Mancanegara

Great Singapore vol.1

Awalnya gue benar-benar nggak semangat untuk berangkat ke Singapur. Saat itu lagi tumben-tumbennya gue betah di rumah dan rasanya nggak pengen pergi. Tapi tentunya gue tidak akan membiarkan uang gue terbuang begitu aja karena udah keluar banyak buat bayar ini-itu.

Sebelumnya gue juga nggak pernah tertarik untuk liburan ke sana. Walaupun buanyak banget orang Indonesia yang udah ratusan kali liburan di sana dan berbagi cerita betapa indahnya Singapur, gue sama sekali tetap nggak tertarik. Mungkin karena gue tahu bahwa Singapura adalah kota besar yang dinamikanya tidak jauh berbeda dengan Jakarta—kota yang telah gue diami selama ±20 tahun. Bagaimanapun juga gue lebih tertarik pergi ke tempat yang ‘masih asli’ dan kental dengan kebudayaan setempat.

Gue ke Singapur dalam rangka menghadiri World Leadership Conference—konferensi pemuda tingkat dunia tentang perubahan iklim. Walaupun nyatanya kebanyakan peserta berasal dari Asia. Acaranya berlangsung tiga hari dan berlokasi di jantung kota Singapura; kawasan bisnis Marina dan pusat perbelanjaan Orchad.

Karena gue sedikit kiasu—istilah orang Singapura bagi mereka yang ogah rugi—gue nggak mau pergi ke sana hanya untuk menghadiri konferensi tersebut. Maka gue perpanjang kepergian gue di sana menjadi enam hari. Tiga hari konferensi dan tiga hari jalan-jalan. Hehe

Jika beberapa perjalanan sebelumnya gue selalu membawa baju yang jumlahnya berlebihan dan akhirnya tidak terpakai, kali ini gue membawa baju yang jumlahnya pas-pasan. Bahkan sampai kekurangan. Jika biasanya gue pergi dalam satu rombongan banyak—7 sampai 9 orang, kali ini gue cuma pergi bertiga.

Sampai gue tiba di bandara Soekarno-Hatta tangal 11 Juli pagi gue masih nggak mood dan nggak semangat. Bahkan gue sempet homesick pada hari pertama tiba di Singapura. Lemas nggak kuat jalan jauh karena lupa bawa doping Enervon-C. Yeah, it really was an unusual habit along the trip for a person like me.

Tapi sumpah, tingkah gue yang seperti itu cuma berlaku di hari pertama lho. Seiring hadirnya perasaan nyaman berada di negara tersebut, lama kelamaan gue betah. Malahan males banget pulang ke Jakarta.

Ya walaupun uang gue terkuras cukup banyak, gue nggak nyesel sedikitpun dengan perjalanan ini.

Setiap perjalanan pasti memiliki kisahnya masing-masing dan meninggalkan kesan berbeda. Tapi perjalanan enam hari di negara yang tidak pernah gue lirik sedikitpun sebagai tujuan bepergian memberikan baaanyak sekali pelajaran. Baik dari konferensi itu sendiri maupun dari setiap pengalaman yang gue alami selama di sana.

Dan gue bisa menemukan hakikat sebuah perjalanan yang sesungguhnya ketimbang sekedar menekan tombol shutter pada kamera ratusan kali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s