Baluran / Domestik / Perjalanan

Kisah di Balik Potret Baluran

Dari kemarin kan sudah main-main ke India dan Jepang, sekarang mampir sebentar ke destinasi dalam negeri dulu yuk!

Masih terkait dengan postingan saya sebelumnya nih. Baluran. Kenyang lihat foto itu terus, tapi enggak tahu kan kisah di balik lensa yang sesungguhnya? :p

Bagi saya waktu terbaik untuk foto-foto adalah pagi hari sekitar jam sembilan dan sore sekitar jam empat. Maka pada waktu itu pula yang akan saya gunakan untuk sesi foto ala Titi Sjuman di Savanna Bekol. Savanna Bekol merupakan nama si padang rumput yang menjadi pusat kehidupan Taman Nasional Baluran. Di sini terdapat wisma penginapan, dapur umum, dan juga pos penjagaan.

Saat itu sepertinya wisatawan yang menghuni Savanna Bekol hanya saya dan ketujuh teman saya (sebut saja Genggong). Manusia di tengah padang rumput seluas 40 Ha itu hanyalah kami berdelapan dan penjaga pos. Sisanya hutan yang luas dan gelap, tumbuhan, dan satwa seperti monyet-monyet liar.

Savanna Bekol dari atas. Foto: Febry Fawzi

Savanna Bekol dari atas. Foto: Febry Fawzi

Pagi itu hanya ada saya dan Retha di wisma. Teman-teman yang lain sibuk bikin sarapan di dapur umum. Saya berberes-beres di kamar, dan Retha lagi santai di teras. Tiba-tiba ada sesuatu yang memecah keheningan pagi Savanna Bekol.

“KIYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKK!”

Saya cukup yakin itu adalah pekikan salah satu monyet mengingat populasinya lebih banyak daripada manusia yang berada di sana. Kemudian pekikan tersebut terdengar untuk kedua kalinya. Ah palingan monyet berebut makanan, saya pikir.

Pekikan ketiga muncul lagi, namun dengan sesuatu yang janggal. Terdengar langkah kaki yang berlari menuju wisma dan pekikan tersebut diikuti oleh bunyi teriakan dengan suara yang familiar, “TOLOOOOOOOOOOOOOOOOONG!”

Dari teras wisma saya melihat teman saya, Merlin, berlari panik dengan belasan ekor monyet kelaparan mengejarnya dari belakang. Saya dan Retha jadi ikutan panik melihat Merlin yang ngibrit dikejar monyet. Kami bertiga langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu dari dalam.

Padahal kunci pintu itu sendiri masih menempel dari luar. Alhasil kami bertiga terkurung dalam kamar. Kalau dipikir-pikir, monyet-monyet itu juga enggak bakal bisa buka pintu kalaupun tidak dikunci.

Kami menelpon teman-teman lain yang masih bikin sarapan di dapur umum. Saat telepon diangkat mereka cuma bisa ketawa-ketiwi aja dari jauh. Meh

Karena enggak sabar menunggu kelima teman kembali ke wisma, kami bertiga berusaha mengeluarkan diri dari dalam kamar dengan cara meloncat lewat jendela. Kebetulan jendela kamar tidak berteralis dan cukup untuk dilewati satu orang dewasa.

“Mer, duluan gih. Lo kan bawa sepatu,” saya bilang ke Merlin yang masih memakai sepatu di dalam kamar karena terlalu panik dikejar monyet.

Merlin menurut. Baru saja dia sukses loncat keluar dari jendela, tiba-tiba ia berusaha menaiki jendela kembali sambil berteriak (lagi). Kembalinya Merlin ke dalam kamar kini diikuti lagi oleh penghuni taman nasional lainnya: lebah.

Dalam waktu singkat lebah-lebah tersebut memenuhi kamar. Ternyata lebah-lebah tersebut bersembunyi di bawah rerumputan jendela belakang dan mereka merasa terusik dengan kehadiran Merlin di habitat mereka. Untung saja tidak lama setelah itu teman-teman dari dapur kembali dan menyelamatkan kami yang terperangkap.

Merlin yang baru saja dikejar monyet dan disengat lebah masih shocked. Belum sanggup jalan dan foto-foto. Tapi kan saya udah semangat 45 banget mau foto di Baluran ala Titi Sjuman. Jadi tidak lama setelah itu langsung cuss ke Savanna Bekol bareng Retha dan Febry untuk sesi foto pagi.

Sementara itu teman-teman yang lain masih berada di wisma untuk menenangkan Merlin. Jadi foto-foto tersebut sebetulnya dibuat saat Merlin tengah merana kesakitan sehabis disengat lebah dan masih kaget setelah dikejar monyet. MT ya saya? Maap yaah, Mama Merlin 😀

Mama Merlin

Mama Merlin

PS:

Walau sangat kurus, monyet-monyet Baluran sangat gesit dalam mencari makan. Mereka akan mengikuti siapapun yang membawa makanan, dan berusaha merampas makanan tersebut. Jika ke Baluran, jangan lupa bawa kayu panjang kemanapun untuk berlindung dari para monyet.

Advertisements

2 thoughts on “Kisah di Balik Potret Baluran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s