India / Mancanegara / Perjalanan

Kota yang Terus Terjaga

Jangan begadang kalau tiada artinya. Begitu kata Bang Rhoma. Ternyata mereka yang begadang tidak hanya manusia. Sebuah kota juga bisa, katanya.

The city that never sleep. Kota yang tidak pernah tidur.

Ketika lampu ribuan watt dari sebuah mall padam pukul 10 malam, pada saat yang bersamaan kios dadakan beralaskan terpal tergelar di pasar tradisional. Aktivitas pasar modern digantikan dengan pasar kaget hingga matahari terbit.

Dimana ada pasar, disitu ada keramaian dan kemacetan. Walau jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, keramaian di sekitar pasar tetap hidup. Kira-kira seperti itulah gambaran sebagian kecil kawasan di Jakarta. Bagi saya, Jakarta adalah kota yang tidak pernah tidur (seutuhnya). Walaupun sebagian besar kota diselimuti kesunyian.

Tidak peduli amat sebetulnya Jakarta itu tidur seutuhnya atau tidak. Namun bagian lirik lagu New York!New York! cukup membuat saya penasaran seperti apa kota yang tidak pernah tidur itu.

I want to wake up in the city that never sleeps, kata Frank Sinatra.

Ternyata Tuhan tidak perlu jauh-jauh menerbangkan saya ke benua Amerika untuk menunjukkan the city that doesn’t sleep. Di negeri anak benua ini, pertanyaan saya terjawab.

Semua masih berjalan normal ketika telapak kaki saya berpijak di Jessore Road, Kolkata. Tempat dimana bandara usang yang menjadi salah satu pintu gerbang bagi para pelancong berada. Oh ya, jangan lupakan nyamuk-nyamuk sebesar buku jari yang turut menyambut wisatawan di bandara.

Dari dalam jendela prepaid taxi yang membawa saya ke penginapan, saya disuguhkan tontonan lalu lintas khas Kolkata. Lautan manusia berjejal memenuhi sisi jalan. Ada yang mau menyebrang jalan, ada yang berebut masuk ke dalam bus kota. Mereka berkali-kali lipat jumlahnya dibandingkan dengan jumlah manusia yang biasa berlalu lalang di Jakarta.

Taksi-taksi kuning dengan model kuno berlomba memacu kecepatan. Gas – rem – gas – rem. Semua jenis kendaraan saling berebut badan jalan tanpa ada yang mau mengalah sedikitpun. Polusi udara di Kolkata jauh lebih buruk daripada Jakarta. Emisi dari lautan kendaraan bermotor semakin diperburuk dengan jarangnya ruang terbuka hijau. Gersang! Hanya bangunan-bangunan tua berjejal yang bisa menangkap debu-debu dari jalan raya.

Image

Tidak cukup polusi udara, polusi suara juga turut menyemarakkan kota ini.

Bunyi klakson dengan volume melebihi batas kewajaran saling bersahutan di antara taksi, truk, mobil pribadi, auto-rickshaw, dan motor. Di India sulit sekali membedakan mana bunyi klakson truk dan mana bunyi klakson motor. Semua sama kerasnya.

Setiap pasar juga turut serta dalam menambah bisingnya kota. Dimana ada pasar, di sana musik India berdendang keras. Begitu juga dengan altar pemujaan dewa-dewi yang berada di pinggir jalan. Semua menarik para pendoa dengan memutarkan kidung dalam volume keras.

Hiruk pikuk Kolkata di malam hari itu seolah berlomba menyerukan, welcome to India! Benar kan, culture shock yang saya alami di dalam pesawat masih belum ada apa-apanya dibandingkan pemandangan yang tersuguh di depan saya saat itu. Dan, hey ini masih hari pertama lho!

Kejutan demi kejutan di sepanjang lalu lintas Kolkata tersaji silih berganti selama 40 menit. Setelah sampai di kawasan penginapan backpacker, Sudder Street, barulah saya bisa menghela napas lega. Harapan bisa istirahat dan terbebas dari kebisingan kota Kolkata sudah tergambar di benak saya.

Namun gambaran tersebut hanya sebatas harapan. Checkpoint Guesthouse yang menjadi tempat saya bermalam terletak di pinggir jalan besar. Hingga keesokan pagi, hiruk pikuk lalu lintas khas Kolkata tetap membahana. Tanpa henti, suara klakson tetap bersahutan hingga pagi. Kehidupan kota yang sangat keras memaksa penduduknya begadang, terus beraktivitas tanpa istirahat.

Kolkata tidak pernah tidur.  Kolkata terus terjaga.

Mungkin juga, bangun tidur di tengah kota yang tidak pernah tidur seperti dalam penggalan lagu Frank Sinatra hanya terasa indah di New York. Bukan Kolkata.

Advertisements

2 thoughts on “Kota yang Terus Terjaga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s