Domestik / Jogjakarta

Jelajah Semarang ; Jogja-Semarang Series vol.5

Lanjut kisah perjalanan Jogja. Setelah memperhitungkan bahwa jarak antara Jogja dan Semarang tidak terlalu jauh, jadi kami memutuskan untuk mampir dulu ke Semarang. Akses transportasi yang ada untuk bisa sampai Semarang saat itu hanya bus. Naek bus umum bisa memakan waktu kurang lebih 2.5 sampai 3 jam dengan biaya 30ribu rupiah. Waktu itu, jalur kereta dari Jogja ke Semarang belum I buka. Tapi beberapa bulan yang lalu jalur kereta api jurusan Jogjakarta- Semarang sudah diresmikan dan bisa digunakan. Namanya K.A. Banyu Biru.
Keputusan untuk mampir dulu ke Semarang bukan hanya karena jaraknya yang dekat dengan Jogja, melainkan karena berdasarkan memori di otak saya, Semarang itu bagus. Walaupun saat saya masih sering ke sana objek wisata yang terkenal hanya Lawang Sewu yang mistis itu dan kota tua. Dulu mobilisasi saya dari kota Jakarta ke Semarang cukup tinggi karena Bapak sempat dinas di sana kurang lebih 2 tahun. Jadi, kalau ada libur sekolah pasti saya ke sana.Waktu itu saya masih kelas 6 SD. Ya, saat itu objek wisata yang terkenal hanya wisata bangunan tua. Tahun 2005 mulai dibangun beberapa tempat peribadatan seperti klenteng dan masjid yang juga tidak kalah menarik dijadikan objek wisata. Di liburan bulan Januari kemarin, gue merapel semua objek wisata terkenal yang ada di Semarang.
Sam Poo Kong
Menurut sumber yang saya baca, Sam Poo Kong ini dibangun oleh seorang penjelajah asal Cina bernama Laksamana Cheng Hoo. Makanya di depan kuil yang cukup besar ini ada patung sang Laksamana. Selain itu kabarnya dalam kuil ini terdapat altar dan makam orang-orang kepercayaan Laksamana Cheng Hoo. Salah satunya sang juru kemudi kapal. Sayangnya saya nggak sempet masuk ke dalam klenteng, karena jika ingin masuk sampai ke altar sembahyang, Anda harus merogoh kocek lagi sebesar 20ribu. Untuk masuk sampai halamannya saja, cukup bayar 3ribu rupiah.
Gereja Blenduk
Gereja Blenduk yang sering dieja gereja mBlenduhg ini terletak tidak jauh dari stasiun Tawang. Maksud blenduk disini oleh masyarakat merujuk kepada bentuk kubah. Gereja tertua di Jawa Tengah ini dibangun masyarakat Belanda pada tahun 1753 dengan bentuk heksagonal dan hingga kini masih digunakan sebagai tempat peribadatan kaum Nasrani.
Telusur Kawasan Kota Tua
Kota tua di Semarang bisa dinikmati dengan berjalan kaki mulai dari Stasiun Tawang. Di daerah ini Anda bisa menikmati gedung-gedung tua peninggalan kolonial yang masih berdiri. Salah satu titik yang menarik di kawasan kota tua ini adalah tempat pembuatan film Ayat-Ayat Cinta. Masih tertipu dengan suasana perkampungan timur tengah yang digambarkan nyaris sempurna dalam film tersebut? Wajib banget liat spot ini jika berkunjung ke Semarang.
Lawang Sewu
Lawang sewu berasal dari bahasa Jawa yang berarti pintu seribu. Bangunan megah bergaya arsitektur kolonial ini memiliki pintu yang sangat banyak. Orang jawa selalu mengibaratkan sesuatu yang jumlahnya banyak dengan nominal seribu. Walaupun mungkin, jumlah pintu disini belum tentu genap ada seribu.
Pada masa pemerintahan Belanda bangunan ini digunakan sebagai kantor pusat kereta api dengan nama asli Nederlansch Indische Spooweg Maschappij. Sekarang bangunan ini diambil alih oleh PT KAI Indonesia dan sedang dalam masa peremajaan. Sayang, dari pertama kali gue melihat bangunan ini waktu kelas 6 SD sampai sekarang tidak ada perubahan signifikan dari penampilan gedung. Hanya saja sekarang sudah bisa dikunjungi sebagai tujuan wisata walaupun bangunannya masih banyak yang rusak. Sepertinya butuh biaya peremajaan bangunan yang cukup besar. Untuk masuk sini dipungut biaya retribusi sebesar 4ribu rupiah, belum termasuk tour guide.
Lawang Sewu dari dalem
Jangan kaget begitu Anda melihat tulisan besar berbunyi “DILARANG MELAKUKAN KEGIATAN MISTIS DI GEDUNG INI” terpampang besar-besar di pintu masuk gedung. Lawang sewu ini memang lebih dikenal sebagai bangunan yang penuh misteri karena arwah gentayangan dengan jumlahnya banyak dan terkenal ganas. Hawa mistis mudah sekali dirasakan walaupun siang bolong. Bulu kuduk gue juga sempat berdiri waktu ngelewatin salah satu koridor dalam gedung. Jika Anda suka uji nyali, tersedia juga layanan tour Lawang Sewu di malam hari.
Universitas Diponegoro
Seperti ritual sebelumnya, gue berkunjung ke universitas yang terkenal di kota ini, yaitu Universitas Diponegoro. Universitas yang sering disebut UNDIP ini terbagi jadi dua kampus. Untuk fakultas kedokteran dan ilmu sosial ada di daerah Semarang bawah, tepatnya Simpang Lima. Sedangkan sisanya ada di daerah Semarang atas, tepatnya Tembalang. Kampus UNDIP ini banyak yang sedang dalam pembangunan.
ga sengaja dapet shot yang oke di Masjid UNDIP
Pagoda Avalokitesvara
Pagoda yang letaknya tidak jauh dari kampus UNDIP di daerah Tembalang ini, merupakan bangunan yang dinobatkan sebagai pagoda tertinggi di Indonesia. Untuk masuk sini tidak dipungut biaya sama sekali. Mau masuk sampai ke altar sembahyang juga boleh, asal nggak foto-foto didalamnya. Pagoda ini terdiri dari 7 tingkat dengan patung dewi Kwan Im di tiap tingkat yang menghadap ke empat penjuru. Semua bahan material, ornamen didatangkan langsung dari negri Cina. Dan rencananya di samping pagoda ini juga akan dibangun patung Budha setinggi 36 meter.
Masjid Agung Jawa Tengah
Kalo ke Semarang, wajib banget nih berkunjung ke salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara. Masjid ini bisa dibilang megah karena ukurannya yang sangat besar dan gaya arsitektur bangunan tidak seperti bangunan masjid di Indonesia pada umumnya. Masjid megah ini memiliki tiang-tiang penyangga yang berfungsi sebagai payung raksasa yang suatu waktu akan terbuka apabila cuaca sedang sangat panas atau hujan turun mengguyur.
Salah satu hal yang menarik di masjid ini adalah menara pemancar suara setinggi 99 meter yang di dalamnya terdapat restoran yang lantainya bisa berputar. Jadi sembari Anda menikmati hidangan, Anda juga bisa menikmati pemandangan kota Semarang secara merata. Restoran ini terletak di lantai 18. Di lantai 19 Anda bisa menikmati kota Semarang seperti halnya Anda menikmati pemandangan kota Jakarta dari puncak monas. Di puncak menara ini juga disediakan teropong untuk melihat penjuru kota dengan memasukan koin Rp 500,-. Pengunjung yang tertarik masuk menara ini harus membayar uang restribusi sebesar 3ribu rupiah. Pemandangan yang didapat dari atas menara masjid ini oke bangettt dan nggak kalah menarik dari Monas.
Candi Gedong Songo
Awalnya candi ini nggak masuk daftar objek wisata yang akan saya kunjungi waktu itu. It was such like a surprise on the last day in Semarang. Lokasinya agak jauh dari kota Semarang, tepatnya di kecamatan Bandungan, lereng gunung Ungaran. Kawasan Bandungan ini terkenal karena cuacanya yang sejuk khas pegunungan.
Gedong berarti bangunan, dan songo berarti sembilan. Candi gedong songo ini merupakan wilayah kompleks percandian yang terdiri dari sembilan buah candi yang tersebar di sekitar lereng Gunung Ungaran. Kompleks percandian ini ditemukan oleh Raffles pada tahun 1804 dan merupakan peninggalan dari kerajaan Hindu Wangsa Syailendra dari abad ke-9. Pada awalnya kompleks ini adalah candi gedong pitoe, karena pertama kali ditemukan oleh Raffles hanya tujuh bangunan candi. Lalu kemudian ditemukan lagi dua buah candi walaupun dalam keadaan tidak utuh.
Candi ini memiliki banyak kemiripan dengan kompleks percandian yang ada di Dieng. Baik dari adanya kemiripan fisik antara Candi Gedong Songo dan Candi Dieng, sampai penempatan candi yang tersebar di lereng gunung di atas ketinggian 1200 meter. Diyakini kedua candi ini dibangun pada masa yang sama, yaitu abad VII – IX Dinasti Syailendra.
Panorama alam yang disajikan di objek wisata ini baguuuuuuuus banget. Selain bisa menikmati keindahan bangunan candi, pengunjung juga bisa sekaligus berolahraga. Karena jarak satu candi dengan yang lain cukup jauh tersebar di lereng gunung. Dan nanjaknya juga lumayan. Tapi tenang aja jalanan untuk wisatawan sudah ada trek nya sendiri, tinggal ikutin jalan tersebut biar bisa sampai di candi berikutnya.
Sebetulnya candi gedong songo ini bagus banget, nggak kalah bagus sama Candi Dieng. Bahkan menurut gue, masih jauh lebih bagus dan lebih menarik daripada Istana Ratu Boko yang ada di Jogja. Harga tiket masuknya pun murah, cuma 5ribu rupiah. Sayang objek wisata ini kurang terkenal.
Dengan ini saya ingin menyatakan bahwa kisah perjalanan Jogjakarta – Semarang, TAMAT.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s