Domestik / Jogjakarta

Hanya Aku, Pantai, dan Langit ; Jogja – Semarang Series vol.1

otak gue ketinggalan di Sundak nih feb.haha

Reply status twitter di atas saya tulis di bawah alam sadar. Pas dibaca sekali lagi, saya baru menyadari kalau memang otak saya masih ketinggalan di sebuah pantai cantik berlokasi di pulau Jawa. Pantai Sundak namanya. Pantai yang berlokasi di kabupaten Gunung Kidul, sebelah selatan Wonosari ini membuat saya merasa bahwa delapan orang kawula 14 ini sedang tidak di pulau Jawa.

Di awal perjalanan saya sempat bingung, kita mau ke pantai kan?kok naek gunung kayak mau ke Ciwidey?

Sedikit membuat kami ragu sebetulnya, tapi ah ya sudahlah nikmati saja dulu pemandangan daerah pegunungan yang menyejukan. Di perjalanan, kami sempat melihat sebuah gunung. Entah gunung apa itu. Apa itu gunung Merapi? Entahlah, yang jelas ia terlihat gagah membelah langit biru dan cukup menghibur kami.

Beberapa saat setelah itu, pemandangan yang terlihat hanyalah hutan dan daerah pedesaan yang begitu sunyi. Entah apa pastinya nama daerah tersebut, yang saya yakin itu masuk ke daerah kabupaten Gunung Kidul. Wonosari sudah lewat , dan gunung yang menampakkan dirinya di awal perjalanan sudah tidak terlihat, yang terlihat hanya hutan dan beberapa penduduk setempat yang tidak banyak jumlahnya. Dan di jalan yang kami lalui, tidak ada mobil lain yang melintas selain mobil sewaan kami.

Sempat terbesit keraguan di antara kami, pak supir sebenernya tau jalan ga sih? Jangan-jangan sok tahu. Kok dari tadi gunung mulu yang keliatan? Ditambah lagi pak supir sempat turun di persimpangan jalan, dan menanyakan arah jalan ke penduduk setempat, membuat kami semakin ragu.

Kami mulai sedikit tenang setelah melihat papan penunjuk jalan ke objek wisata yang dituju. Di papan itu tertulis beberapa nama pantai, di antaranya Krakal dan Baron. Sisanya saya lupa. Oke, perjalanan tidak lama lagi!Akan tetapi walaupun sudah melihat penunjuk jalan ke arah pantai, tetap saja yang kami lihat hanya hutan. Bahkan jalanan semakin sunyi.

Ditengah kesunyian jalan yang kami lewati, tiba-tiba ada sesuatu yang memecah keheningan tersebut. Pemecah keheningan tersebut adalah bunyi desir ombak yang menghempas bibir pantai. Sungguh, saya bingung melukiskan betapa bahagia dan takjubnya kami saat pertama kali melihat ombak pantai bergulung-gulung menabrak bibir pantai. Rasanya tak sabar ingin memijakan kaki keluar dari mobil dan berlari-lari menyambut ombak. Akh subhanallah cantiknya..

Wisatawan yang ada di pantai itu, hanyalah kami berdelapan. Jauh dari keramaian, bahkan pedagang pun saat itu tidak ada yang berjualan. Informasi megenai pantai ini di google pun masih sedikit. Benar-benar pantai yang masih virgin. Langit biru yang cerah, awan-awan putih yang menggumpal, pasir putih yang dihiasi beraneka ragam kerang , air laut bening yang membawa ombak bergulung-gulung… ini baru pantai!

Sungguh kami bahagia bukan main bermain di pantai ini. Kami melakukan apapun.Berfoto-foto dengan berbagai macam gaya dan properti sampai kamera Febry terjatuh ke pasir. Nekat bermain ombak yang tinggi walaupun mengorbankan pakaian dalam yang tidak ada cadangannya. Bermain tak jongkok—salah satu permainan rakyat yang sering kami mainkan waktu kecil. Solat dzhuhur di sebuah gazibu yang berada di bibir pantai sambil mendengar bunyi ombak yang saling bersahutan. Tidur-tiduran di atas dipan yang terbuat dari bambu sambil lagi-lagi menikmatisuasana pantai sesungguhnya. Kami bisa melakukan apa pun yang kami inginkan tanpa takut ada wisatawan yang terganggu, karena benar-benar hanya kami berdelapan yang ada. Bagai private beach rasanya!

Mulai dari pagi hingga hampir menjelang sore. Mulai dari laut masih sangat pasang, hingga sangat surut sampai kami juga bisa menikmati tumbuhan yang menempel pada bebatuan. Sampai kami juga lupa bahwa siang itu sedang terjadi gerhana matahari yang juga turut andil dalam menyurutkan air laut sampai benar-benar jauh. Walaupun kulit menghitam, tak apalah. Sebanding dengan kebahagiaan dan keceriaan yang kami dapat dari sebuah pantai tersembunyi di balik perbukitan itu.

Untuk sesaat saya benar-benar melupakan beban pikiran selama di Jakarta.IP semester 3 yang bergerak jatuh bebas terus menghantui pikiran saya. Waktu masih di Jakarta, rasanya ingin cepat-cepat kuliah agar bisa dengan segera memperbaiki semuanya. Tetapi begitu sampai pantai ini, otak saya bagai dicuci. Bahkan otak saya masih ‘tertinggal’ di sana! Rasanya masih terngiang desirombak yang menghantam tebing dan bibir pantai dikala saya melamun. Saya memang sudah kembali di Jakarta—bahkan tiga hari lagi semester 4 sudah dimulai—tetapi jiwa dan pikiran saya masih tertinggal di pantai Sundak..

FYI,Pantai Sundak ini dapat dicapai selama kurang lebih 2 jam dari kota Yogyakarta dengan menyewa mobil. Waktu kesini kami menyewa mobil sebesar 300ribu. Sudah termasuk bensin, tiket masuk ke pantai Sundak, dan juga ditunggu sama sang supir sampai puas. Sangat worth it.

Rasanya sayang kalau pantai seindah ini tidak dimanfaatkan dengan baik sebagai objek wisata. Tapi saya juga tidak rela kalau nasib pantai Sundak ini sama dengan nasib pantai lain yang daya tariknya semakin berkurangakibat ulah tangan wisatawan yang tidak menjaga keindahan objek wisata.

Untuk trip ke pantai ini, rasanya saya ingin mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Allah SWT yang atas kuasa-Nya telah menciptakan pantai yang begitu indah untuk kami berlibur melepaskan penat dan mencuci otak saya khususnya. This is the surprise from the God—begitu judul album foto pantai Sundak di account facebook Febry. Ya, memang bagai surprise rasanya menemukan pantai cantik dan masih sepi setelah melewati daerah pegunungan yang cukup memakan waktu.Apalagi ditengah cuaca buruk bulan Januari, kami ternyata bisa menikmati pantai seperti di bulan Juni yang cerah. Alhamdulillah..makasih ya Allah

Oh ya, dan juga untuk pak supir yang pendiam, yang tidak saya tahu namanya, yang telah berbaik hati mengantar dan menunggu kami meluapkan kebahagiaan di pantai Sundak, terimakasih!Matur nuwun sanged! Maaf ya sempet mikir yang aneh-aneh. Cheers! J

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s