Ulasan Bacaan

Book Review: Eat Pray Love

Akhirnya film yang ditunggu-tunggu tayang juga! Film Eat Pray Love diangkat dari sebuah novel memoar dengan judul yang sama karya penulis Amerika, Elizabeth Gilbert, rilis tanggal 13 Oktober lalu. Sebelumnya buku ini sudah menuai sukses di pasaran dan menjadi International Bestseller.

Jika di Amerika film Eat Pray Love ini heboh karena banyak yang menggemari novelnya, mungkin di Indonesia film ini booming karena pengambilan gambar dilakukan di Pulau Dewata dan juga melibatkan aktris senior Indonesia.

Eat Pray Love bercerita tentang kehidupan seorang penulis wanita asal Amerika, Liz, yang tidak bahagia dengan pernikahannya lantaran ia merasa hampa dengan apa yang didapat sejauh itu. Dan pernikahannya berakhir pada perceraian yang menyebabkan ia kehilangan seluruh harta benda dan mengalami depresi berat. Selama menempuh masa perceraian, ia berpacaran dengan aktor muda nan tampan bernama David. Namun, lagi-lagi kisah cintanya kandas.

Untuk menyembuhkan depresinya itu, ia pergi meninggalkan keluarga, pekerjaan, dan semua harta benda miliknya di New York dengan berkelana ke tiga negara dalam waktu satu tahun seorang diri.

Tiga negara itu adalah Italia, India, dan Indonesia.

Di Italia, ia mencari kembali hawa nafsu makannya yang telah lama hilang dengan berkuliner tanpa mempertimbangkan resiko bertambahnya berat badan seperti yang biasa dilakukan wanita pada umumnya.

Di India, ia berusaha untuk menjalin lagi hubungannya dengan Tuhan yang sudah lama lenyap. Dengan memilih kota kecil Ashram yang merupakan pusat agama Hindu, Liz bisa lebih fokus mendekatkan diri kepada sang pencipta.

Dan di Indonesia, ia menemukan keseimbangan antara apa yang ia cari di dua negara sebelumnya, dan juga menemukan cinta yang baru sambil menikmati keindahan pulau Dewata.

bersama Ketut Liyer dalam sebuah pura di kota Ubud

Dalam buku digambarkan dengan detail bagaimana seorang Liz Gilberth yang tengah depresi benar-benar memanfaatkan waktu empat bulan di tiap negara dengan mengenal dan memahami segala hal yang otentik dari daerah tersebut. Seperti saat ia berusaha belajar berbahasa Italia sambil mempraktekan gesturenya yang khas.

Selama satu tahun perjalanannya, Liz Gilberth melalui sebuah pertarungan batin yang dahsyat. Ia berusaha mati-matian untuk melupakan masa lalunya bersama sang mantan suami dan juga David. Namun berkat bantuan orang-orang terdekat yang dikenalnya selama bermukim di tiga negara tersebut, ia banyak menerima nasehat, masukan, dan bantuan secara moril atas masalah yang tengah ia hadapi.

Segala poin penting yang ada dalam buku hampir tidak ada yang luput saat di angkat ke layar lebar. Tetapi sayangnya poin-poin itu diungkapkan dan dijelaskan dengan amat singkat, sehingga bagi penonton yang belum membaca bukunya akan sedikit bingung.

Keindahan setiap sudut kota yang dijelajahi Liz diekspos dengan baik dan berhasil menjadi obat yang ampuh untuk membunuh rasa jenuh karena cerita yang sedikit membosankan dan hampir tak ada klimaks.

Kisah-kisah anti-klimaks memang sedikit membosankan jika di angkat ke layar lebar. Apalagi jika sang sutradara tidak pintar-pintar menyiasati kelemahan tersebut. Karena biasanya yang membuat kisah seperti ini terkenal adalah petuah-petuah dan pelajaran hidup dibalik alur utama yang sayang jika tidak direnungan lebih dalam.

Bukunya sangat recommended untuk dibaca, terutama versi asli yang berbahasa Inggris. Untuk film sebetulnya kurang bagus. Namun pasti Anda tidak ingin melewatkan keindahan panorama Bali dan juga aksi Christine Hakim beserta aktor Indonesia lainnya dalam film Hollywood ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s