Mancanegara / Thailand

Sawasdee! ; Phuket Trip vol.1

Hari yang sudah dinanti selama tujuh bulan akhirnya datang juga. 17 Januari 2011 lalu saya beserta tiga orang teman lainnya–Yunus, Febry, Eji–berangkat ke Phuket, Thailand.
Kurang lebih pukul lima sore, penumpang di persilahkan masuk ke dalam pesawat. Penumpang pesawat kebanyakan orang asing. Hanya beberapa orang saja yang dari Indonesia. Pesawatnya pun sangat kosong. Karena ketiga teman lain sudah bersama-sama dalam satu deret tempat duduk, otomatis saya—yang memesan tiket belakangan—akan duduk sendiri dalam deret kursi yang berbeda.

Saya sempat bertanya-tanya siapakah orang asing yang akan duduk di samping saya dalam pesawat menuju Phuket? Apakah seorang pria yang bertingkah aneh seperti Mr.Bean? Apakah seorang TKI? Apakah bule asal Portugis yang tampan itu? Apakah sepasang kekasih yang akan asyik bermesraan dan bercumbu di samping saya?

Ternyata satu bangku di samping saya kosong tidak terisi. Namun Di kursi yang dekat dengan jendela duduk seorang pria yang terlihat seumuran dengan saya. Melihat sama-sama duduk sendiri, maka kami berkenalan.

Namanya Adis. Umurnya 20 tahun. Dia mahasiswa jurusan pariwisata sekolah pariwisata Enhai, Bandung. Dan dia akan berlibur ke Phuket selama delapan hari, seorang diri. Yea, I think this is crazy enough.

Pesawat mendarat di Phuket International Airport pukul delapan malam—lima belas menit lebih awal dari jadwal semula.

Sawasdee!

Begitu ucapan salam dalam bahasa Thai yang banyak dijumpai dalam bandara. Artinya kurang lebih sama dengan “halo”.

Phuket International Airport tergolong standard dan biasa saja. Bahkan toiletnya pun masih sedikit bau pesing seperti kebanyakan toilet di Indonesia. Meskipun demikian bandara ini cukup memfasilitasi segala kebutuhan wisatawan dengan baik. Suasana bandara di Phuket tidak beda jauh dengan di Indonesia. Di sana banyak juga agen-agen taksi yang menawarkan jasanya kepada wisatawan yang baru datang. Hanya saja mereka lebih sopan , ramah, dan tidak seganas di sini.

Tujuan pertama kami adalah kawasan Patong.

Jika di Indonesia, kawasan ini kurang lebih sama seperti suasana pantai Kuta yang padat dengan wisatawan asing. Dengan menyewa taxi seharga 500 baht, Patong bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih satu setengah jam dari Phuket International Airport.

Dibandingkan dengan taksi-taksi lain yang ada di bandara, sepertinya Taxiair ini armadanya paling jelek. Jauh lebih buruk jika dibandingkan dengan sejumlah taksi di Indonesia seperti Blue Bird, Taxi Express, Taxi Cab. Mobilnya sedan tua yang tidak terlalu terawat. Tapi pendingin udara masih berfungsi dengan baik dan masih bisa terasa nyaman. Meskipun begitu taksi ini terlihat laris. Mungkin karena harganya yang cukup murah dan bisa di tawar.

Selama perjalanan kami banyak berbincang dengan pengemudi taksi. Nama yang tertulis dalam ID cardnya cukup membuat saya bergidik. Bandit. Ya saya tidak salah ketik kok. Memang itu nama si pengemudi taksi. Saat ditanya mengenai namanya, ia mengatakan bahwa bandit itu berarti guru dalam bahasa Thai. Bandit bisa berbahasa Inggris cukup lancar dan ia juga ramah.

Kami sampai di kawasan Patong sekitar pukul setengah sepuluh malam, dan memilih Narry’s Hotel yang dimiliki orang India dengan harga 1000 baht per malam. Termasuk mahal sih. Tetapi berhubung kami waktu itu sudah lelah dan malas untuk mencari penginapan yang lebih murah, ya sudahlah.

Kamarnya tidak terlalu luas namun cukup lega untuk dihuni oleh empat orang. Ada AC, kulkas berserta minumannya, lemari beserta hangernya, TV yang tidak bisa dinyalakan, kamar mandi dengan bath-up, shower, water heater, wi-fi. Cukup worth it untuk harga 1000 baht dibagi empat.

Setelah meletakkan barang bawaan, kami langsung berjalan-jalan menghirup hawa malam Patong. Seperti halnya kawasan Kuta, Patong banyak dipenuhi oleh turis-turis asing yang kebanyakan bule. Hanya saja bule yang lalu-lalang di kawasan ini berasal dari berbagai macam usia, tidak mayoritas anak muda seperti di Kuta. Mulai dari kakek nenek, pasangan muda, anak muda, suami istri beserta anaknya yang masih balita, dan juga anak-anak seumuran Justin Bieber banyak dijumpai di Patong.

Di sana ada satu jalan yang ditutup untuk kendaraan jika malam. Dan sepanjang jalan tersebut tersedia berbagai macam hiburan malam. Mau sekedar nongkrong di kafe? Mau nonton Thai boxing? Mau dugem di bar yang indoor atau outdoor ? Atau menghabiskan malam dengan wanita asli ataupun yang banci tersedia di kawasan ini. Tinggal Anda yang memilih 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s