India / Mancanegara / Perjalanan

Menembus Kabut Pagi dari Atas Sungai Suci

Waktu di Singapura telinga saya sangat akrab dengan nama Dhobby Ghaut. Salah satu stasiun transit MRT yang terletak di kawasan Little India. Sangking berkesannya sama nama Dhobby Ghaut saya sampai googling untuk mencari tahu arti dari nama tersebut.

Hingga saat ini saya masih sulit menemukan legenda Dhobby Ghaut yang sesungguhnya. Tapi setidaknya saya tahu bahwa kata ghaut berasal dari nama ghat. Ghat sendiri merupakan tempat semacam tangga-tangga atau teras yang menjorok ke bahu sungai. Di sinilah biasanya orang-orang India beraktivitias.

Ghat dengan definisi demikian sepertinya tidak bisa saya temukan lagi di Singapura. Namun suasana ghat sesungguhnya yang masih sama dengan dua ratus tahun lalu masih bisa ditemukan di kota Varanasi.

Pusat aktivitas penduduk lokal dan juga para turis terpusat di kawasan Varanasi Old City. Di sini setidaknya terdapat delapan puluh ghat yang telah gagah berdiriย di tepian Sungai Gangga semenjak abad 18. Sebagian besar ghat masih mempertahankan arsitetur asli dengan batu bata merah sebagai ciri khasnya.

gangga

 

Dari delapan puluh ghat, ada dua ghat yang tidak boleh luput dikunjungi: Dasaswamedh Ghat dan Manikarnika Ghat. Arus manusia paling deras mengalir dari Dasaswamedh Ghat yang telah berdiri semenjak tahun 1748. Sebagai ghat terbesar, Dasaswamedh biasa digunakan untuk melakukan upacara puja yang diselenggarakan setiap hari pada pagi dan sore.

Dasaswamedh berasal dari kata dasa (sepuluh), aswa (kuda), dan medh (kurban). Berdasarkan mitologi yang ada, konon Dewa Brahma mengurbankan sepuluh kuda di ghat ini.

Manikarnika Ghat terkenal sebagai tempat kremasi jenazah dan dipercaya sebagai tempat paling menguntungkan untuk kremasi. Proses kremasi boleh ditonton oleh siapapun namun pengambilan gambar dilarang keras selama kremasi berlangsung.

Umumnya cara termudah untuk menikmati puluhan ghat tersebut adalah menelusuri Sungai Gangga dengan menggunakan perahu dayung. Istilah bekennya sih sunrise boat atau sunset boat. Yup, ada dua pilihan waktu untuk menikmati deretan ghat tersebut dari atas Sungai Gangga. Pagi atau sore.

Sekitar jam enam pagi saya, Windy, Reta, beserta Josie dan Steve sudah siap menembus kegelapan dan dinginnya pagi di kota suci Varanasi. Pagi hari di awal Februari itu suhu berada pada kisaran 12 derajat Celcius. Kabut masih sangat tebal dan anak tangga yang curam menuju Sungai Gangga masih basah oleh guyuran hujan pada malam sebelumnya.

Di antara kabut pagi itu pula telah terdengar para pendayung perahu berlomba-lomba menawarkan jasanya kepada turis.

Menelusuri Sungai Gangga pagi-pagi buta di antara kabut tebal dengan suhu musim dingin bulan Februari membuat wajah serasa ditampar dengan air es. Namun hawa yang dingin tersebut tidak menyurutkan niat penduduk lokal untuk memulai aktivitas di Sungai Gangga. Baik aktivitas yang sifatnya keagamaan ataupun yang tidak.

Mandi, sikat gigi, mencuci, berdoa, ibadah berjamaah, kremasi, melarung abu kremasi, melarungkan doa, menenggelamkan jenazah, berdagang, bertapa, bermain, berdansa, semua bisa dijumpai di bahu sungai suci ini.

Perlu diketahui pula bahwa aktivitas berdagang juga berlangsung di atas Sungai Gangga. Bentuknya mirip seperti pasar terapung yang ada di Kalimantan. Hanya saja para pedagang di sungai suci ini menjajakan barang dagangannya dengan cara menghampiri perahu turis satu persatu.

Hal yang menarik perhatian saya adalah pedagang flower candle. Flower candle adalah rangkaian bunga kecil dengan lilin di atasnya. Setelah lilin dinyalakan, biasanya flower candle dilarungkan ke Sungai Gangga sembari memanjatkan doa. Konon katanya doa yang dipanjatkan di sini akan dikabulkan.

Sebagian besar penduduk India masih terikat dengan ritual tradisional yang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Dari atas sungai suci ini gambaran kehidupan penduduk India yang unik dan masih sarat dengan tradisi tersaji dengan sempurna di balik kabut pagi.

Kemudian saya membayangkan aktivitas demikian mungkin juga pernah berlangsung di kawasan Dhobby Ghaut yang kini menjadi stasiun MRT di Singapura.

Advertisements

10 thoughts on “Menembus Kabut Pagi dari Atas Sungai Suci

    • Kalo dibilang kurang aman sih…banyak juga yah pelancong yg ke sana. Hati2 aja sama penduduk lokal karena seneng bgt nipu dan nodong. Kalau mau bawa teman perempuan juga harus dijagain baik2 karena mata lelaki India ganas sekali. Hehe ๐Ÿ˜€

  1. Dhobby ghaut sebenarnya adalah sebuah nama tempat ” Dhobi Ghat ” merupakan tempat laundry terbesar di india di Mumbai bahkan di dunia . Laundry nya make air sumur yg jumlahnya puluhan dan nyucinya pake tangan. Jumlah pekerja nya buanyak. Pernah dapat World Amazing Record dari World Record Certificate sebagai Tempat Laundry terbesar di dunia waktu itu . Sama halnya dgn di Singapura, Di daerah Dhoby Ghaut dulu sampai awal 1900 an disitu merupakan tempat laundry pula. Sehingga di namakan Dhoby Ghaut or Dhoby Ghat . Dhobis artinya orang yg pekerjaanya mencuci

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s