India / Mancanegara / Perjalanan

Couchsurfing dan Pria India (part.2)

Persiapan saya masih minim hingga beberapa minggu menjelang keberangkatan ke India. Bisa dibilang, modal saya saat itu baru tiket pesawat dan uang. Penginapan? Nol. Semenjak mendapat rayuan gombal ala Bollywood dari Gupta, saya jadi malas berselancar cari tebengan di Couchsurfing. Terlebih hampir semua host yang saya temukan di India adalah laki-laki. Hhmm serem juga sih yaa kalau semuanya setipe sama Gupta.

Sempat saya menemukan calon host perempuan di Jaipur. Ia adalah warga Perancis yang tengah mengambil kuliah bahasa Hindi di salah satu universitas di kota Jaipur. Namun tidak ada pesan balasan darinya.

Hingga akhirnya ada satu pesan couch request yang dibalas oleh calon host saya di Jaipur.

Oh ya, kenapa saya kekeuh mau cari tebengan di Jaipur? Karena rencananya saya akan tinggal di jaipur selama empat hari tiga malam. Lumayan juga untuk menghemat pengeluaran. Selain itu juga lebih banyak waktu untuk berkenalan dengan orang baru.

Tanpa ba-bi-bu, dalam pesan singkatnya calon host saya ini bilang bahwa ia bersedia rumahnya saya tumpangi. Fiuhhh akhirnya ada juga host perempuan yang bersedia menampung saya. Sebut saja namanya Pia. Gadis India berusia 25 tahun ini sudah banyak mengumpulkan referensi positif dari para pelancong dari seluruh dunia.

Dalam dunia Couchsurfing, gengsi para host dan surfer ada pada banyaknya refensi positif yang telah mereka kumpulkan. Referensi positif ini juga ibarat senjata bius untuk meyakinkan para calon surfer bahwa mereka akan aman saat tinggal dengan host mereka.

Saat sudah saling tukar nomor handphone, saya dan Pia berusaha untuk keep in contact hingga nanti saya sudah di India. Selama di India pun saya selalu laporan kepada Pia mengenai dimana posisi saya berada. Hingga akhirnya saat di Delhi, Pia mengatakan bahwa ia sedang sakit dan kemungkinan besar tidak bisa menemani saya pergi selama di Jaipur. Oleh karena itulah ia ‘memberikan’ saya kepada kakaknya yang tinggal dalam satu rumah yang sama.

Selain alasan kesehatan, Pia mengaku bahwa ia tidak mampu berbahasa Inggris aktif. Tidak seperti kakaknya yang mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan baik. Jadi mari kita panggil kakaknya Pia dengan nama Ishaan.

Yep, kakaknya laki-laki.

Setelah melewati perjalanan panjang dari timur ke barat India, akhirnya kami sampai di kediaman Ishaan dan Pia di kota Jaipur. Di dalam rumahnya yang bergaya Timur Tengah—atap rata dan bangunan terdiri dari lima lantai atau lebih—tinggal beberapa kepala keluarga dari satu nenek yang sama. Ishaan sendiri sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Dari lima bersaudara dalam rumah itu, hanya Pia sendiri yang belum menikah.

Kami bertiga di sambut baik oleh keluarga Ishaan. Di rumahnya memang banyak sekali atribut Couchsurfing. Mulai dari bendera hingga sticker yang tertempel dimana-mana. Ya, setidaknya saya semakin percaya dan tenang untuk bermalam di rumah mereka.

Saya lebih banyak berbincang dengan Ishaan karena Pia sedang sakit. Dan memang dia terlihat sulit sekali berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Setelah selesai ‘bersih-bersih pagi’ (bukan mandi), kami bertiga diantar Ishaan menuju alun-alun kota tempat dimana bus ke Amber Fort ngetem. Saat itu Ishaan berjanji bahwa nanti sore ia akan membawa kami berkeliling kota Jaipur.

Setengah hari di Jaipur kami habiskan dengan mengunjungi landmark terkenal dari kota tersebut : Amber Fort and Palace, City Palace, dan Hawa Mahal.

Ketika saya lagi asik duduk-duduk di City Palace, saya menerima SMS dari Ishaan. Lewat SMS tersebut ia mengatakan bahwa nanti akan ada temannya yang menghubungi saya untuk menjemput kami bertiga.

Okelah. Pasti ini terkait dengan ajakan jalan-jalan sore itu.

Saya melanjutkan berkeliling di City Palace hingga lupa waktu. Sampai-sampai ketika saya mengecek ponsel, ada kurang lebih 3-4 panggilan tak terjawab dari temannya Ishaan yang bernama Rajiv. Uwoooh! Pria bernama Rajiv itu langsung saya telepon balik.

Ternyata walaupun panggilannya sudah saya abaikan berkali-kali, ia tetap mau menjemput kami bertiga. Uuuu baik sekali. Saya dan Rajiv sepakat bahwa kami akan bertemu di Hawa Mahal 15 menit lagi.

Hawa Mahal

Saat itu juga saya dan kedua teman saya langsung bergegas menuju Hawa Mahal. Hawa Mahal ini adalah landmark paling terkenal dari kota Jaipur dan letaknya sangat dekat dengan City Palace. Hawa Mahal ada di pinggir jalan alun-alun kota, sehingga sangat terjangkau dan pas untuk dijadikan meeting point.

Sesuai dengan janjinya, mobil sedan biru dengan plat nomor 7273 tiba dalam 15 menit sesuai dengan perjanjian. Kami bertiga langsung masuk ke dalam sedan. Di sana ada dua orang pria India yang mengaku bernama Rajiv dan supirnya.

Hmm sempat waswas juga sebetulnya tiga perempuan ini dibawa oleh pria lokal tak dikenal. Tapi setidaknya saya sudah tahu kemana mobil itu akan membawa saya: rumah Ishaan dan Pia.

Anehnya, semakin lama mobil berjalan saya semakin waswas karena mobil berjalan ke arah yang tidak saya kenal. Bukan ke arah rumah Ishaan. Duh! Saya cuma bisa berharap dan berdoa bahwa kedua orang itu tidak akan macam-macam.

Sedan biru terus melesat di dalam gang-gang kecil pemukiman warga. Hingga akhirnya mobil yang saya tumpangi tersebut berhenti di depan sebuah rumah besar yang serba tertutup. Suram.

“Come on, let’s go!” kata Rajiv.

(Bersambung ke part.3)

Advertisements

4 thoughts on “Couchsurfing dan Pria India (part.2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s