India / Mancanegara / Perjalanan

Gangga dan Tepiannya

Perbedaan waktu (walau hanya) satu setengah jam lebih lambat memaksa saya untuk membuka ranjang di kompartemen sekitar pukul delapan malam waktu India. Tidak terasa kereta kelas AC 3 Tier yang dingin dan gelap membuat saya tertidur lelap selama 11 jam.

Saya terbangun oleh banyaknya orang yang berlalu-lalang dari dalam gerbong ke toilet. Maklum, kompartemen saya berada di ujung gerbong kereta.

Kabut tebal masih menyelimuti sebagian besar wilayah Uttar Pradesh. Sepanjang perjalanan yang terlihat hanyalah hamparan tanah lapang. Sama seperti halnya ketika kita menyusuri pulau Jawa dengan kereta. Hanya saja yang menumbuhi hamparan tanah lapang itu bukan padi. Melainkan bunga-bunga kuning nan cantik yang tidak saya ketahui namanya ini.

Image

Salam selamat pagi dari Varanasi!

Akhirnya sedikit lagi kami tiba di stasiun tujuan akhir, Varanasi Junction. Kata Varanasi memang kurang akrab di telinga. Tapi kalau Sungai Gangga, tentu sudah familiar.

Di kota inilah Sungai Gangga yang begitu sakral bagi umat Hindu India terbentang.  Banyak umat Hindu yang berziarah ke sungai ini untuk mensucikan diri dari dosa. Ada juga yang datang untuk melarungkan abu dari jasad kerabat yang meninggal. Konon, abu yang dilarungkan di sungai ini akan mendekatkan roh dari orang yang wafat ke nirvana di alam sana.

Kereta terus melaju membelah tebalnya kabut, melewati jembatan besi yang sangat besar di atas sungai.

“This is Ganga River” kata bapak-bapak yang berada satu kompartemen dengan kami.

Kalau mau dibandingkan bagus atau enggak sih, masih lebih bagus sungai-sungai yang ada di pulau Jawa. Tapi ternyata yang namanya Sungai Gangga itu yah, GEDE BANGET.

Sungai Gangga ini berhulu dari bagian barat pegunungan Himalaya dan bermuara di Bay of Bengal melewati India dan Bangladesh. Di India, Sungai Gangga setidaknya melewati 12 kota besar, termasuk Kolkata. Jika kalian hendak naik kereta dari Howrah Railway Station Kolkata dan melewati jembatan merah, maka sungai yang mengalir di bawahnya pun juga masih Sungai Gangga.

Belakangan saya tahu bahwa nama Sungai Gangga tidak tertulis dan terlafal demikian halnya di India. Melainkan, Ganga. The River Ganga. Diambil dari nama salah satu dewa dalam agama Hindu, Ganga yang sesungguhnya tertulis tanpa huruf “G” setelah –“NG” dan dibaca genji . Mungkin karena adaptasi ke dalam bahasa Indonesia, Ganga berubah menjadi Gangga.

Krrriiiikkkk!!!

Oh, Amritsar Express yang saya naiki sudah tiba di Varanasi Junction rupanya. Saatnya mengemas barang dan mengucapkan selamat tinggal kepada seorang ibu muda dan ayahnya yang sangat ramah. Merekalah teman perjalanan kami selama 19 jam ke belakang.

Mungkin memang benar maksud pepatah yang mengatakan bahwa ‘Life begins at the end of your comfort zone’.  Petualangan dan ujian mental di kota kedua baru saja dimulai pada akhir langkah saya dalam kereta  Amritsar Express. Selama 19 jam saya dimanja dengan kenyamanan kereta kelas menengah. Tepat sesaat memijakkan kaki di Varanasi Junction, saya merasakan “gegar budaya” untuk kedua kalinya di kota kedua yang saya singgahi ini.

Wangi pendingin ruangan kereta eksekutif yang khas seketika digantikan dengan semerbak bau air seni yang tercecer di sepanjang peron. Ditambah lautan manusia yang tumpah ruah memenuhi setiap sisi stasiun kereta api. Sebagian besar sibuk hilir mudik. Ada juga yang sekedar duduk mengampar di lantai. Atau bahkan tidur tanpa beralaskan apa-apa.

Image

Seperti halnya tipe stasiun kereta api di India, Varanasi Junction juga sangat sibuk. Hanya saja jauh lebih kumuh. Supir rickshaw—yang sering juga merangkap calo penginapan—aktif menyambut para penumpang kereta yang baru saja tiba sembari menawarkan jasanya. Terutama kepada turis-turis yang terlihat masih linglung.

Bersama dua perempuan asal Amerika dan Inggris, kami bertiga mengikuti salah satu supir rickshaw ke halaman parkir. Di luar sana puluhan (atau mungkin ratusan) rickshaw berjejal memadati lapangan parkir yang kotor dan kumuh.

Salah saturickshaw yang akan kami gunakan untuk menuju ke Old City Varanasi sudah menanti.

Advertisements

10 thoughts on “Gangga dan Tepiannya

    • eeeh sori-sori kmaren baca komen dari HP cuma kebaca depannya doang. hehehe
      naik kereta dari Kolkata ke Varanasi kurang lebih 19 jam 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s