India / Mancanegara / Perjalanan

Couchsurfing dan Pria India (part.4-habis)

Dari part 1-3 kita sudah berkenalan dengan Gupta, Rajiv, dan Sanjay yang genit dan culas. Sekarang mari berkenalan dengan satu pria India lagi yang membuat saya mengeluarkan travel warning untuk para perempuan di luar sana.

Sore itu auto-rickshaw yang saya tumpangi dari rumah Rajiv berhenti di jalan yang tidak dikenal. Pak supir mengatakan bahwa perjalanan sudah berakhir sampai sini. Hah jadi bukan sampai rumah Ishaan? Jadi Rajiv tidak memberikan alamat rumah Ishaan kepada supir auto-rickshaw?

Entah untuk ke berapa kalinya saya merasa tertipu di India. Ternyata gambaran tentang negara ini yang biasa saya lihat dalam film memang demikian adanya.

Kami bertiga malas turun dari rickshaw. Akhirnya kami memutuskan untuk tetap meneruskan perjalanan dengan rickshaw yang sama hingga ke rumah Ishaan. Saya menunjukkan alamat rumah Ishaan lewat ponsel. Tiba-tiba, entah darimana datang seorang pria menghampiri sang supir rickshaw. Ia meminjam ponsel saya sebentar dan membaca dengan seksama alamat yang tertulis.

“You wanna go to Ishaan’s place? You are from Couchsurfing?”

Ya, saya bilang.

“I’m his neighbors and also his relative. I’m playing Couchsrufing too! I’ll take you to his place. Don’t worry” katanya sambil godek-godek khas India.

cs

Pria itu langsung mengambil duduk di samping supir rickshaw. Selama perjalanan ia sangat aktif mengajak kami berbincang. Sebut saja namanya Faiz. Mahasiswa tingkat dua jurusan kedokteran gigi yang mengaku tidak bisa berbahasa Inggris namun tidak memberikan kami kesempatan untuk berbicara sama sekali. Hmm mungkin excited baru kenal orang baru.

Saat hendak berpamitan dari rumah Ishaan, Faiz mengajak kami untuk pergi nanti malam. Kemana? tanya saya.  Pokoknya ada deh tempat hang out yang asik…gue sering bawa turis-turis ke sana, katanya. Entah magnet apa yang mengikat saya dalam situasi-situasi seperti itu hingga sulit sekali untuk menolak. Sama seperti saat saya tidak bisa menolak untuk masuk ke dalam rumah Rajiv.

Akhirnya dengan agak ragu dan sedikit takut kami bertiga mengiyakan ajakan Faiz. Sebelum berpamitan pergi, Faiz bilang bahwa sebetulnya tiket masuk ke acara tersebut sangat mahal. Namun nanti kami bisa masuk dengan cuma-cuma karena ia punya kenalan ‘orang dalam’ sejenis preman.

Apa? Preman?

Tragedi rumah Rajiv membuat saya semakin sulit percaya kepada pria India hingga saya pun menjaga jarak dengan Faiz. Kalau kata Syahrini di Instagram, rasa trauma dan ilfeel karena insiden Rajiv masih #terpampang_nyata _shayy. Kami enggan sekali keluar rumah sebetulnya. Terlebih entah mau dibawa kemana dan mau diapakan kami ini.

Sesuai janjinya Faiz datang ke rumah Ishaan sekitar jam delapan malam. Saat itu Ishaan pun belum pulang ke rumah karena masih sibuk di kantor. Rencana jalan-jalan sore bersama Ishaan digantikan dengan ajakan keluar malam bersama Faiz.

Di luar rumah Faiz sudah nongkrong bersama kedua temannya yang juga laki-laki. Hampir saja dua temannya ini ikut dan mengajak kami naik motor. Dengan agak memaksa kami menolak dan memilih naik rickshaw saja.  Karena penolakan tersebut kedua temannya itu batal ikut pergi bersama kami. Fiuuh! Serem yee dibawa naek motor ama cowok India ga dikenal -_-“

Ternyata jarak antara rumah Ishaan dan tempat yang dituju cukup jauh. Semakin jauh perjalanan, semakin saya khawatir dan waswas. Selama perjalanan itu pula Faiz tidak bisa berhenti berkicau dan ia INGIN SEKALI didengar.

Sedikit saja saya lengah, ia selalu mengatakan “Hey! Listen to me! Listen to me!”.

Saya pikir Faiz akan membawa kami ke tempat sejenis pasar malam. Tapi apa iya kalau mau masuk ke pasar malam harus bayar mahal hingga perlu ada orang dalam supaya bisa masuk dengan gratis?

Rickshaw terus melaju dalam kegelapan dan kesunyian kota Jaipur hingga berhenti di depan sebuah kedai kopi yang cukup gaul untuk ukuran India. Saya sempat surprise karena ternyata ada juga kedai kopi modern seperti yang biasa saya jumpai di Jakarta.

Kami berempat turun dari rickshaw.

Namun ternyata bukan kedai kopi itu tujuan kami. Faiz membawa kami ke tempat yang letaknya persis bersebelahan dengan kedai kopi tersebut.Untuk masuk ke tempat itu, pengunjung harus bisa menembus pagar sangat tinggi yang dijaga oleh beberapa pria bertubuh besar bak bodyguard. Nampaknya memang tidak mudah masuk ke dalam sana karena antrian pengunjung yang berusaha menembus pagar tinggi tersebut cukup panjang.

Dengan langkah tegap Faiz menghampiri sang penjaga utama bertubuh kekar. Entah apa yang dibisikkan olehnya, tiba-tiba pintu terbuka hanya untuk kami berempat. Sebelum masuk sang petugas meminta kami menyodorkan tangan. Oh, untuk membubuhkan stempel tanda masuk ternyata. Tidak lupa pula satu kupon one drink alcohol free diselipkan dalam genggaman tangan kami.

Hmmm, welcome to the Indian pub!

Bak melihat oase di tengah padang pasir, Faiz segera meluncur ke dalam lantai dansa yang riuh dengan suara musik bervolume tinggi. Kami bertiga sempat merinding ketika sadar bahwa bar tersebut persis berada di bawah hotel. Okelah kalau mau joget saja. Tapi saya tidak yakin juga kalau bisa jogetan tanpa mabuk di tempat seperti itu.

Lalu kalau sudah mabuk, dibawa kemana dan diapakan juga saya tidak akan sadar kan. Hiiih!

Untung saja langkah Faiz bisa kami cegah. Dengan dalih angin semilir, kami berhasil mengajaknya untuk cukup kongkow saja di kafe outdoor yang sebetulnya juga masih berada di tempat yang sama.

Entahlah rasanya interaksi saya dengan pria India semakin aneh, memuakkan, sekaligus mengerikan. Sama seperti saat-saat sebelumnya, di pub tersebut kami bertiga hanya mendengarkan kicauan Faiz (lagi).

Ia bercerita tentang kehidupannya sebagai mahasiswa kedokteran, cita-citanya pergi ke Spanyol, kakak perempuannya yang bekerja sebagai seorang dokter di Kolkata, tentang bukunya yang baru saja selesai ia tulis, dan tidak lupa melakukan perbandingan antara India dan Indonesia. Mulai dari kurs, ongkos haji, besar gaji untuk fresh graduate, ongkos memasang kawat gigi, kualitas dunia kedokterannya, dsb. Yaah inti dari perbandingan itu semua adalah, India lebih unggul daripada Indonesia kalau menurut Faiz.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Kami memaksa Faiz untuk pulang karena besok pagi-pagi sekali kami harus terbang ke Kolkata. Dari raut wajahnya terlihat bahwa ia sedikit kecewa karena gagal mengajak kami bertiga bermabuk ria dan berjoget di lantai dansa.

Di sela percakapan dalam perjalanan menuju pulang,Faiz melontarkan pernyataan yang membuat saya bergidik.

“You know, I never kiss someone before.”

Hmmm perasaan gue ga enak soob, bilang saya ke Reta dan Windy. Lalu si Faiz melanjutkan, “Do you mind if I’m talking about this?.”

Dengan agak sedikit kelepasan saya bilang, “Yaa! A lil’ bit. I think it’s some kind of privacy.”

Tapi penolakan saya tersebut tidak diindahkan. Ia tetap meracau, “Do you know why I never had a kiss? Because I want my first kiss with foreign people. Not with Indians.”

Mau ciuman pertama lo sama alien juga gue ga peduli.

Topik vulgar yang terus dibicarakan Faiz membuat saya meningkatkan status kewaspadaan terhadap dirinya. Untung saja ia mulai meracau soal ini saat rickshaw hampir tiba di kediaman Ishaan. Rasanya lega sekali melihat pintu rumah Ishaan. Sudah terbayang di kepala bahwa besok pagi-pagi sekali saya akan terbang meninggalkan Jaipur dan membebaskan diri dari gangguan pria semacam Ishaan dan Rajiv. Horeee!

Namun sepertinya Faiz masih ingin bersama kami. Saat sudah berada di rumah Ishaan, Faiz kekeuh menagih kami bertiga untuk foto bersama dan bertukar email. Sembari menuliskan segala alamat kontaknya di dunia maya, Faiz berkali-kali menekankan kepada saya agar tidak lupa memberikan referensi di laman profil Couchsurfing-nya. Sampai-sampai ia menulis di buku kecil saya, DON’T FORGET TO SEND ME REFERENCE.

Biar cepet, iya-in ajah!

Foto-foto selesai, bertukar email selesai, saatnya Faiz pulang. Yeaay! Ucapan selamat tinggal sudah terlontar dan saatnya kami bertiga masuk kamar.

Baru saja kami melangkahkan kaki ke dalam kamar, Faiz memanggil salah satu teman saya untuk keluar sebentar. Silahkan tebak teman saya yang mana. Sebut saja teman saya ini namanya Mawar. Faiz bilang bahwa ia hanya ada keperluan dengan Mawar. Jadi tidak perlu ajak yang lain.

Dengan wajah sedikit ketakutan Mawar mengikuti Faiz keluar. Saya tetap di kamar dan melanjutkan packing. Di sela-sela saya merapikan barang bawaan dalam ransel, tiba-tiba saya mendengar Mawar berteriak,

“NOOO!”

Dari dalam kamar saya sempat bertanya-tanya untuk apa Mawar diajak bicara empat mata bersama Faiz? Saya memutuskan untuk melongok sebentar. Kebetulan letak kamar berdekatan dengan pintu utama rumah Ishaan. Dengan langkah terburu-buru Mawar memasuki kamar setelah pintu utama terkunci rapat.

Sembari gemetaran Mawar bercerita bahwa di luar tadi Faiz menagih sesuatu darinya.

“Can you give it to me?” kata Faiz.

“Give what?” tanya Mawar.

Sambil menggenggam kedua tangan Mawar Faiz bilang, “I mean…can you give me a kiss?”. Saat itu posisi kepala Faiz sudah mendekat ke arah wajah Mawar.

lips1

Ternyata saat itu pula teriakan NO! saya dengar dari dalam kamar.

Pria India ini berusaha mendapatkan ciuman pertamanya dari teman saya. Tapi apa benar itu akan menjadi ciuman pertama? Bisa saja ia mengatakan hal yang sama kepada setiap turis yang di-host olehnya lewat Couchsurfing.

Setelah sederetan interaksi saya dengan pria-pria India seperti Gupta, Rajiv, Sanjay, dan Faiz,  segala pesan, peringatan, dan wanti-wanti sebelum saya berangkat ke India langsung terlintas di kepala.

Advertisements

12 thoughts on “Couchsurfing dan Pria India (part.4-habis)

  1. bahahahahahaa gilaaaaaaaaaaaaaaaaaak!! etapi kalo mereka2 baca gimana yas? apalagi si gupta hahahaha. anyway keyeeen tulisannya 😀

    • kan semua nama disamarkan Vid.bomat lah klo Gupta baca…udah ga frenan lagi ini di Fesbuk.hahaha :p
      maacii Vidyy..rajin2 berkunjung yaaah 😀

    • kayaknya sih relatif lebih aman ya mas. tapi tetep harus hati-hati sama penipuan. kitanya harus cerdik juga klo di India 😀
      makasiii sudah berkunjung. salam kenal ya mas 🙂

  2. kalo buat cowo pergi sendirian aman ga mba? sapa tau ada kejadian cewe sana agresif juga hahaha *ga masuk akal*
    Tapi dari cerita ini, berarti ada bener juga ya fakta kejadian2 pemerkosaan di india sana brrr….

    • yaaah cewek India kalem2 kok santai aja. hahaha
      iyaa baru ngerti deh kenapa di India rawan kasus pemerkosaan. serem sih kalo cewek2an doang yg ke sana 😦
      makasi sudah berkunjung ya mas 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s