Baluran / Domestik / Perjalanan

Baluran Before It was Cool

Saya rasa sudah banyak sekali teman-teman yang pernah ke Baluran. Bahkan mungkin telah mengeksplor lebih jauh. Dalam tulisan ini saya hanya ingin sedikit berbagi mengenai perjalanan ke Baluran sebelum ngetren seperti sekarang. Before it was cool *evilsmirk*

Awal mula
Dulu ada satu iklan produk kecantikan yang dibintangi oleh Titi Sjuman (waktu itu namanya belum jadi Titi Rantang). Dalam iklan dengan tema perempuan Indonesia tersebut ada satu adegan dimana Titi lagi main-main di padang rumput.

Sebentar sih adegannya. Tapi si padang rumput cukup membuat saya penasaran dan bertanya-tanya. Masa sih ada lokasi kayak gitu di Indonesia? Saya sampai googling untuk cari tahu dimana lokasi tersebut. Namun pencarian saya tersebut berakhir nihil.

Suatu hari saya membaca artikel yang bilang bahwa iklan tersebut memenangkan penghargaan dari dunia periklanan. Dalam artikel itu disebutkan beberapa nama lokasi pengambilan gambar yang tersebar di beberapa tempat di Indonesia. Saya catat nama-nama tersebut dan cek di Google satu persatu. Akhirnya setelah pencarian panjang, saya tahu padang rumput itu berlokasi di Taman Nasional Baluran. Hurraaaah!

Pada pertengahan tahun 2010 saya dan ketujuh sohib ikrib saya (sebut saja Genggong) sedang merencanakan perjalanan selanjutnya. Alhamdulillah saya berhasil menghasut Genggong buat mampir ke Baluran setelah dari Bromo dan sebelum lanjut ke Bali. Muehehehe

Dulu saya hanya tahu bahwa Indonesia itu sangat luas. Namun tidak pernah terpikir bahwa ada beragam keeksotikan alam lainnya selain gunung dan laut. Tidak pernah terpikir pula bahwa di tanah Jawa ada padang rumput bak Afrika.

Tancap Gas ke Baluran

Tidak sedikit teman yang bertanya gimana caranya bisa sampai ke Baluran?

Baluran memang out of nowhere sih. Jika dilihat dalam peta, Baluran memenuhi satu area tersendiri di bagian atas Situbondo, Jawa Timur. Bukan tempat yang mudah dijamah.

Saya sendiri waktu itu mengambil paket sewa mobil yang mengantarkan kami dari Malang ke Bromo dan Baluran. Sebelum tancap gas dari Bromo ke Baluran, pak supir sempat menekankan agar tidak berangkat terlalu siang dari Bromo.

“Saya enggak berani kalau balik dari Baluran malem-malem,” katanya.

Belum pernah saya mendengar alasan seperti itu selama bepergian lewat jalur darat. Saya jadi bertanya-tanya, memang ada apa dengan medan Baluran? Hmmm.

Mobil Suzuki Elf berkapasitas 13 orang yang terisi oleh delapan orang saja akhirnya berangkat sekitar pukul 9 pagi dari Bromo menuju Baluran. Perjalanan ke ujung timur pulau Jawa tersebut menghabiskan waktu kurang lebih enam jam.

Kami tertidur pulas di awal perjalanan meninggalkan daerah Probolinggo. Saat terbangun kami sudah berada di alun-alun kota Situbondo. Mobil terus melaju melewati pembangkit listrik tenaga angin dan terus menelusuri daerah garis pantai Banyu Putih. Panas, gersang, dan tidak ada tanda kehidupan. Itulah tiga kesan saya selama menempuh enam jam perjalanan menuju Baluran.

Hingga akhirnya saya berada di satu lokasi yang menjadi jawaban akan ketakutan pak supir.

Dua ruas jalan membentang luas, membelah hutan jati berbatang besar dan kekar. Siang itu tidak ada mobil lain yang melintas selain mobil kami. Tidak terbayang seandainya terjadi apa-apa dengan mobil tersebut, mau minta tolong kemana? Pasalnya, enggak ada manusia lain yang terlihat.

Siang bolong aja hawanya udah ngeri. Terlebih saya mendengar berbagai kisah miring berbau mistis dan kriminal tentang kawasan ini. Kalau sudah gelap pasti akan lebih serem lagi. Bukan mustahil jika tiba-tiba makhluk lain yang menyambangi dengan niat jahat. Entah makhluk halus atau makhluk padat alias manusia. Hiii!

Kasian juga kalau si pak supir melewati jalan ini sendirian. Apalagi kalau langit sudah gelap. Bagi kamu yang hendak ke Baluran sebaiknya berangkat selagi langit masih terang.

Perjalanan ke Baluran sangatlah panjang seperti penantian Nikita Willy dalam lagunya. Mulai dari tidur-bangun-tidur lagi-bangun lagi, belum juga sampai. Bahkan dari pos utama taman nasional menuju ke Savanna Bekol juga jauh. Mobil harus mblusuk melewati jalan berbatu dan membelah hutan yang sesekali dilewati oleh satwa liar.

Walau sangat jauh, rasa capek di jalan terbayar dengan cantiknya hamparan Savanna Bekol dengan latar belakang Gunung Baluran setinggi 1200 meter. Savanna, sabana; istilah geografi yang sebelumnya hanya bisa saya baca dalam buku pelajaraan di sekolah akhirnya bisa saya rasakan secara langsung.

Image

Gunung Baluran dan Savanna Bekol. Foto: Febry Fawzi

Apabila ditanya tentang tempat paling spektakuler apa yang pernah saya rasakan selama jalan-jalan, maka jawabannya adalah Baluran!

Baru kali itu saya bisa melihat gunung, padang rumput, dan pantai berada dalam satu garis. Belum lagi sorot matahari di pagi dan sore hari membuat Savanna Bekol berkilau keemasan. Tinggal ditambahin gajah sama jerapah aja, pasti orang bakalan percaya kalau itu di Afrika.

Baluran is Africa van Java for real 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Baluran Before It was Cool

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s