India / Mancanegara / Perjalanan

Taj Mahal Sekejap Saja

Kalau ketahuan curang, kami betiga bisa dikeluarkan dari barisan antrian yang bisa berakibat ditonton banyak orang, dan ujung-ujungnya harus beli lagi tiket untuk wisatawan asing. Paling berat sih nanggung beban malunya itu lho.

Akhirnya kami bertiga menolak mentah-mentah tawaran Ranjit untuk menyamar menjadi penduduk lokal demi tiket murah. Tapi Ranjit tetep kekeuh-sumekeuh menawarkan sampai bus tiba di Taj Mahal. Tanpa mengindahkan ocehan Ranjit, kami bertiga langsung ngacir naik rickshaw menuju pintu masuk.

Pintu masuk menuju Taj Mahal dibedakan berdasarkan jenis kelamin dan harga tiket masuk. Laki-laki di sisi kanan gerbang dan perempuan di sisi kirinya. Dalam antrian tersebut, barisan dibagi lagi berdasarkan harga tiket. Ada dua tanda panah bertuliskan low value ticket price dan high value ticket price.

Jadi berdasarkan tanda panah itu, bisa saja penduduk lokal membeli tiket untuk orang asing alias high value ticket price.

Hampir tidak ada barisan antrian untuk sisi high value ticket price. Kami bertiga bisa melenggang dengan lancar sampai ke pintu masuk. Namun tidak demikian halnya di sisi low value ticket price. Antriannya kurang lebih sama seperti antrian masuk arena arung jeram di Dufan. Oh, mungkin jika saya nekat membeli tiket masuk untuk turis lokal, kerugian saya akan bertambah dengan menghabiskan waktu di barisan antrian.

Sampai di pintu masuk, pengunjung akan melewati pemeriksaan seperti halnya di bandara. Isi tas juga akan digeledah. Makanan atau minuman yang ada di dalam tas akan disita tanpa ampun dan bersisa. Maksudnya, supaya tidak mengotori area Taj Mahal.

The Great Gate

The Great Gate

The Great Gate tidak jauh dari pintu masuk utama Taj Mahal. Di balik gerbang itulah berdiri tanda cinta yang rampung dibangun setelah dua dekade pada awal abad ke-17.

Ya, butuh waktu 22 tahun untuk membangun Taj Mahal hingga selesai. Dan butuh menunggu 22 tahun bagi saya untuk bisa berhadapan langsung dengan bangunan indah tersebut.

Saya penikmat bangunan. Walau saya bukan arsitek dan tidak paham betul mengenai arsitektur. Tapi baru kali ini saya merasa deg-degan dan terharu saat berhadapan dengan bangunan bernama Taj Mahal.

Walaupun sudah berdiri selama ratusan tahun, Taj Mahal masih mampu memancarkan aura yang menakjubkan bagi siapapun yang melihatnya. Entahlah mungkin karena dibangun dengan segenap kekuatan cinta Shah Jahan kepada Mumtaz Mahal. Saya setuju bahwa berkunjung ke Taj Mahal adalah satu hal yang harus dilakukan sebelum mati. One of must things to see before you die.

Taj Mahal dibangun pada masa kejayaan kerajaan Moghul—kerajaan Islam yang berpengaruh besar untuk peradaban di wilayah Asia Tengah seperti India, Pakistan, Bangladesh, Afghanistan, dan Tajikistan. Shah Jahan adalah salah satu raja yang mampu membawa kerajaan Moghul ke zaman keemasan. Pada masa pemerintahannya inilah dibangun Taj Mahal yang merupakan makam nan besar dan indah (biasa disebut dengan mausoleum dalam bahasa Inggris) untuk Mumtaz Mahal; istri ketiga Shah Jahan yang meninggal saat melahirkan anak ke-14.

Taj Mahal lewat lensa saya

Taj Mahal lewat lensa saya

Taj Mahal disebut-sebut sebagai contoh arsitektur terbaik dari masa kerajaan Moghul yang mengkombinasikan gaya Islam, Persia, Turki Otoman, dan India. Untuk membangun Taj Mahal ini dibutuhkan 22.000 pekerja dan 1000 ekor gajah untuk mengangkut material bangunan. Seluruh material yang digunakan untuk membangun Taj Mahal didatangkan dari seantero kawasan Asia.

Banyak mitos yang beredar seputar Taj Mahal. Konon, tangan para pekerja dipotong seusai membangun Taj Mahal supaya tidak ada lagi bangunan serupa yang berdiri. Namun nyatanya di beberapa negara ada bangunan yang sengaja dibuat untuk menyerupai Taj Mahal. Tapi ya tetep aja auranya beda dan tidak semegah Taj Mahal.

Mitos lain yang beredar adalah, konon di seberang Sungai Yamuna akan dibangun saudara kembar Taj Mahal versi hitam bagi Shah Jahan. Sayang sang raja harus turun tahta oleh anaknya sendiri sehingga rencana tersebut tidak pernah terealisasi.

Bentuk Taj Mahal memang menyerupai masjid. Namun sesungguhnya di dalam Taj Mahal hanya ada makan Mumtaz Mahal dan Shah Jahan. Itupun makam yang dilihat oleh wisatawan adalah makam replika. Makam yang sesungguhnya berada di lantai bawah tanah dan pengunjung dilarang masuk. Bahkan, berdiri lama di depan tangga menuju ruang bawah tanah juga dilarang.

Mejeng dikit. Challenge accepted, bro!

Mejeng dikit. Challenge accepted, bro!

Dinding Taj Mahal bagian luar dan dalam bertatahkan kaligrafi dari beberapa ayat suci Al-Qur’an. Setahu saya, kerajaan Islam saat itu memang melarang untuk memasukkan unsur makhluk hidup seperti manusia atau hewan sebagai ornamen bangunan.

Sayang batu marmer bagian dalam Taj Mahal agak menghitam karena banyak disentuh tangan wisatawan. Oh,iya. Masuk ke dalam Taj Mahal seperti halnya masuk masjid yang mengharuskan pengunjungnya melepas alas kaki.

Masjid Taj Mahal

Masjid Taj Mahal

Di kedua sisi Taj Mahal berdiri masjid dengan warna bata merah yang senada dengan The Great Gate. Setiap hari Jum’at Taj Mahal tutup bagi wisatawan karena area masjid akan digunakan untuk shalat Jum’at. Jadi hindari bertolak ke Agra pada hari Jum’at kalau enggak mau memble di depan gerbang Taj Mahal.

Saran saya, JANGAN PERNAH KE TAJ MAHAL DENGAN MENGGUNAKAN PAKET WISATA. Kenapa? Karena saat itu saya hanya singgah 2 jam saja dan enggak puas sama sekali untuk mengeksplor Taj Mahal. Waktu untuk sesi foto cantik jadi sangat terbatas. Saya juga tidak sempat shalat di Masjid Taj Mahal dan tidak bisa menyaksikan matahari tenggelam.

Huhuuuu…nyesek! Harus balik lagi! #eh

(Masih) bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s