Ulasan Bacaan

Cinta di Dalam Gelas

Setelah sukses dengan tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata kembali meramaikan dunia sastra dengan meluncurkan dwilogi Padang Bulan yang terdiri dari Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas. Cinta di Dalam Gelas sendiri adalah novel kedua dari dwilogi Padang Bulan. Senada dengan novel-novel sebelumnya, Pulau Belitong dan kehidupan masyarakat Melayu di dalamnya masih menjadi latar belakang yang diambil untuk kisah ini.

Cinta di Dalam Gelas banyak bercerita tentang teman lama Ikal yang namanya sudah disebut-sebut sejak novel Sang Pemimpi, yaitu Enong atau Maryamah. Dalam novel ini dijelaskan dengan detil bagaimana sepak terjang Enong dalam memenangkan kejuaraan catur paling bergengsi di Tanjong Pandan. Bagi Enong perhelatan lomba catur yang ia ikuti bukanlah pertandingan biasa, karena lewat kejuaraan tersebut harga diri dan martabatnya dipertaruhkan. Tidak hanya dihadapan mantan suaminya yang kelak akan menjadi lawan yang paling berat, namun juga dihadapan masyarakat yang telah banyak mencibirnya. Sebetulnya Enong bukanlah seseorang yang sudah lama berkecimpung dalam dunia percaturan. Bahkan hanya sekedar memegang satu bidik catur pun, Enong tak pernah. Oleh karena itu, Enong dituntut untuk mempelajari catur dari nol dengan sungguh-sungguh.

Lewat tokoh Enong, sang penulis secara tersirat menyampaikan betapa pentingnya menjaga dan mempertahankan sebuah martabat dan harga diri bagi seorang perempuan. Walaupun medan yang dilalui amat berat danmenuai banyak cibiran dari masyarakat. Kegigihan dan rasa semangat Enong yang tidak pernah padam dalam belajar juga patut dijadikan contoh. Dalam kisah ini ditegaskan bahwa pada dasarnya perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki, dan keberadaannya tidak bisa dianggap remeh.

Cara sang penulis bercerita dalam Cinta di Dalam Gelas terasa lebih menarik dan jenaka daripada novel-novel sebelumnya. Hal ini bisa dirasakan ketika tokoh Ikal mulai menjelaskan hasil rumusannya tentang karakter seseorang sesuai dengan ramuan kopi favorit mereka. Akan tetapi gaya penceritaan sang penulis yang terlalu detail tentang filosofi kopi dan permainan catur membuat pembaca sedikit jenuh.

Buku ini cocok untuk dikonsumsi oleh semua umur, terutama bagi para pelajar yang semangatnya untuk meraih cita-cita mulai longgar. Karena dengan membaca kisah seorang Enong, kita bisa termotivasi dari semangat belajarnya yang luar biasa.

Dibuat dalam untuk memenuhi tugas open recruitment BO Pers Suara Mahasiswa 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s