India / Mancanegara / Perjalanan

Couchsurfing dan Pria India (part.3)

[Kilas balik dari kisah sebelumnya: Saya dibawa ke sebuah rumah suram dengan lokasi yang tidak diketahui. Bukan rumah Ishaan. ]

Deg. Tempat apa ini.

Tiba-tiba dari dalam rumah suram tersebut muncul seorang pria yang menyambut dengan ramaaaah sekali! “Hello welcome, Saras! I’m Rajiv. He is not Rajiv actually” katanya sambil menunjuk seseorang yang tadi duduk di samping kemudi supir.

Belakangan saya tahu bahwa nama orang tersebut adalah Sanjay, asistennya. Dengan dalih istirahat sembari menunggu Ishaan, kami bertiga dipaksa masuk ke dalam rumah yang ternyata adalah tempat produksi kain saree.

Blah! Pasti nanti disuruh beli!

Sebetulnya saya sudah enggan sekali masuk. Namun mendengar nama Ishaan disebut-sebut, saya jadi tidak enak hati. Mau kabur pun saya tidak tahu itu dimana dan lagipula tidak ada auto-rickshaw yang berkeliaran.

Rajiv ini adalah pengusaha kain saree dan ia mengaku teman baik dari Ishaan yang sehari-harinya bekerja di toko perhiasan.  Selain lokasi industri garmen rumahan itu entah dimana hingga menyulitkan kami untuk kabur, Rajiv ini pandai sekali ‘mencengkram’ orang-orang yang masuk ke tokonya. Termasuk kami bertiga.

Pertama-tama kami diberi sambutan hangat dengan segelas chai (teh khas India) dan dibumbui celotehan Rajiv yang sok akrab. Untuk sedikit membuat kami tenang dan percaya, tidak lupa Rajiv berjanji akan memulangkan kami dengan sedan biru itu lagi. Manis sekali.

Di tengah ocehan Rajiv, saya memperhatikan sekeliling ruangan pabrik garmen itu. Ruangan tersebut sangat besar dan dijejali dengan berbagai macam kain di setiap sisi ruangan. Satu hal yang membuat saya degdeg-an, ruangan sebesar itu sangat sepi. Tidak ada turis yang berkunjung selain kami. Dalam ruangan sebesar itu hanya ada Rajiv, Sanjay, kami bertiga, dan dua turis asal Jepang.

Hmm saya curiga dua turis Jepang ini adalah ‘korban’ rayuan manis Rajiv.

Saya cukup snewen ketika sadar bahwa tidak ada perempuan lain selain kami bertiga. Terlebih rumah itu agak gelap dan tertutup. Ya, suram pokoknya. Saya tidak ada ide apa yang akan saya lakukan jika Rajiv dan Sanjay berbuat ‘macam-macam’ dalam ruangan itu. Mau meraih pintu keluar pun rasanya jauh.

Lamunan saya dipecahkan oleh kehadiran Sanjay yang menggantikan Rajiv. Saatnya si asisten beraksi. Sanjay duduk manis bersila sambil mengambil beberapa contoh kain. Penawaran kain dimulai dengan kalimat pembuka seperti ini.

“If you buy this, you are my friend. But if you are not, you are my best friend. It’s okay.”

Uhuu….manis sekali. Kain-kain yang semula terlipat rapih, satu persatu tergelar di hadapan kami bertiga. Awalnya saya pikir kain-kain tersebut adalah pashmina atau saree. Ternyata mereka adalah BEDCOVER!

Menurut nganaaa?!Memang tampang mbak-mbak kere begini mau beli bedcover seharga ribuan rupee?!

Mungkin ada belasan bedcover yang tergelar di hadapan kami. Tidak bisa dipungkiri juga bahwa bedcover tersebut memang cantik dan India banget. Sayang nafsu atau keinginan untuk memboyong mereka ke Jakarta tidak ada sama sekali. Selain karena harganya mahal, faktor pemaksaan dan ‘penculikan’ juga membuat kami malas untuk berlama-lama di dalam sana.

Rasa kantuk saya mendengar cuap-cuap Sanjay dibuyarkan oleh SMS yang masuk.

Whenever u feel down in life, u lose all hopes in life..Just close ur eyes and say  “I have to prove, not to the world. But to my self…!” Enjoy shopping.

SMS dari Rajiv. Lewat SMS itu akhirnya secara tersurat Rajiv menyampaikan harapan kedatangan kami ke sana: berbelanja. Yaaaa memang semua ini modus belaka. Tak dinyana, sang pengirimnya mengagetkan saya dari belakang tepat saat SMS tersebut selesai saya baca.

Oh, how playboy is that?!

Butuh waktu cukup panjang bagi Sanjay untuk cuap-cuap sembari menawarkan bedcover.   Setelah semua bedcover terbentang, Sanjay memastikan kembali apakah kami berminat membeli salah satu di antaranya?

Kami jawab tidak. Bagaimana dengan kain saree atau pashmina? Mau lihat-lihat dulu? tanya Sanjay. Kami jawab lagi tidak. Akhirnya dengan tegas kami mengatakan bahwa kami tidak tertarik untuk membeli barang-barang yang ada di dalam sana. Saya minta dipulangkan ke rumah Ishaan saja dengan alasan tidak enak badan.

Raut wajah Rajiv dan Sanjay langsung berubah drastis melihat kami tidak membeli sehelai benang pun. Senyum dan gombal manis dari wajah mereka langsung terhenti seketika. Saat itu pula Rajiv langsung mencarikan auto-rickshaw yang mengantarkan kami bertiga ke rumah Ishaan.

Tanpa menoleh sedikitpun, Rajiv hanya melambaikan tangan selamat tinggal sambil memainkan laptop dari dalam tokonya. Tidak ada lambaian di depan pintu.

Janji akan diantar pulang dengan si sedan biru memang hanya janji manis dan bualan belaka.

(Masih bersambung ke part.4)

Advertisements

2 thoughts on “Couchsurfing dan Pria India (part.3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s