Japan / Mancanegara / Perjalanan

Cita Cinta Shibuya

Ada satu sohib ikrib saya yang juga maniak jalan-jalan.  Sebut saja namanya Febry Fawzi. Tidak cuma doyan jalan, dia juga suka nonton film sebagaimana anak-anak muda pada umumnya. Namun selera film saya seringkali nggak nyambung sama selera film dia.  Hingga pada suatu hari Febry bilang ke saya kalau dia ke Jepang, dia cuma mau nyebrang di persimpangan Shibuya DOANG abis itu pulang. Maklum, dia terlalu menghayati film Lost in Translation.

Saya yang sebelumnya belum pernah nonton film itu dan tidak terlalu tertarik untuk berlibur ke Jepang (karena mahal pisan) cuma bisa bilang, plis lah Feb. Terbang 7 jam dari Jakarta cuma buat nyebrang di jalanan kemudian hengkang?

Pada awal tahun 2013, saya dan Febry sama-sama diterima di program magang fotojurnalis yang diselenggarakan oleh http://japantourist.jp. Hanya saja saya berangkat bulan Mei dan Febry berangkat bulan November. Kantor dari Japan Tourist sendiri ada di pusat bisnis kota Tokyo, Ropponggi. Meski agak jauh, Shibuya bisa diakses dari Roppongi dengan mudah. Daaan saat tahu akan hal ini lagi-lagi Febry bilang, berarti gue bisa nyebrang di Shibuya ratusan kali dong. 

Au ah gelap.

Pertengahan Mei 2013 saya berangkat ke Tokyo seorang diri. Kebetulan 5 hari pertama saya tinggal di rumah boss yang   lokasinya dekat sekali dengan Shibuya. Mungkin jika Febry tidak terobsesi itu dengan Shibuya, saya tidak akan penasaran seperti apa sih persimpangan jalan yang ingin disebrangi Febry? Mungkin juga saya tidak nyari-nyari dan nanya ke tuan dan nyona boss besar tentang Shibuya. Hingga mereka pun menyimpulkan kalau tempat yang paling saya ingin datangi di Tokyo adalah Shibuya.

Satu hal yang terlintas di benak saya selesai balik dari kantor di hari pertama adalah nyebrang di Shibuya. Setelah tersesat satu jam saja di Roppongi, akhirnya saya sampai juga di persimpangan tersibuk di Tokyo…hmm atau mungkin di dunia? Menurut Lonely Planet, setidaknya ada 100ribu orang yang menyebrang di Shibuya Crossing setiap jamnya.

Siang itu Tokyo sedang gerimis seharian. Dengan suasana hati yang masih kaget, bingung, dan kesepian , Shibuya Crossing saya sebrangi seorang diri di bawah tetesan air hujan (mendramatisir keadaan biar kayak di film). Hmmm…ternyata begini rasanya. Mungkin karena Shibuya semacam menjadi bagian dari rutinitas saat minggu pertama di Tokyo, rasanya menyebrang di sini…biasa saja. Tidak begitu spesial. Tidak ada tarikan magis itu.

Tapi ternyata tarikan magis itu baru bekerja ketika saya berada pada jarak 542 km dari Tokyo. Minggu pertama di Morioka, prefektur Iwate, adalah minggu yang cukup berat karena saya merasakan perbedaan situasi yang jauh berbeda antara Tokyo dan Morioka. Dua minggu lebih di Tokyo, saya terbiasa dengan hiruk pikuk kota besar yang ritmenya serba cepat. Saya juga sudah punya sahabat dan teman-teman baru yang tidak membuat saya merasa sendirian. Namun ketika sampai di Morioka, saya kehilangan semua itu dan harus beradaptasi lagi dari nol.

Malam pertama di Morioka, saya menonton siaran televisi yang melaporkan gegap gempita para pendukung tim sepakbola Jepang yang menang atas tim sepakbola Australia dalam babak kualifikasi piala dunia. Dalam liputan itu direkam bagaimana gembiranya pendukung timnas Jepang yang berpawai keliling Tokyo, walaupun pertandingan berlangsung di Saitama.

Ada pemandangan unik dari liputan tersebut. Ternyata orang Jepang tetap tertib saat pawai sekalipun. Gerombolan manusia itu tetap menunggu sang green man menyala dan mempersilahkan para pejalan kaki menyebrang. Dari video yang saya saksikan, baru saya sadari bahwa para pendukung timnas Jepang itu tengah menyebrang di Shibuya Crossing. Saat itulah saya merasa Shibuya sedang ‘menarik-narik’ saya yang tengah rindu dengan kehidupan ibukota Jepang.

Saya kangen Shibuya…

Shibuya adalah saksi bisu ketika saya merasa seperti alien di negara orang sendirian. Kelaperan, kelelahan ngangkut koper seberat 25 kg, muter-muter sendirian ga jelas, nyebrang sana-sini bolak-balik sembari mengharapkan ada ide yang muncul untuk artikel pertama saya. Artikel pertama saya yang lahir untuk Japan Tourist pun tentang Shibuya -> http://en.japantourist.jp/photos/shibuya-s-green-frog

Shibuya tidak hanya memiliki tarikan magis ketika kalian berada jauh darinya. Rasanya berpisah sama Shibuya Crossing sesungguhnya jauh lebih berat ketimbang berpisah sama gebetan yang tinggal di negri orang. Eeeyaaaak!

Semakin jauh, tarikan magis Shibuya Crossing semakin kuat. Hati saya semacam teriris-iris melihaat foto dan segala bentuk dokumentasi tentang Shibuya dari Jakarta. Mungkin jika saya berkesempatan ke Tokyo lagi, saya cuma mau nyebrang di Shibuya Crossing berkali-kali dan langsung pulang ke Jakarta.

shibuya

Seperti apa yang dicita-citakan Febry selama ini 😀

Advertisements

8 thoughts on “Cita Cinta Shibuya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s