Bla Bla Bla / Japan / Mancanegara / Perjalanan

Catatan Senja dari Kuji

Malam ini saya baru ngeh kalau isi folder My Document sangat berantakan. Saat berusaha membersihkan dokumen tersebut satu persatu, saya menemukan curhatan saya saat bermukim di bagian utara Pulau Honshu: Kuji. Selamat menikmati! 😀

DSC_0842

Enam hari lagi saya resmi terhitung tinggal di negara ini selama satu bulan. Mulai dari kota besar sekaliber Tokyo hingga ke desa semacam Kuji. Siapa sih yang nggak tahu Tokyo? Ibukota dari salah satu negara Asia yang sangat powerful dan sangat pantas untuk disandingkan dengan negara-negara Eropa atau Amerika. Yah namanya juga ibukota, selama di Tokyo saya selalu melihat hal yang bersifat glamour (tolong dibaca pake hukum qalqalah sughra). Kemanapun stasiun pemberhentian yang saya lalui pemandangannya hampir seragam: gedung pencakar lagit, deretan toko dan pusat perbelanjaan. Hal yang masih mudah saya jumpai saat tinggal di Jakarta.

Dua minggu saya hilir mudik Tokyo. Kadang sendirian, kadang ada barengan. Dinamika Tokyo yang begitu cepat membuat lima belas hari di Tokyo terasa berlalu sekelebat saja. Hari ke enam belas saya hengkang ke utara pulau Honshu, tujuh jam dari Tokyo.

Morioka City yang terletak di Prefektur Iwate menjadi kota kedua saya selama menjalani masa magang ini. Butuh waktu cukup lama untuk beradaptasi dari kota yang sangat deras dengan arus manusia ke kota kecil yang sangat damai. Hari kerja dan hari libur tidak ada bedanya. Kota tetap sepi, namun rombongan manusia dan kemacetan masih bisa dijumpai.

Satu minggu di Morioka, saya pindah ke kota yang berada di pesisir pantai dan berbatasan dengan Prefektur Aomori di penghujung utara pulau Honshu. Kuji. Salah satu kota yang juga sempat dihancurkan gelombang tsunami pada bulan Maret 2011.

Sebelumnya saya sudah diberitahu bahwa Kuji adalah kota miskin berkat dampak tsunami. Sulit membayangkan seperti apa kota miskin di negara semaju dan semahal Jepang. Tapi ya, begitulah sebuah negara. Tidak semua bagiannya makmur secara merata.

Untuk mendapatkan gambarannya, mari kita lakukan perbandingan antara Tokyo, Morioka, dan Kuji.

Transportasi dalam kota bukanlah perkara sulit di Tokyo. Subway dengan beragam jalur yang cukup memusingkan saling menghubungkan seluruh penjuru kota. Bus dan taksi juga mudah dijumpai. Di Morioka, sebagian besar transportasi dalam kota mengandalkan bus. Stasiun kereta juga hidup, namun tidak seperti Tokyo. Di Kuji, masalah transportasi hanya bisa mengandalkan kendaraan pribadi, sepeda, atau jalan kaki. Stasiun kereta? Ada sih, namun jumlah gerbong dalam satu rangkaian hanya ada satu.

Masalah koneksi internet.

Walaupun tidak memiliki nomor lokal, saya masih bisa mendapatkan koneksi internet di homestay dan juga apartemen selama di Tokyo. Koneksinya lantjar djaja pulak. Akhirnya saya bisa merasakan bagaimana mengunduh video di Youtube bak membuka file di My Document.

Empat hari pertama di Morioka saya masih mendapatkan wifi dari keluarga homestay. Empat hari terakhir saat masih di Morioka, saya tidak mendapatkan akses wifi. Hanya bisa mengandalkan PC tuan rumah yang tentunya tidak bisa saya akses setiap saat. Hmm, wajar lah karena saya tinggal bersama pemilik perkebunan apel yang cukup luas. Saya sempat dying karena putus hubungan via ponsel sama orang-orang di tanah air.

Saya pikir saat di Kuji nanti saya akan mendapatkan koneksi internet. Secerca cahaya bersinar.

Sayangnya, perkiraan saya salah besar karena ternyata selama di Kuji saya tidak mendapatkan koneksi internet sama sekali. Yak, sama sekali.

Saya nggak berdaya saat tahu akan hal ini.  Terima nasib tinggal di kota yang super sunyi dan jauh dari mana-mana. Bahkan convenience store sekalipun jarang. Tiga hari pertama jadwal saya lumayan padat hingga malam. Pulang ke rumah udah capek, langsung tidur, nggak berasa sepinya.

Hari keempat saya sudah ada waktu bebas dari jam lima sore. Luar biasa kan. Baru deh sekarang berasa ‘krik krik’ tanpa internet. Makanya bisa nulis ginian walau entah diposting kapan. Hahaa

Selama di Morioka saya sempat homesick dan stress luar biasa karena perbedaan pola hidup dan kebiasaan yang cukup besar dibandingkan saat berada di Tokyo. Karena empat hari pertama di Morioka masih sempat dapat wifi, saya bisa curhat dan telpon-telponan sama orang tua dan teman-teman di tanah air. Mungkin karena saya bisa ngeluh, rasa stress dan homesick semakin terasa. Dan saya pun semakin dying.

Di Kuji, boro-boro punya kerabat dekat yang bisa diajak curhat pake bahasa ibu saya—bahasa Indonesia. Koneksi internet aja nggak ada. Terlebih saat di Kuji saya tinggal di rumah mungil yang hanya dihuni oleh tuan rumah dan saya. Tuan rumah saya adalah gadis penyiar radio berusia 24 tahun. Kalau pulang kantor ya saat gelap sudah tiba.

Selama di Kuji, apapun yang saya rasakan saya telan sendiri. Mau sekangen apapun sama mereka yang ada di tanah air, ya diatasi sendiri. Untungnya punya stok ratusan foto-foto mereka. Obok-obok aja deh tu foto ampe bego.

Dari kota bernama Kuji yang minim akses komunikasi ini (setidaknya bagi saya yang bukan orang lokal) saya sadar bahwa rasa sakit yang dikeluhkan hanya bisa membuat rasa sakit itu menjadi-jadi dan tidak terobati. Di sini sama sekali tidak ada ruang atau celah bagi saya untuk mengeluh. Namun ternyata kondisi ini membuat saya jauh lebih baik dibandingkan saat di Morioka.

Dari Kuji juga saya belajar bahwa terkadang memang harus ‘saklek’ sama diri sendiri untuk mengubah kebiasaan. Dalam hal ini ternyata memang perlu memutuskan koneksi internet secara total dari saya agar berhenti mengeluh di Whatssap. Hehehe

Etapi tapi tapiii…saya butuh koneksi internet buat kerja loh. 25 artikel saja sudah menari-nari depan mata.

 

Kuji (yang menuju senja), 13 Juni 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s