India / Mancanegara / Perjalanan

Kejutan Budaya Pertama

Culture shock. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti kejutan budaya. Istilah popular untuk merujuk kepada mereka yang mengalami disorientasi terhadap situasi berbeda dan tidak familiar ketika mengunjungi suatu negara. Begitu kurang lebih menurut Wikipedia.

Sejauh pengalaman melancong saya ke beberapa negara tetangga di kawasan Asia Tenggara, tidak ada pengalaman culture shock yang berarti hingga membuat saya frustasi. Apalagi ke Malaysia dan Singapura.

Ada yang bilang bahwa mereka (orang Indonesia) yang baru melancong ke dua negara tersebut belum layak mendapatkan predikat ‘backpacker ’. Selain sudah jauh lebih maju, Malaysia dan Singapura masih memiliki nenek moyang dengan ras yang sama dengan kita : Melayu. Bahasa Melayu masih bisa digunakan sebagai bahasa alternatif jika si pelancong tidak bisa berbahasa Inggris. Dari sisi budaya juga tidak ada perbedaan yang signifikan.

Ketika mulai memasuki kawasan Indochina, barulah para pelancong akan sedikit disulitan dalam berkomunikasi. Terlebih tidak banyak penduduk kawasan Indochina  yang bisa berbahasa Inggris. Contohnya, Thailand. Walau bersebelahan dengan Malaysia, bentuk aksara ภาษาไทย tidak lagi familiar dan entah bagaimana cara membacanya. Begitupun dengan tiếng Việt. Meskipun masih menggunakan huruf latin, cara perlafalan sangat jauh berbeda dengan apa yang tertulis.

Namun sebetulnya ujian bagi para pelancong di kawasan Indochina cukup sampai situ saja. Ketika sudah keluar dari kawasan Asia Tenggara , maka ujian mental dalam bentuk culture shock yang sesungguhnya akan segera dimulai. Tidak hanya dalam bahasa, namun juga dalam hal budaya dan norma.

Seperti yang saya alami selama di India.

Dari counter check-in di KLIA LCCT, tidak lagi ada rekan seperjalanan yang sebangsa. Hampir seluruh penumpang pesawat dari Kuala Lumpur menuju Kolkata adalah warga India yang hendak pulang ke kampung halaman. Merekalah yang memberikan pengalaman culture shock pertama kepada saya.

Asap dingin dari pendingin ruangan pesawat berhembus kencang dengan aromanya yang khas. Sayang, aroma sedap tersebut harus kalah dengan aroma kare yang keluar dari tubuh penumpang lokal (maksudnya, orang-orang India).

Tidak cukup sampai disitu. Keheningan yang biasanya menyelimuti pesawat sesaat setelah lepas landas, tidak ada. Suasana dalam pesawat riuh rendah dengan penumpang lokal yang sibuk berceloteh dengan volume yang tidak rendah, tertawa terbahak, hingga  bertahak untuk mengeluarkan riak.

Aroma kare yang sebelumnya terhembus dari tubuh penumpang lokal semakin menyengat ketika hampir sebagian dari mereka memesan makanan serupa di dalam pesawat. Hiruk pikuk mereka hampir tidak ada jedanya hingga pesawat sudah mendarat di Kolkata.

Berisik dan bau. Culture shock pertama saya yang menyebabkan tidur kurang nyenyak selama empat jam penerbangan menuju Netaji Subhash Chandra Bose International Airport.

Namun sesungguhnya keberisikan dan aroma tidak sedap yang saya rasakan di dalam pesawat, masih tidak ada apa-apanya jika dibandingkan ketika kedua telapak kaki ini telah menapak dan berjalan di atas tanah India.

Perjalanan yang menguji ketangguhan mental seorang pelancong, baru saja dimulai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s