India / Mancanegara / Perjalanan

Kembali ke Zaman Nabi di Varanasi

Kisah cinta yang digantung itu enggak enak. Tapi lebih enggak enak lagi kalau yang digantung adalah kisah perjalanan. Setelah main-main ke negeri sakura, yuk mari lanjut ke kisah perjalanan saya di India.

Di kisah sebelumnya saya baru saja tiba di sebuah kota yang dilewati oleh sungai paling sakral di India, Sungai Gangga. Kedatangan kami bertiga disambut meriah oleh rickshaw yang tumpah ruah di lapangan parker Stasiun Varanasi Junction. Di sana kami berpisah dengan dua turis perempuan asal Inggris dan Amerika.

Varanasi hanyalah kota kecil yang seolah jauh dari sentuhan peradaban. Ruas jalan dengan aspal yang tidak mulus sangat lengang. Tidak ada lautan manusia yang memenuhi jalan seperti halnya di Kolkata. Hanya ada satu dua orang berlalu-lalang. Sisanya adalah hewan liar yang tidak akan mungkin dijumpai di tepi jalan raya Jakarta: sapi, kuda, anjing, babi, keledai, kambing. Tentu tidak lupa beserta kotorannya yang berceceran.

Taksi hampir sulit ditemui. Kendaraan yang bisa diandalkan hanyalah rickshaw. Mungkin karena lengangnya jalanan, rickshaw bisa bebas meluncur seenak jidat dalam kecepatan tinggi. Tak terhitung berapa kali rickshaw yang kami tumpangi hampir menabrak sapi. Tidak lupa,aksi ngebut para rickshaw semakin lengkap dengan bunyi klakson yang memekakkan telinga.

Kedatangan kami di Varanasi disambut oleh hujan kencang disertai petir satu hari penuh tanpa henti. Bisa dibilang hari pertama di Varanasi matgay (mati gaya) pisan. Alhasil kami cuma bobok-bobok cantik sembari menonton petir bersahutan dari dalam kamar.

Tinggal di kawasan Old City Varanasi membuat saya merasa kembali ke zaman nabi. Gang-gang sempit dari batu bata merah mengular dengan rumitnya bak labirin yang gagal terpetakan. Jalan ini menimbulkan tantangan tersendiri bagi siapapun yang melewatinya.

DSC_4713

Jika malam telah tiba, berjalan menembus gang sempit ini rasanya seperti Josh Lambert yang mencari anaknya di alam baka dalam film Insidious. Gelap gulita dan tidak terlihat apa-apa. Bedanya yang menghadang di tengah jalan adalah sapi. Bukan jasad manusia yang menjadi hantu.

Di sepanjang labririn ini banyak sekali ‘ranjau darat’ alias kotoran sapi yang menggunung dan berceceran. Namun kehadiran kotoran sapi itu bisa juga dimanfaatkan sebagai penanda jalan.

Walaupun di gang sempit ini banyak sekali penginapan dan tidak sedikit pula turis berlalu lalang, ternyata mencari tempat makan bukanlah perkara mudah. Tempat makan untuk para turis tidak banyak sehingga tidak ada pilihan lain selain makan di rooftop restaurant dari penginapan yang kami tinggali, P.G. on Gangas Hotel.

Sayangnya malam itu rooftop restaurant tersebut sudah terlalu basah oleh guyuran hujan yang turun selama satu hari penuh. Alhasil kami memilih makan malam di rooftop restaurant penginapan lain. Di momen makan malam itu kami bergabung dengan pasangan muda yang juga menjadi tetangga sebelah kamar di penginapan. Mereka adalah Josie dari Cina dan Steve dari Australia.

Saat bertemu dengan dua turis perempuan asal Amerika dan Inggris di dalam kereta, mereka sering diajukan pertanyaan standar oleh orang lokal: what do you think about India?

Si perempuan Inggris (sebut saja Adele karena wajahnya mirip dengan pelantun tembang Someone Like You) menjawab dengan sangat sopan, “Ou yeah India is very great.”

Saya cuma bisa bergumam ‘eummm maca ciih?’ dalam hati saat mendengar jawaban Adele. Heidi yang berasal Amerika pun ngangguk-ngangguk sambil senyum seolah menyetujui pernyataan si Adele. Oh mungkin bule suka yang khaotik begini, saya pikir. Eh ternyata saat turun dari Amritsar Express, si Heidi sangat kaget melihat suasana stasiun sambil bilang “oh my God” berkali-kali.

Ya begitulah. Terkadang turis suka kesulitan berkata jujur tentang kesannya terhadap tempat yang dikunjungi. Terlebih jika yang menanyakan hal tersebut adalah penduduk lokal.

Namun tidak demikian halnya dengan Josie dan Steve. Mereka berdua adalah pasangan yang sangat blak-blakan dan jujur apa adanya. Malam itu kami berlima puas ketawa sambil nyinyir dan berkeluh kesah atas segala rasa lelah selama mengarungi beratnya medan perjalanan di India.

Varansi. Kota yang membawa pengunjungnya kembali ke zaman nabi dengan segala kekacauannya ini seolah menjadi puncak dari rasa muak Josie dan Steve. Hingga akhirnya mereka pun memutuskan langsung hengkang ke Kathmandu, Nepal, setelah nantinya selesai menghabiskan dua malam di Varanasi.

Advertisements

4 thoughts on “Kembali ke Zaman Nabi di Varanasi

    • aaaah iyaaa makasih koreksinya, Mas! Varanasi memang salah satu kota besar di provinsi Uttar Pradesh yah 😀
      iyaa seru banget naik sunrise boat. bisa nonton banyak hal yang India banget 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s