India / Mancanegara / Perjalanan

Delhi – Agra 1×24 Jam

Kami hanya punya waktu dua malam di New Dehi. Dua malam tersebut harus bisa dimanfaatkan untuk berkeliling kota dan tentunya menyambangi tanda cinta yang melegenda itu: Taj Mahal. Sayangnya, Taj Mahal bukan di New Delhi. Melainkan di Agra yang harus ditempuh selama tiga jam dari ibu kota.

Selama di Delhi kami menginap di kawasan Main Bazaar, Pahar Ganj. Pahar Ganj adalah semacam kawasan backpacker yang menyediakan segala kebutuhan para pelancong: penginapan (tentu saja), restoran, toko cinderamata, money changer, hingga agen wisata.

Mengingat terbatasnya waktu, kami mengambil jalan pintas untuk berkunjung ke Taj Mahal menggunakan paket wisata satu hari (one day tour). Di sepanjang jalan Pahar Ganj banyak sekali agen wisata yang agresif menawarkan paket wisata mereka.

Ada seorang pria yang berhasil membuat kami masuk ke kiosnya. Pria tersebut berasal dari Kashmir. Bagian utara India yang berbatasan dengan Pegunungan Himalaya. Di dalam kiosnya itu ia menawarkan paket sewa mobil beserta supir untuk berkeliling kota Agra seharian.

Terdengar menarik, namun harga yang ditawarkanpun sangat fantastis yaitu sekitar 9ribu rupee. Kami menolak mentah-mentah tawaran tersebut. Namun ia tidak menyerah dengan menunjukkan buku berisi kumpulan testimoni para klien yang pernah menggunakan jasanya. Sempat tergoda untuk berkata iya. Namun isi dompet tidak bisa dibohongi. Lagipula harga yang ia berikan memang terlalu mahal.

Kami berpisah dengan pria Kashmir yang tidak saya ingat namanya. Tidak jauh dari kiosnya, kami menemukan agen wisata yang pemiliknya adalah seorang pria berturban. Ternyata paket yang ditawarkan lebih menarik dan terjangkau.

Dengan 500 Rupee kami bisa mengunjungi Agra Fort, Taj Mahal, dan satu kuil yang tidak saya ingat namanya. Berangkat dari pagi hari dan kembali di Delhi pada malam hari. Panduan wisata akan dijelaskan dalam bahasa Hindi dan Inggris. Oke sip!

Keesokan harinya sekitar pukul 5 pagi kami sudah siap di agen wisata tersebut. Anehnya, tidak ada turis asing lain yang menunggu kedatangan bus selain kami. Setengah jam berlalu. Kemudian ada seorang pria India yang menyuruh kami untuk berjalan bersamanya menuju bus.

Kami sudah membayangkan akan ada bus wisata eksekutif dengan wisatawan lain di dalamnya. Seperti saat saya ikut tur satu hari ke Cu Chi Tunnel di Vietnam. Seperti yang saya lihat dalam poster yang tertempel dalam kantor agen wisata tersebut.

Ternyata kondisi acara tur satu hari tersebut sangat JAUH berbeda dari ekspektasi kami.

Kondisi bus setara dengan bus Mayasari Bakti yang non-AC (atau bahkan lebih buruk). Untungnya Delhi sangat dingin di bulan Februari. Jadi tanpa AC pun tidak masalah.

Hampir semua peserta tur tersebut adalah orang lokal yang membawa serta keluarganya. Hanya kami wisatawan asing di dalam bus tersebut. Kami menjadi peserta tur yang paling mencolok dari segi penampilan. Terlebih gaya berbusana kami semaacam turis yang siap foto-foto kece depan Taj Mahal. Antara malu dan risih jadinya. Heuuu.

Sempat timbul rasa ragu, apakah benar ini bus yang akan membawa penumpangnya ke Taj Mahal dan akan kembali lagi ke Delhi? Menurut seorang bapak yang duduk bersama Retha sih, betul.

Tidak lama setelah itu muncul sang pemandu wisata. Daaaan dia memandu para peserta dengan bahasa apa saudara-saudaraaa? Bahasa Hindi saja. Titik. Tidak ada panduan dalam bahasa Inggris sama sekali.

Di pagi yang gelap itu, lagi-lagi saya kecewa lantaran merasa tertipu dengan paket tur satu hari yang kami ikuti. Namun tidak ada pilihan lain selain bersabar untuk tetap berada dalam bus tersebut hingga tiba di Taj Mahal. Semoga rasa kesal dan gondok nanti akan hilang saat berhadapan dengan bangunan putih tersebut. Fiuhh!

Bus melaju di tengah kesunyian gersangnya padang rumput kawasan Haryana. Di tengah perjalanan saya sempat memergoki bus sejenis dengan satu orang wisatawan asing saja di dalamnya. Agaknya ia mengalami hal yang sama seperti kami. Yeaah ada temannya! :p

Udara dingin New Delhi sudah berganti dengan hawa yang kering dan terik. Jaket saya tanggalkan. Hawa gersang tersebut terus menyelimuti hingga bus tiba di Agra.

Agra bak kota mati. Tidak ada hiruk pikuk keramaian dan kalau mau dianggap sebagai kota modern juga tanggung. Kondisinya kurang lebih sama dengan Varanasi City. Namun di antara kota mati tersebut sesekali saya menemukan sisa bangunan dari era kerajaan Moghul yang masih berdiri hingga sekarang.

Bangunan peninggalan era kerjaaan Moghul didominasi batu bata merah dengan model yang terlihat setipe. Mirip dengan Agra Fort, namun versi mini. Hingga kini bangunan semacam itu digunakan untuk fasilitas publik seperti sekolah, gereja, atau hotel. Bangunan-bangunan klasik tersebut melayangkan pikiran saya ke kota Agra pada zaman pemerintahan kerajaan Moghul.  Hhmmm pasti Agra adalah salah satu kota yang cantik pada masanya.

Pemberhentian pertama adalah Agra Fort. Saat di Agra Fort, pemandu wisata berjanji akan menjelaskan mengenai tempat tersebut dengan bahasa Inggris. Tapi nyatanya? Hingga kembali ke bus penjelasan mengenai Agra Fort dituturkan dalam bahasa Hindi. Tidak ada penuturan dalam bahasa Inggris. Lebih-lebih, tiket yang diberikan kepada kami (dengan harga turis asing tentunya) adalah tiket bekas. BAH!

Image

Taj Mahal dari atas Agra Fort

Agra Fort adalah benteng yang indah dan rasanya tidak akan bosan jika menghabiskan waktu agak lama di sana. Dari atas benteng ini pula saya bisa melihat Taj Mahal beserta Sungai Yamuna dari kejauhan. Sayang Sungai Yamuna kini tidak terawat. Begitu pula dengan lingkungan sekitarnya. Pada zaman kerajaan Moghul, Taj Mahal pasti bersinar dari kejauhan di antara bangunan yang didominasi warna merah bata.

Namun jangan suruh saya bercerita mengenai Agra Fort. Selain karena pemandu wisata bercerita dalam bahasa Hindi (hingga saya tidak tahu menahu mengenai tempat itu), acara jalan-jalan di dalam benteng hanya sekelebat mata. Alias cepet banget. Mau foto-foto pun takut keburu ditinggal rombongan.

Bagian dalam Agra Fort. Sayang cuma sebentar di sana.

Bagian dalam Agra Fort. Sayang cuma sebentar di sana.

Yaa sesungguhnya rasa murka saya yang paling memuncak selama di India adalah saat di Agra Fort bersama rombongan ini.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s