India / Mancanegara / Perjalanan

Satu Hari Dalam Tur Religi

Dengan berat hati saya kembali ke bus rombongan untuk kembali bertolak ke Delhi. Padahal sore itu matahari mulai terbenam dan mulai mengeluarkan semburat warna oranye. Seandainya saja sore itu saya masih di depan Taj Mahal….pasti Taj Mahal akan terlihat semakin cantik. KHAKH!

Ternyata Ranjit masih belum puas mengusik tiga turis asing dalam rombongan orang lokal ini. Sesaat setelah bus bertolak dari Taj Mahal, ia menghampiri kami bertiga.

Katanya, tugas ia sebagai pemandu wisata untuk mengantarkan kami bertiga sudah selesai. Hmmm gitu toh. Katanya lagi, ia tidak akan ikut bus ini hingga ke Delhi. Ia akan berhenti di Agra saja. Hmmm lalu? Lalu ia meminta uang tip dari kami sebagai upah atas jasanya mengantarkan tiga turis asing ini ke Taj Mahal.

APAAAKKHHHH???!!!

Bahkan ia tidak menjelaskan apapun mengenai Agra Fort ataupun Taj Mahal dalam bahasa Inggris. Ia memberi kami tiket bekas saat di Agra Fort dan hampir saja menjerumuskan kami untuk menyamar menjadi orang lokal agar bisa memasuki Taj Mahal dengan harga miring.

Reta memberikan 30 Rupee untuknya atau setara dengan 6ribu Rupiah. Ranjit menanyakan, apa ini dari kamu aja?. Dengan muka polos dan tidak bersalah Reta jawab, dari kita bertiga. Ranjit tampak kesal dengan jumlah uang yang berada dalam tangannya. Saya menimpalkan, you can get into Taj Mahal with that.

Ranjit meninggalkan kami tanpa sepatah kata pun. Sebenernya takut juga sih berurusan sama dia. Badannya gede banget. Kira-kira bisa menggendong dua perempuan dewasa di kedua tangannya. Hihh..

Saat itu rasanya saya ingin cepat-cepat sampai ke Delhi saja. Bersih-bersih, lalu tidur untuk meredam rasa gondok yang menghujam seharian.

Baru saja saya hendak memejamkan mata, tiba-tiba isi bus riuh dengan penduduk lokal yang berteriak menyaut pertanyaan pemandu wisata—yang bukan lagi Ranjit. Seolah-olah rasa semangat mereka baru bangkit di waktu malam setelah mengunjungi Agra Fort dan Taj Mahal. Saya tidak tahu mereka berteriak apa. Tapi mereka terlihat bersemangat untuk sesuatu.

Tidak lama setelah itu bus berhenti di daerah pemukiman. Semua peserta rombongan turun sembari bersorak riuh rendah. Seolah destinasi berikutnya jauh lebih menarik ketimbang Taj Mahal. Saya, Windy, dan Reta ikut aja kemana rombongan itu berjalan.

Ternyata bus kami mengantarkan rombongan untuk ziarah ke kuil yang konon katanya merupakan tempat kelahiran Shri Kreshna. Kuil itu nampaknya kecil. Namun menjadi menarik dengan patung Shri Kreshna yang superbesar di atasnya.

Untuk memasuki kuil tersebut tidak dipungut biaya. Namun SEMUA barang bawaan harus dititipkan. Termasuk kamera, telpon seluler, bahkan dompet. Saya dan Windy sempat ngotot mau bawa dompet. Tapi tetap tidak diizinkan. Berhubung mood udah rusak duluan, akhirnya kami bertiga memutuskan untuk tidak ikut masuk dan menunggu di warung terdekat.

Setelah kembali dari kuil Shri Kreshna, semangat para peserta rombongan (kecuali kami bertiga) seolah semakin membuncah. Saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam kuil. Namun setelah itu mereka semua terlihat seperti berdoa di dalam bus. Mungkin mendoakan Shri Kreshna dan juga berdoa untuk perjalanan pulang ke Delhi.

Anehnya, bus tidak melewati jalan besar yang dilewati saat berangkat. Bus kembali masuk ke pelosok pemukiman dan parkir di tempat yang menyerupai terminal. Sekali lagi, sebelum rombongan turun mereka kembali berdoa.

Saya dan Windy sudah tidak berselera untuk turun dan mencari tahu kemana rombongan akan pergi lagi. Tapi sepertinya Reta ketularan semangat peserta rombongan lain dan dia ikut turun menuju suatu tempat yang tidak diketahui. Saya dan Windy memilih ngobrol di dalam bus saja.

Selang satu jam kemudian, rombongan kembali ke dalam bus dan setelah itu benar-benar akan bertolak ke Delhi. Tidak mampir lagi kemana-mana. Saya penasaran, apa yang mereka kunjungi di pemberhentian yang terakhir? Reta menjawab sambil cengengesan, “ke tempat semacam musholla gitu terus berdoa banget.”

Malam itu baru saya menyadari bahwa saya tengah berada di tur religi. Bukan tur untuk wisatawan. Lagi-lagi saya tertipu. Pantas saja tidak ada orang asing selain kami. Kondisinya juga jauh berbeda dengan paket tur satu hari yang pernah saya ikuti saat di Vietnam. Agra Fort dan Taj Mahal mungkin bukan yang utama jika dibandingkan dengan tempat peribadatan yang dikunjungi setelah Taj Mahal.

Saran saya sekali lagi, jangan pernah ikut paket wisata saat di India.

Advertisements

4 thoughts on “Satu Hari Dalam Tur Religi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s