya Shahrukh Khan.

Rasanya sedih karena masih penasaran sama wilayah Rajashtan; salah satu provinsi di bagian barat India yang memiliki banyak kota cantik dengan bangunan-bangunan bak di negeri dongeng 1001 malam. Tapi di sisi lain saya juga senang akan pulang. Kembali melihat Jakarta yang (ternyata) masih lebih manusiawi daripada kota-kota di India. Untuk pertama kalinya ada rasa senang untuk pulang setelah melakukan perjalanan.

Saya meninggalkan Kolkata di waktu senja. Bandara Internasional Netaji Subhash Chandra Bose yang sudah sangat tua terlihat jadi dramatis dengan warna langit oranye di belakangnya. Kapan bisa ke sini lagi ya? pikir saya saat pesawat bersiap di landasan pacu—padahal badan udah babak belur dan udah kenyang kena tipu sana sini.

2013-02-23 18.49.00

“Are you traveling alone in India?”

Seorang perempuan India berusia tiga puluhan yang duduk di sebelah saya membuyarkan lamunan.

“Oh, no. I’m with my two friends” jawab saya sambil menunjuk dua bangku di depan saya yang diduduki oleh Retha dan Windy.

Selama perjalanan saya banyak berbincang bersama perempuan tersebut. Di sampingnya duduk sang suami yang akan menjadi partner berbelanjanya saat di Kuala Lumpur nanti. Ia menanyakan hal yang agak sulit saya jawab,

“How is India?”

JEDAR!

Pertanyaan tersebut membuat saya flash back tentang segala ujian mental, penipuan, dan segala hal yang kurang enak selama 9 hari di sana. Sejujurnya saya tidak suka kalau harus berbohong atau basa-basi cantik demi menyenangkan lawan bicara saya. Tapi saya juga tidak ingin membuat mereka sedih karena jawaban saya yang jujur. Akhirnya saya jawab,

“India….uhmmm…ya…it’s…incredible.”

Terinspirasi dari slogan promosi pariwisata mereka: Incredible India. Tapi memang incredible sih…segala keeksotikan tempat bersejarah yang ada beserta tipu akal bulus orang-orang lokalnya.

Perempuan itu menambahkan, “Did you also go to Delhi?”

“Yeah, I did” jawab saya.

“Delhi is very dangerous for woman”, tambahnya sambil menggodekkan kepala dan memicingkan mata.

Di akhir Januari 2013, tepatnya di New Delhi, muncul kasus pemerkosaan seorang mahasiswi di dalam bus. Pemerkosaan itu dilakukan oleh lima orang pria dan berujung kepada meinggalnya sang mahasiswi setelah menjalani perawatan medis selama beberapa hari pasca tragedi.

Saya pikir kasus tersebut adalah hal luar biasa yang jarang terjadi di India. Saya cuma menjaga diri dengan tidak menggunakan pakaian yang sekiranya ‘mengundang’ seperti celana pendek atau dress selama di India. Tapi ya memang lagi dingin juga sih, siapa juga yang kuat pakai celana pendek di bawah suhu 10 derajat?

Saya datang ke ibukota India dengan pikiran yang lurus-lurus saja dan kesan pertama yang baik-baik saja.

Bandara Internasional Indira Gandhi, New Delhi, terlihat sangat bersih, modern, dan kekinian—kalau kata anak gaul jaman sekarang. Jauh berbeda dengan Bandara Internasional Netaji Subhash Chandra Bose yang membuat saya masuk ke film Bollywod tahun 60an.

Ruas jalan di kota New Delhi sangat rapi dan teratur. Tidak jauh berbeda dengan ruas jalan di Singapura. Tentunya tidak ada sapi, babi, anjing, kambing, yang berkeliaran seperti halnya di Varanasi. Warna India semakin terasa dengan bangunan kantor pemerintahan yang bergaya arsitektur lokal. Hanya ada satu-dua gedung pencakar langit berarsitektur modern yang saya lihat.

Selamat datang di ibukota!

Tapi ternyata New Delhi hanyalah tipikal ibukota negara berkembang. Terlihat sangat cantik di satu sisi tapi bobrok di sisi lain. Tidak hanya soal pembangunan fisik, tapi juga menyangkut manusianya.

Selama di Delhi (selanjutnya akan saya sebut Delhi saja karena ada sisi New Delhi dan Old Delhi) saya bagai melihat film Slumdog Millionaire di dunia nyata. Eh, padahal ini bukan di Mumbai loh.

Pengemis dan gembel dengan penampilan yang menyeramkan ada dimana-mana. Mereka tidak akan pernah letih memaksa meminta atau dibeli barang dagangannya kepada wisatawan. Belakangan saya tahu bahwa memang ada sindikat pengemis yang merusak fisik anak buahnya hingga cacat demi mendapatkan penghasilan lebih. Persis seperti yang ada dalam film Slumdog Millionaire.

Lalu, mana sisi bahayanya bagi para perempuan?

Sesungguhnya perempuan akan terancam selama berada di Delhi, dimanapun itu. Jumlah pria yang berada di luar jauh lebih banyak ketimbang perempuan. Sebelumnya sudah saya bilang kan, pria India melihat perempuan bak serigala kelaparan yang siap menerkam kapan saja. Serem, bro!

Menurut salah satu sumber yang saya baca, dalam satu hari bisa terjadi tiga hingga empat kasus pemerkosaan di Delhi. Namun tersangka pemerkosa banyak yang luput dari hukuman. Sepanjang tahun 2012, terdapat 706 kasus pemerkosaan di New Delhi. Namun hanya satu tersangka yang mendapatkan hukuman. Baca selengkapnya di sini.

158598538.jpg.CROP.rectangle3-large

Di dalam bus kota saya hanya melihat laki-laki berjejal dalam bus. Di dalam satu rangkaian kereta Delhi Metro, hanya satu gerbong yang dikhususkan untuk perempuan. Sisanya dipenuhi oleh laki-laki. Kalau saya lihat dari kacamata awam, sebetulnya Delhi sudah berusaha sedemikian rupa untuk mengurangi kasus pemerkosaan dengan memperkecil kemungkinan kontak antara laki-laki dan perempuan. Tapi tetap saja tidak terbendung.

Saya sempat bertanya kepada perempuan India yang duduk di samping saya, apa jumlah pria memang jauh lebih banyak atau perempuan dilarang untuk beraktivitas keluar rumah? Jawabnya, dua-duanya.

Selama di Delhi saya merasakan langsung bagaimana tatapan buas para pria tertuju kepada tiga wisatawan asal Indonesia ini selama berjalan di sepanjang jalan. Dan saya pun hanya bisa menlipatkan tangan dan menundukkan pandangan ke bawah sembari berdoa agar saya selamat.

Seringkali saya menerka-nerka apa yang ada di balik tatapan para pria India. Apakah mereka merasa aneh melihat perempuan berkeliaran? Ataukah mereka merasa aneh melihat makhluk asing seperti kami yang tidak bule, tidak hitam legam pula seperti orang Afrika atau Tamil, tapi tidak berhidung mancung dan beralis tebal seperti mereka? Atau memang nafsu birahi mereka langsung menyala secara otomatis ketika melihat perempuan?

Entahlah. Tapi apa yang dikatakan perempuan India yang duduk di samping saya selama penerbangan pulang memang benar adanya. Delhi is very dangerous for woman. Ia sendiripun enggan sering-sering bertolak ke Delhi. Untungnya ia tinggal di kota kecil yang damai di kawasan Bengal, bagian timur India.

Antisipasi macam apa yang harus dilakukan oleh perempuan selama di Delhi agar selamat, saya juga tidak tahu. Kalaupun jalan bareng laki-laki juga tidak menjamin akan selamat. Pasalnya laki-laki juga sering menjadi sasaran pria India. Entah untuk digebukin kalau pasangannya mau diperkosa atau jadi sasaran untuk turut diperkosa. Pppssstt, banyak juga saya lihat pasangan gay di Delhi yang sudah coming out.

Lantas saya bersyukur tinggal di Jakarta. Iya sih, macetnya memang enggak manusiawi. Tapi setidaknya saya masih bisa pergi keluar sendirian tanpa merasa terancam seperti saat di Delhi.

Walaupun sebetulnya bahaya  tetap selalu mengancam.

Advertisements

16 thoughts on “Delhi yang Berbahaya

  1. wah bener banget nih mbak biarpun saya belum pernah kesana tapi dari cerita asli teman-teman yang pernah kesana dan saya lihat berita, ada kisah yang benar-benar nyata seorang teman yang malah sangat senang hidup di Indonesia dari pada di India, katanya negara terlalu kumuh, makanya invasi orang-orang India mulai berdatangan di sini, apalagi jumlah penduduk dan persaingan hidup disana begitu ketatnya, saya pernah juga nonton “Amazing race, yang kalo tiba-tiba dapatnya India, alhasil para racernya stress berat, gimana gakk mau gila, baru mendarat saja cari taksi di diikibulin dikejar kejar sama pengemis dimana-mana..ihh ngeri saja lihatnya.., nah ketika pesertanya pindah ke negara lain sangat beda suasanannya, nah itu yang di hadapin para turis yang datang ke sana..apalagi ke kota besarnya…salut deh mbak saras bisa sukses melancong ke negeri India …

    • naaah bener banget tuh yg adegan ditipu taksi dan dikejar2 pengemis. orang India nya sendiri juga banyak yg ga betah tinggal di negaranya. huhuu jadi bersyukur tinggal di sini karena ternyata masih jauh lebih baik

  2. Pingback: #menyesal Karena Delhi | Mari Melantjong!

  3. Pingback: Seberapa Amankah India? (3) – habis | Mari Melantjong!

  4. Dear saras,aku ada rencana ke india akhir thn ini, ke negara bagian karnataka tepatnya kota bangalore… Apa km sempat kesana? Aku minta rekomendasi apa situasi nya seseram yg km ceritain…
    Thx,salam kenal
    Nike

    • hai mbak Nike,
      dulu aku enggak sempat ke Bangalore jadi kurang tahu situasi di sana seperti apa. tapi kalau kata teman yg pernah sebulan di sana sih, di sana cukup bersih mengingat Bangalore adalah salah satu pusat pengembangan teknologi di India. Salam kenal juga, Mbak Nike 😉

  5. saya barusan pulang dari India, sy berangkat tgl 13 oktober 2015, saya pergi sendiri. dan alhamdulilah tidak pernah mengalami peristiwa yg tidak menyenangkan. saya happy dan sangat menikmati perjalanan ke Delhi,Agra,Jaipur dan Pushkar. india sangat menarik, keragaman, multi culture dan keanehan2 nya memantapkan saya untuk tetap memilih india sebagai salah satu destinasi tahun ini. kekuatiran, kekacauan pikiran yang sempat merasuk sebelum berangkat karena banyak berita di internet tentang kasus perkosaan di India sempat hinggap di kepala. namun gairah berpetualang dan ingin mencoba sesuatu yang baru mengalahkan segalanya. sy bertemu Mr Raj yang baik hati, dan Sadam yang menolak tip saat dia membantu menjadi guide di Ajmeer Shareef.
    saya berjalan sendirian jam 7 malam di Jaipur ke beberapa toko dan saya tanya ke beberapa penjual apakah india aman ? its no problem lady, many women came here…you safe here in India. where you from ? …mereka ramah dan tdk memaksa saya utk membeli barang dagangannya.
    bahkan saat saya lupa nama hotel dan jalan, saya kebingungan dan mencoba mengingat nama dan jalan hotel, ada laki-laki india yang menolong dan membantu saya menemukan hotel.
    saya pikir dimanapun kita pergi harus selalu hati-hati tidak hanya di India.

    • Halo Janu!

      Memang benar kalau kita harus selalu berhati-hati di manapun. Tidak hanya di India. Setiap kota pasti punya dua sisi yang mungkin akan dialami oleh pendatang: sisi baik dan sisi buruk. Kalau saya membagikan sisi buruk yang saya alami, saya hanya ingin pembaca lebih waspada dan berhati-hati agar tidak mengalami hal kurang menyenangkan tersebut. Lagipula, perjalanan ke India adalah perjalanan saya yang paling seru. Dan masih banyak tempat di India yang kelak ingin saya kunjungi 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s